energi bersih, tetapi juga oleh kemampuan mengelola sumber daya secara lebih berkelanjutan. Salah satu pendekatan yang kini semakin mendapat perhatian adalah pemanfaatan sampah menjadi energi baru terbarukan. Selain mengurangi beban lingkungan, langkah ini juga membuka peluang terciptanya ekonomi sirkular yang mampu menghasilkan nilai ekonomi sekaligus menekan emisi karbon.
Urgensi tersebut semakin relevan mengingat Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam pengelolaan sampah. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup (KLHK) melalui Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), Indonesia menghasilkan sekitar 71 juta ton sampah setiap tahun. Lebih dari 60% berasal dari rumah tangga, dengan komposisi terbesar berupa sisa makanan (41–60%) dan plastik (14–18%). Dari total sampah tersebut, sekitar 74% masih belum terkelola secara optimal sehingga berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA).
Sebagai bagian dari upaya memperkuat pemahaman mahasiswa terhadap isu keberlanjutan, Universitas Pertamina melalui Program Pembangunan Berkelanjutan menyelenggarakan kuliah umum bertajuk “Hukum Komutatif Aljabar dalam Mewujudkan Dekarbonisasi dan Transisi Energi di Indonesia: Manajemen Pengolahan Sampah dan Pemanfaatannya Menjadi Energi Baru Terbarukan” pada Selasa (23/6/2026). Kegiatan ini berlangsung secara luring di Auditorium Universitas Pertamina serta daring melalui Zoom Meeting, dan diikuti oleh 165 mahasiswa dari berbagai program studi.
Kuliah umum tersebut merupakan bagian dari mata kuliah kolaboratif yang diselenggarakan oleh Universitas Pertamina. Pendekatan pembelajaran multidisiplin ini dirancang untuk memperluas perspektif mahasiswa dalam memahami keterkaitan antara aspek lingkungan, sosial, kebijakan, dan teknologi dalam pembangunan berkelanjutan.
Hadir sebagai narasumber, Arief Noerhidayat, S.I.Kom., M.Sc., Managing Director PT Comestoarra Bentarra Noesantarra sekaligus anggota Masyarakat Energi Biomassa Indonesia dan Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia. Diskusi dipandu oleh Kiki Adi Kurnia, Ph.D., dosen Magister Sains Keberlanjutan Universitas Pertamina.
Dalam pemaparannya, Arief menjelaskan bahwa paradigma pengelolaan sampah perlu bergeser dari sekadar aktivitas pembuangan menjadi pengelolaan sumber daya yang bernilai. Menurutnya, berbagai jenis limbah memiliki potensi untuk diolah menjadi energi baru terbarukan apabila didukung teknologi, tata kelola, serta kolaborasi yang tepat.
Peserta juga diperkenalkan pada berbagai praktik pemanfaatan sampah menjadi energi melalui pendekatan ekonomi sirkular. Konsep ini menempatkan limbah sebagai material yang dapat dimanfaatkan kembali sehingga mampu menciptakan nilai tambah, mengurangi ketergantungan terhadap sumber daya baru, sekaligus berkontribusi pada penurunan emisi karbon.
Sesi diskusi berlangsung interaktif dengan mengulas beragam tantangan implementasi pengelolaan sampah di Indonesia, mulai dari kesiapan teknologi, regulasi, model bisnis, hingga pentingnya partisipasi masyarakat. Melalui pembahasan tersebut, mahasiswa memperoleh gambaran mengenai peluang inovasi berbasis limbah yang berpotensi mendukung percepatan transisi energi nasional.
"Transisi energi tidak hanya bergantung pada pengembangan teknologi, tetapi juga pada cara kita memandang persoalan lingkungan. Sampah yang selama ini dianggap sebagai beban sesungguhnya dapat menjadi sumber daya apabila dikelola dengan pendekatan yang tepat. Di sinilah inovasi lahir, ketika kita mampu mengubah tantangan menjadi solusi yang memberikan nilai ekonomi, manfaat sosial, sekaligus mendukung keberlanjutan lingkungan," ujar Arief.
Melalui kuliah umum ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh pemahaman mengenai keterkaitan antara pengelolaan sampah, dekarbonisasi, dan energi baru terbarukan, tetapi juga diajak melihat bahwa penyelesaian persoalan lingkungan membutuhkan kolaborasi lintas disiplin. Perspektif tersebut menjadi bekal penting bagi mahasiswa untuk mengembangkan solusi yang adaptif terhadap kebutuhan industri sekaligus berkontribusi pada agenda pembangunan berkelanjutan.
Penyelenggaraan kuliah umum ini juga mencerminkan komitmen Universitas Pertamina dalam menghadirkan pembelajaran yang berdampak dan relevan dengan tantangan global melalui kolaborasi antara akademisi dan praktisi. Selain memperkuat kompetensi mahasiswa di bidang keberlanjutan dan transisi energi, kegiatan ini turut mendukung Asta Cita ke-2 melalui penguatan kemandirian energi nasional berbasis energi bersih.
Sejalan dengan itu, kegiatan ini juga berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 11 (Sustainable Cities and Communities) melalui peningkatan pemahaman mengenai pengelolaan sampah yang berkelanjutan dan penerapan ekonomi sirkular untuk menciptakan kota yang lebih tangguh. Pembahasan mengenai pemanfaatan sampah menjadi energi baru terbarukan turut mendukung SDG 7 (Affordable and Clean Energy), sementara upaya pengurangan emisi melalui pengelolaan limbah yang lebih optimal selaras dengan SDG 13 (Climate Action). [AN]