Kolaborasi tersebut mempertemukan perspektif akademik dan kebutuhan industri melalui pengembangan studi kasus berdasarkan permasalahan dan data yang diberikan PT Sigma Cipta Utama. Melalui studi kasus tersebut, tim Universitas Pertamina menerapkan konsep manajemen risiko yang dipelajari dalam Program Studi Sains Aktuaria untuk menganalisis persoalan yang relevan dengan lingkungan industri energi.
Sebelum pengembangan analisis, tim Universitas Pertamina dan PT Sigma Cipta Utama melakukan diskusi untuk mengidentifikasi permasalahan yang dapat dikaji melalui pendekatan aktuaria. Permasalahan tersebut kemudian dikembangkan menjadi studi kasus, sehingga pembelajaran tidak berhenti pada pemahaman konsep, tetapi diarahkan pada penerapannya dalam menghadapi persoalan nyata di industri.
Proses analisis dilanjutkan melalui pertemuan kedua di PT Sigma Cipta Utama. Pada kesempatan tersebut, tim Universitas Pertamina memaparkan hasil analisis berdasarkan data yang diberikan perusahaan. Pembahasan kemudian dilanjutkan dengan pendalaman materi manajemen risiko untuk melihat keterkaitan antara pendekatan aktuaria dengan kebutuhan pengelolaan risiko di industri.
Ketua Program Studi Sains Aktuaria Universitas Pertamina, Tasmi, S.Si., M.Si., mengatakan bahwa kolaborasi dengan industri menjadi bagian penting dalam mengembangkan penerapan keilmuan aktuaria, khususnya dalam pengelolaan risiko di sektor energi.
“Kegiatan ini memperkuat komitmen kami dalam mengembangkan keilmuan aktuaria yang berfokus pada manajemen risiko di sektor energi. Melalui studi kasus bersama industri, kami dapat menghubungkan konsep yang dipelajari di lingkungan akademik dengan persoalan yang dihadapi dalam praktik,” ujarnya.
Menurutnya, keterlibatan industri juga memberikan ruang bagi dosen dan mahasiswa untuk memahami bagaimana suatu persoalan dapat diterjemahkan ke dalam pendekatan analisis risiko. Sementara bagi industri, hasil analisis dapat menjadi perspektif tambahan dalam memahami risiko berdasarkan pendekatan yang lebih terukur.
“Bagi sivitas akademika, kegiatan ini memberikan pengalaman untuk memahami persoalan industri melalui pendekatan aktuaria dan manajemen risiko. Bagi industri, hasil analisis memberikan perspektif mengenai risiko yang dapat dihitung dan menjadi masukan untuk mendukung pengelolaan risiko ke depan,” tambah Tasmi.
Kolaborasi akademik dan industri tersebut menunjukkan bahwa keilmuan aktuaria memiliki ruang penerapan yang lebih luas, termasuk dalam mendukung kebutuhan pengelolaan risiko di sektor energi. Penggunaan pendekatan berbasis data juga membuka peluang bagi pengembangan analisis yang dapat membantu organisasi memahami ketidakpastian dan mempertimbangkan langkah mitigasi secara lebih terukur.
Penerapan keilmuan tersebut turut mendukung SDG 9: Industri, Inovasi dan Infrastruktur, khususnya melalui penguatan inovasi dan penerapan pengetahuan berbasis data untuk menjawab kebutuhan industri. Inisiatif ini juga sejalan dengan Asta Cita ke-4 melalui penguatan sumber daya manusia, sains, teknologi, pendidikan, serta riset dan inovasi.
Sebagai bagian dari semangat UPER Berdampak, Universitas Pertamina terus mendorong keterhubungan antara pendidikan, riset, dan kebutuhan industri. Penerapan analisis risiko berbasis aktuaria menjadi salah satu upaya untuk memperluas ruang penerapan keilmuan sekaligus mempersiapkan sivitas akademika menghadapi persoalan nyata di sektor energi. [MP]