Tim APAJALAH tidak dibentuk melalui persiapan panjang. Nazwa Adelia Putri dan Hasna Az-zahra Khoirunnisa, mahasiswa Program Studi Teknik Logistik Universitas Pertamina (UPER), dipertemukan oleh dosen untuk mengikuti Poster Competition ISLI CAMP 2026 ketika tenggat pengumpulan karya sudah semakin dekat. Nama tim pun dibuat secara spontan.
Meski dibentuk menjelang tenggat pengumpulan, Nazwa dan Hasna berhasil merumuskan gagasan tentang rantai pasok makanan halal yang tidak hanya memperhatikan aspek kehalalan, tetapi juga keberlanjutan. Gagasan tersebut dituangkan dalam karya berjudul “Membangun Rantai Pasok Makanan Halal yang Berkelanjutan” dan berhasil meraih Juara 1 Poster Competition ISLI CAMP 2026 pada 26–27 Agustus 2026, bersaing dengan puluhan tim dari berbagai perguruan tinggi.
Gagasan mereka berangkat dari persoalan yang ditemui dalam pengembangan pariwisata halal. Bagi Nazwa dan Hasna, daya tarik destinasi bukan satu-satunya hal yang menentukan keberlanjutan sebuah desa wisata. Di balik pengalaman wisatawan, terdapat rantai aktivitas yang menghubungkan petani dan peternak, pelaku usaha, penyedia akomodasi dan makanan, hingga konsumen.
Salah satu bagian penting dari rantai tersebut adalah pangan. Bahan makanan perlu diperoleh dan didistribusikan dengan memperhatikan prinsip halal, tetapi pada saat yang sama pengelolaannya juga perlu mempertimbangkan efisiensi distribusi dan dampak terhadap lingkungan.
Persoalan tersebut kemudian mereka lihat melalui studi kasus Desa Wisata Alamendah, Kabupaten Bandung. Dari pemetaan yang dilakukan, mereka menemukan sejumlah tantangan dalam pengembangan rantai pasok makanan halal, mulai dari keterbatasan pemahaman masyarakat mengenai prinsip rantai pasok halal, belum optimalnya regulasi teknis di tingkat lokal, kompetensi pemangku kepentingan pariwisata yang masih perlu diperkuat, hingga promosi pariwisata halal yang belum optimal.
Untuk memahami hubungan antarpermasalahan tersebut, Tim APAJALAH menggunakan metode Decision Making Trial and Evaluation Laboratory (DEMATEL). Metode ini membantu mereka memetakan hubungan sebab-akibat dan menentukan faktor yang menjadi penggerak utama dalam sistem.
Hasil analisis tersebut mengidentifikasi lima faktor penggerak yang kemudian menjadi dasar penyusunan solusi. Tim selanjutnya menggunakan pendekatan Theory of Inventive Problem Solving (TRIZ) untuk mengidentifikasi berbagai kontradiksi dalam sistem dan mencari alternatif penyelesaiannya. Dari proses tersebut, mereka merumuskan 14 prinsip inovatif yang kemudian disusun menjadi sembilan strategi implementasi.
Proses tersebut dilakukan dalam waktu yang relatif singkat. Hasna mengaku, sejak awal dirinya dan Nazwa bahkan tidak banyak memiliki waktu untuk mempersiapkan karya.
“Sebenarnya, Tim APAJALAH terbentuk dalam waktu yang cukup singkat. Kami dipertemukan oleh dosen untuk mengikuti lomba ini, bahkan nama tim pun dibuat secara spontan. Dengan waktu persiapan yang terbatas dan tenggat pengumpulan karya yang sudah dekat, kami tidak menyangka bisa meraih Juara 1 ISLI CAMP 2026 di antara puluhan tim dari berbagai perguruan tinggi. Terima kasih banyak kepada Ibu Yelita atas kesempatan dan bimbingan yang telah diberikan kepada kami selama mengikuti lomba ini,” ujar Hasna.
