Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Indonesia memiliki potensi panas bumi sekitar 24 gigawatt, terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat. Potensi tersebut menjadi modal penting dalam pengembangan energi bersih nasional sekaligus meningkatkan kebutuhan akan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi geosains dan pengalaman lapangan.
Di tengah upaya percepatan transisi energi ini dan kebutuhan akan talenta geosains yang memahami karakteristik bawah permukaan, Program Studi Teknik Geofisika Universitas Pertamina menggelar Kuliah Lapangan 2026 di kawasan panas bumi PT Geo Dipa Energi (Persero) Unit Patuha, Ciwidey, Bandung, pada 13–21 Juli 2026. Selama sembilan hari, sebanyak 50 mahasiswa semester enam mengikuti tahapan eksplorasi panas bumi, mulai dari akuisisi data geofisika, pengolahan data, hingga interpretasi kondisi bawah permukaan.
Melalui praktik di kawasan Gunung Patuha, mahasiswa melakukan survei menggunakan berbagai metode geofisika untuk memetakan struktur bawah permukaan, mengidentifikasi sistem panas bumi, serta menganalisis karakteristik geologi vulkanik. Data yang diperoleh kemudian diolah dan diinterpretasikan sebagaimana tahapan eksplorasi di industri, sehingga mahasiswa memahami bagaimana hasil pengukuran geofisika dimanfaatkan dalam pengembangan lapangan panas bumi.
Direktur Pengembangan Niaga dan Eksplorasi PT Geo Dipa Energi (Persero), Ilen Kardani, menilai pengalaman lapangan menjadi bagian penting dalam membentuk geosaintis yang mampu menghubungkan teori dengan praktik eksplorasi.
"Penguasaan geologi, geokimia, dan geofisika harus dibangun melalui pengalaman lapangan. Pendekatan ini melatih mahasiswa berpikir kritis, mengambil keputusan berbasis data, serta menyiapkan talenta geosains yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan industri," ujar Ilen.
Ilen menambahkan, kegiatan tersebut tidak hanya memberikan pembelajaran langsung di lapangan, tetapi juga menghasilkan data geofisika yang dapat menjadi referensi awal dalam memahami karakteristik bawah permukaan kawasan Gunung Patuha.
"Pengalaman lapangan diharapkan menginspirasi lahirnya generasi profesional yang berintegritas, adaptif terhadap perkembangan teknologi, dan berkontribusi bagi pengembangan ilmu kebumian serta industri energi Indonesia. Kegiatan ini juga menghasilkan data geofisika sebagai referensi awal eksplorasi panas bumi di Gunung Patuha," tambahnya.
Kuliah lapangan ini memberikan gambaran menyeluruh mengenai proses eksplorasi panas bumi, mulai dari pengambilan data hingga interpretasi hasil pengukuran. Mahasiswa juga memperoleh pemahaman mengenai penerapan geosains dalam pengembangan energi terbarukan sekaligus mengenal standar kerja yang digunakan di industri panas bumi.
Melalui kolaborasi dengan PT Geo Dipa Energi (Persero), Universitas Pertamina menghadirkan pengalaman belajar yang terhubung dengan kebutuhan industri. Pendekatan ini menjadi bagian dari semangat UPER Berdampak, di mana pembelajaran tidak berhenti di ruang kelas, tetapi memberikan pengalaman nyata yang membekali mahasiswa menghadapi tantangan eksplorasi energi serta kebutuhan sektor panas bumi di Indonesia.
Kegiatan ini mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 7: Energi Bersih dan Terjangkau, melalui penguatan kapasitas sumber daya manusia yang mendukung pengembangan energi panas bumi sebagai salah satu sumber energi bersih nasional. Selain itu, kegiatan ini selaras dengan Asta Cita ke-4 yang menekankan penguatan sumber daya manusia melalui penguasaan sains, teknologi, dan pendidikan. [MP]