Pertamina mencatatkan pengurangan emisi sebesar 2,27 juta ton CO₂ ekuivalen (MMtCO₂e) sepanjang 2025, yang terutama didorong oleh efisiensi energi, pengembangan energi hijau, pengurangan loss, serta penggunaan bahan bakar rendah karbon. Capaian tersebut menjadi salah satu gambaran bagaimana keberlanjutan semakin terintegrasi dalam strategi bisnis perusahaan energi.
Transformasi tersebut menjadi salah satu topik yang dipelajari mahasiswa Program Magister Sustainability Universitas Pertamina (UPER) dalam Mata Kuliah Transisi Keberlanjutan Global, yang menghadirkan SVP Business Sustainability PT Pertamina (Persero), Wenny Ipmawan. Dalam sesi bertajuk “Energizing Today, Sustaining Tomorrow: Pertamina’s Transformation towards Sustainable Future”, mahasiswa diajak memahami bagaimana perusahaan merespons tantangan transisi energi dan keberlanjutan dalam konteks bisnis.
Menurut Wenny, perubahan iklim, dinamika kebijakan global, perkembangan teknologi, tekanan konsumen, hingga risiko reputasi telah mendorong perubahan dalam cara perusahaan menciptakan nilai. Orientasi bisnis tidak lagi hanya berfokus pada kepentingan pemegang saham, tetapi juga pada penciptaan nilai jangka panjang bagi berbagai pemangku kepentingan. Dalam konteks sektor energi, perubahan tersebut menuntut perusahaan untuk mampu menyeimbangkan berbagai kepentingan yang saling berkaitan.
“Transisi energi bukanlah tantangan yang berdiri sendiri. Kebijakan, teknologi, pembiayaan, dan penerimaan masyarakat saling berkaitan. Karena itu, Indonesia perlu menjaga keseimbangan antara ketahanan energi, keterjangkauan energi, dan keberlanjutan agar kebutuhan energi tetap terpenuhi sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi dan transisi menuju energi rendah karbon,” ujar Wenny.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Pertamina menjalankan Dual Growth Strategy dengan memperkuat bisnis eksisting sekaligus mengembangkan bisnis rendah karbon, mulai dari biofuel, energi hijau, panas bumi, CCS/CCUS, baterai dan kendaraan listrik, hingga hidrogen, dengan aspirasi menuju Net Zero Emission pada 2060 atau lebih cepat. Upaya ini diperkuat melalui sepuluh Sustainability Focus Areas dan 36 inisiatif ESG pada 2026, yang terdiri atas enam program dekarbonisasi, 19 program ESG, serta 11 proyek bisnis rendah karbon. Di tengah perubahan pasar, teknologi, regulasi, geopolitik, dan risiko iklim, strategi tersebut juga menuntut kemampuan organisasi untuk terus beradaptasi dan menghadapi ketidakpastian.
“Masa depan tidak hanya memiliki satu jalur. Perencanaan skenario, strategi adaptif, dan investasi pada kapabilitas masa depan membantu para pemimpin menghadapi ketidakpastian serta menerjemahkan ambisi menjadi tindakan,” jelasnya.
Bagi mahasiswa Magister Sustainability UPER, pembelajaran tersebut memberikan gambaran nyata mengenai bagaimana prinsip keberlanjutan diterapkan dalam proses pengambilan keputusan di industri energi. Mahasiswa tidak hanya mempelajari persoalan lingkungan, tetapi juga memahami keterkaitannya dengan strategi bisnis, perkembangan teknologi, pembiayaan, tata kelola, serta dinamika sosial. Perspektif lintas aspek inilah yang menjadi dasar penting untuk membangun kemampuan berpikir sistemik dalam menghadapi tantangan keberlanjutan yang semakin kompleks.
“Tantangan keberlanjutan membutuhkan pendekatan lintas disiplin. Transformasi berkelanjutan tidak dapat dilakukan secara sendiri-sendiri, sehingga kolaborasi lintas bidang menjadi penting untuk menjawab kompleksitas transisi energi, mempercepat inovasi, dan menciptakan dampak yang berkelanjutan,” tutur Wenny.
Pembelajaran ini turut mencerminkan semangat UPER Berdampak melalui penyelenggaraan pendidikan yang menghubungkan pengetahuan akademik dengan tantangan nyata industri dan masyarakat.
Penguatan pemahaman mahasiswa mengenai transisi energi, dekarbonisasi, dan keberlanjutan sejalan dengan SDGs 4: Quality Education (Pendidikan Berkualitas), SDGs 7: Affordable and Clean Energy (Energi Bersih dan Terjangkau), serta SDGs 13: Climate Action (Penanganan Perubahan Iklim). Upaya tersebut juga relevan dengan Asta Cita ke-4, yang menempatkan penguatan pembangunan sumber daya manusia, sains, teknologi, dan pendidikan sebagai salah satu prioritas pembangunan nasional.
Tentang Master of Science in Sustainability Universitas Pertamina
Program Master of Science in Sustainability Universitas Pertamina dirancang untuk mempersiapkan profesional dan calon pemimpin yang mampu menjawab tantangan keberlanjutan secara multidisiplin. Program ini memiliki dua peminatan, yaitu Green Technology dan Nature-Based Solutions, dengan sistem pembelajaran hybrid yang mengintegrasikan perspektif akademik, praktik industri, serta isu keberlanjutan terkini. Informasi dan pendaftaran dapat diakses melalui graduate.universitaspertamina.ac.id. [IH]