Taekwondo menjadi salah satu olahraga bela diri dengan jangkauan global yang luas. Sekitar 70 juta orang di lebih dari 200 negara menekuni taekwondo, menunjukkan bahwa olahraga asal Korea Selatan tersebut masih memiliki basis praktisi yang besar di berbagai belahan dunia.
Minat tersebut juga terlihat di kalangan generasi muda Indonesia. Dalam Invitasi Cabang Bela Diri Taekwondo Tingkat Provinsi DKI Jakarta 2026, sebanyak 135 peserta ambil bagian dalam kompetisi yang digelar pada 8–10 September 2026. Salah satunya adalah Moch. Sugilaksono atau Ogi, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Pertamina, yang berhasil meraih Juara 3.
Bagi Ogi, taekwondo bukan hanya olahraga fisik, tetapi juga ruang untuk melatih kedisiplinan, fokus, dan konsistensi di tengah aktivitasnya sebagai mahasiswa.
“Menurut saya, taekwondo menarik karena bukan hanya soal fisik atau menghadapi lawan. Kita juga belajar disiplin, mengontrol diri, dan tetap fokus dalam berbagai situasi,” ungkap Ogi.
Kompetisi yang diselenggarakan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) DKI Jakarta di Gelanggang Olahraga Jakarta Pusat ini mengacu pada peraturan World Taekwondo. Para peserta dituntut menguasai teknik, strategi, serta kemampuan membaca lawan dan mengambil keputusan secara cepat.
“Saat bertanding, kita harus bisa membaca lawan dan cepat menyesuaikan strategi. Dari kompetisi ini saya jadi tahu kemampuan saya sudah sampai mana dan apa yang masih harus diperbaiki,” jelasnya.
Di balik keberhasilannya meraih Juara 3, Ogi juga harus membagi waktu antara kegiatan akademik dan latihan. Proses tersebut menuntut kemampuan mengatur prioritas sekaligus menjaga komitmen terhadap target yang ingin dicapai.
Taekwondo tidak hanya melatih kemampuan bertanding, tetapi juga membentuk disiplin, sportivitas, pengendalian diri, dan ketahanan menghadapi tekanan. Nilai-nilai tersebut membuat taekwondo tetap relevan bagi generasi muda sebagai sarana menjaga kebugaran sekaligus mengembangkan karakter. Bagi Ogi, pengalaman kompetisi ini menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kemampuan.
“Saya bersyukur bisa mendapatkan Juara 3, tetapi saya tidak ingin berhenti di sini. Hasil ini justru menjadi motivasi untuk latihan lebih konsisten dan memperbaiki kekurangan,” tutur Ogi.
Sebagai mahasiswa Program Studi Komunikasi Universitas Pertamina, pengalaman Ogi menunjukkan bahwa pengembangan kompetensi dapat berlangsung tidak hanya di dalam ruang kelas. Kemampuan beradaptasi, membaca situasi, menjaga fokus, dan mengelola tekanan juga menjadi bekal yang relevan dalam kehidupan akademik maupun profesional.
Prestasi tersebut turut mencerminkan semangat UPER Berdampak dalam mendorong mahasiswa Universitas Pertamina untuk mengembangkan potensi melalui pengalaman akademik dan nonakademik. Proses pendidikan tidak hanya berlangsung melalui perkuliahan, tetapi juga melalui kegiatan yang membangun karakter, keterampilan, dan daya juang mahasiswa.
Keterlibatan mahasiswa dalam olahraga juga sejalan dengan SDGs 3: Good Health and Well-being (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui penguatan aktivitas fisik dan gaya hidup aktif, serta SDGs 4: Quality Education (Pendidikan Berkualitas) melalui pengembangan keterampilan dan potensi mahasiswa secara menyeluruh.
Hal tersebut juga sejalan dengan Asta Cita ke-4, yaitu memperkuat pembangunan sumber daya manusia (SDM), sains, teknologi, pendidikan, kesehatan, prestasi olahraga, serta penguatan peran perempuan, pemuda, dan penyandang disabilitas. Keterlibatan mahasiswa dalam kompetisi olahraga menjadi salah satu bentuk pengembangan potensi generasi muda melalui pembinaan prestasi, kedisiplinan, dan karakter. [IH]