Alih-alih hanya memikirkan bagaimana bahan pangan sampai ke konsumen, keduanya kemudian merancang sistem yang memungkinkan aliran bahan dan material tetap berjalan setelah proses konsumsi. Konsep tersebut menjadi dasar dari rancangan rantai pasok sirkular yang mereka tawarkan.
Rancangan pertama adalah rantai pangan halal terintegrasi. Dalam sistem ini, petani dan peternak lokal memasok bahan pangan yang telah memenuhi ketentuan halal kepada Kopontren Al-Ittifaq atau BUMDes. Bahan tersebut kemudian didistribusikan kepada mitra di wilayah perkotaan, seperti hotel dan supermarket, maupun kepada penginapan dan restoran di kawasan desa wisata.
Aliran tersebut kemudian dilengkapi dengan konsep reverse logistics. Armada yang mengantarkan bahan pangan ke wilayah perkotaan dirancang untuk tidak kembali dalam kondisi kosong. Dalam perjalanan kembali, armada dapat membawa sisa bahan dapur yang telah dipilah dan ditempatkan dalam boks lipat kedap udara menuju BUMDes.
Sisa bahan tersebut selanjutnya dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan pakan maupun pupuk organik. Dengan pola tersebut, distribusi tidak hanya bergerak dari desa menuju kota, tetapi juga memiliki aliran balik yang memungkinkan material yang masih bernilai untuk kembali dimanfaatkan dalam aktivitas produksi masyarakat.
Konsep berikutnya adalah edu-tourism dan valorisasi pangan. Wisatawan dapat dilibatkan dalam kegiatan edukasi mengenai pengelolaan food loss atau susut pangan. Melalui paket wisata berbasis STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics), wisatawan diajak mengenal proses pengolahan bahan organik menjadi produk bernilai tambah, seperti selai dan pupuk.
Ketiga rancangan tersebut mempertemukan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan dalam satu sistem. Dari sisi masyarakat, model ini diarahkan untuk meningkatkan literasi mengenai rantai pasok halal sekaligus membuka ruang pemberdayaan bagi pelaku usaha lokal. Dari sisi lingkungan, pengadaan bahan pangan dari sumber lokal dan pemanfaatan kembali susut pangan diharapkan dapat mengurangi perjalanan distribusi yang tidak diperlukan serta menekan timbulan limbah makanan.
Sementara dari sisi ekonomi, rancangan tersebut membuka peluang untuk memperkuat aktivitas UMKM, meningkatkan daya saing desa wisata, dan menciptakan sumber pendapatan yang lebih berkelanjutan bagi masyarakat serta BUMDes.
Pendekatan tersebut juga berkaitan dengan sejumlah target Sustainable Development Goals (SDGs). Pemanfaatan kembali susut pangan dan pengembangan pupuk organik mendukung SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Penguatan aktivitas ekonomi masyarakat desa sejalan dengan SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, sedangkan pengelolaan pangan dalam rantai pasok turut berkaitan dengan SDG 2 tentang Tanpa Kelaparan.
Dalam konteks pembangunan nasional, gagasan tersebut sejalan dengan semangat Asta Cita, terutama penguatan kemandirian pangan dan pengembangan ekonomi hijau, serta penciptaan lapangan kerja dan kewirausahaan. Pengembangan desa wisata melalui penguatan rantai pasok lokal menjadi salah satu ruang yang dapat mempertemukan aspek ekonomi, lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat.
Bagi Nazwa dan Hasna, kemenangan di ISLI CAMP 2026 menjadi bagian dari proses belajar yang dimulai dari situasi yang tidak sepenuhnya ideal. Mereka harus menyatukan pemikiran, memahami persoalan, memilih pendekatan analisis, hingga merumuskan solusi dalam waktu yang terbatas.
Dari sebuah tim yang dibentuk secara spontan, keduanya akhirnya membawa gagasan tentang bagaimana rantai pasok makanan halal dapat dirancang secara lebih sirkular. Bukan hanya tentang bagaimana bahan pangan bergerak dari satu titik ke titik lain, tetapi juga bagaimana setiap bagian dari rantai tersebut dapat kembali memberi nilai bagi masyarakat dan lingkungan. [RF]