Jakarta menghasilkan ribuan ton sampah setiap hari dan masih menghadapi tantangan dalam pengelolaannya. Di tengah meningkatnya volume sampah serta keterbatasan kapasitas tempat pemrosesan akhir (TPA), berbagai inovasi terus dikembangkan untuk mengurangi timbulan sampah sekaligus meningkatkan pemanfaatan kembali sumber daya dari limbah.
Salah satunya melalui teknologi Refuse Derived Fuel (RDF), yang mengolah sampah bernilai kalor tinggi menjadi bahan bakar alternatif bagi sektor industri. Selain membantu mengurangi jumlah sampah yang berakhir di landfill, RDF juga membuka peluang pemanfaatan sampah sebagai sumber energi alternatif.
Pendekatan ini menjadi bagian dari upaya mendorong ekonomi sirkular, di mana limbah tidak lagi dipandang sebagai residu yang harus dibuang, melainkan sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan kembali.
Untuk memahami penerapan teknologi tersebut secara langsung, mahasiswa Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Pertamina mengikuti kuliah lapangan ke RDF Plant Rorotan, Jakarta Utara.
Fasilitas ini merupakan salah satu pusat pengolahan sampah modern yang mengubah sampah bernilai kalor tinggi menjadi bahan bakar alternatif untuk mendukung kebutuhan energi sektor industri sekaligus mengurangi beban tempat pemrosesan akhir.
Selama kunjungan, mahasiswa mempelajari berbagai tahapan pengolahan sampah, mulai dari penerimaan material, proses pemilahan dan pencacahan, hingga produksi bahan bakar RDF. Peserta juga memperoleh penjelasan mengenai pengelolaan residu hasil pengolahan serta sistem operasional fasilitas yang dirancang untuk mengurangi jumlah sampah yang berakhir di tempat pemrosesan akhir.
Selain observasi lapangan, mahasiswa mengikuti sesi diskusi mengenai berbagai aspek pengelolaan RDF, termasuk dampak sosial dan ekonomi, tantangan pengelolaan sampah di kawasan perkotaan, penerapan konsep ekonomi sirkular, hingga kontribusi RDF dalam mendukung efisiensi energi dan pengurangan beban TPA.
Rifqi Fauzi selaku HSE Coordinator RDF Plant Rorotan menjelaskan bahwa teknologi RDF merupakan salah satu pendekatan yang mampu meningkatkan nilai guna sampah melalui pemanfaatannya sebagai sumber energi alternatif.
“Pengelolaan sampah tidak lagi hanya berfokus pada pembuangan, tetapi bagaimana sampah dapat dimanfaatkan kembali menjadi sumber daya yang bernilai. RDF menjadi salah satu solusi yang mendukung pengurangan timbulan sampah sekaligus pemanfaatan energi yang lebih berkelanjutan,” ujarnya.
Melalui fasilitas RDF Plant Rorotan, mahasiswa dapat melihat secara langsung bagaimana sampah yang sebelumnya berpotensi menjadi beban lingkungan diolah menjadi bahan bakar yang dapat dimanfaatkan oleh industri. Pengalaman ini memberikan gambaran nyata mengenai hubungan antara pengelolaan limbah, efisiensi sumber daya, dan kebutuhan energi yang semakin berkelanjutan.
Aprilleya Sri Handayani, salah satu peserta kuliah lapangan, mengungkapkan bahwa kunjungan tersebut membantunya memahami keterkaitan antara teori yang dipelajari di kelas dengan praktik yang diterapkan di lapangan.
“Melihat langsung proses pengolahan di RDF Plant Rorotan memberikan perspektif baru mengenai tantangan dan peluang pengelolaan sampah di Indonesia. Kami dapat memahami bagaimana teknologi dimanfaatkan untuk mengurangi sampah sekaligus menghasilkan manfaat energi,” ungkapnya.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh pemahaman teknis mengenai pengelolaan sampah berbasis energi, tetapi juga wawasan mengenai pentingnya inovasi dalam menciptakan sistem pengelolaan limbah yang lebih berkelanjutan.
Pengalaman lapangan tersebut memperlihatkan bagaimana teknologi dapat berperan dalam menjawab dua tantangan sekaligus, yakni pengurangan timbulan sampah dan penyediaan sumber energi alternatif yang lebih ramah lingkungan.
Kegiatan ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals atau SDGs), khususnya SDG 11 (Sustainable Cities and Communities) melalui peningkatan pemahaman mahasiswa terhadap inovasi pengelolaan sampah perkotaan yang mendukung terciptanya kota yang lebih bersih, tangguh, dan berkelanjutan.
Selain itu, kegiatan ini juga mendukung SDG 12 (Responsible Consumption and Production) melalui pengenalan prinsip ekonomi sirkular yang mendorong pemanfaatan kembali sumber daya dari limbah serta pengurangan timbulan sampah yang berakhir di tempat pemrosesan akhir. [MV]