ID / EN
Berita Kampus

Universitas Pertamina Perkuat Literasi Mitigasi Gempa dan Tsunami Bersama BMKG


Published by: Universitas Pertamina Selasa, 26 Mei 2026
Dibaca: 19 kali
Sepanjang 2024, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat 7.358 kejadian gempa bumi di Indonesia. Dari jumlah tersebut, 743 gempa dirasakan masyarakat dan 20 kejadian menimbulkan kerusakan.
Tingginya aktivitas kegempaan tersebut menunjukkan bahwa kesiapsiagaan bencana tidak hanya bergantung pada teknologi pemantauan dan sistem peringatan dini, tetapi juga pada pemahaman masyarakat dalam merespons situasi darurat secara tepat.

Kebutuhan akan literasi kebencanaan itu menjadi salah satu fokus dalam Seminar Mitigasi Bencana Alam Gempa Bumi dan Tsunami yang diselenggarakan Program Studi Teknik Geofisika Universitas Pertamina bersama BMKG dalam rangka Geophysics Day 4.0 pada Selasa, 5 Mei 2026. Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Griya Legita Universitas Pertamina tersebut diikuti oleh 120 peserta dari kalangan mahasiswa dan pelajar.

Seminar menghadirkan Dr. Bayu Pranata, S.Si., M.Si., dari Direktorat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG sebagai narasumber utama. Dalam pemaparannya, peserta memperoleh pemahaman mengenai karakteristik gempa dan tsunami di Indonesia, sistem peringatan dini, prosedur evakuasi mandiri, serta langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk mengurangi risiko saat terjadi bencana.

Kegiatan ini juga menjadi ruang diskusi mengenai pentingnya membangun budaya sadar bencana sejak dini. Selain memahami aspek teknis mitigasi, peserta diajak melihat bahwa kesiapsiagaan merupakan tanggung jawab bersama yang memerlukan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, lembaga kebencanaan, institusi pendidikan, hingga masyarakat.

Dr. Bayu Pranata menjelaskan bahwa perkembangan teknologi sistem peringatan dini perlu diimbangi dengan peningkatan literasi kebencanaan dan kesiapsiagaan masyarakat. Menurutnya, efektivitas teknologi tidak hanya bergantung pada kecanggihan sistem, tetapi juga pada kemampuan masyarakat dalam memahami dan merespons informasi yang diterima.

“Teknologi sistem peringatan dini yang terus kami perbarui di BMKG tidak akan memberikan hasil maksimal jika tidak dibarengi dengan literasi kebencanaan dan kesiapsiagaan masyarakat. Kemampuan merespons peringatan secara cepat menjadi kunci utama dalam menyelamatkan nyawa,” ujar Dr. Bayu.

Sementara itu, Dosen Teknik Geofisika Universitas Pertamina, Sari Widyanti, M.En., menilai perguruan tinggi memiliki peran penting dalam membangun kesadaran mitigasi bencana di kalangan generasi muda. Menurutnya, pemahaman mengenai risiko bencana perlu menjadi bagian dari pengetahuan yang dimiliki mahasiswa, terutama di negara yang memiliki tingkat aktivitas seismik tinggi seperti Indonesia.

“Perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam membangun budaya sadar bencana. Melalui Geophysics Day 4.0, harapan kami mahasiswa tidak hanya memperoleh pemahaman teoritis, tetapi juga wawasan praktis untuk membentuk budaya tanggap bencana sejak dini,” jelas Sari.

Melalui Geophysics Day 4.0, Universitas Pertamina terus mendorong penguatan literasi kebencanaan dan kesiapsiagaan masyarakat melalui kolaborasi dengan lembaga profesional. 

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membangun generasi yang lebih tangguh dalam menghadapi risiko bencana sekaligus memahami pentingnya mitigasi sebagai langkah perlindungan terhadap keselamatan bersama.

Inisiatif tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) poin 11 tentang Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan melalui peningkatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi risiko bencana dan mendukung terwujudnya komunitas yang lebih aman, tangguh, dan berkelanjutan. [MP]
Thumbnail Thumbnail
Bagikan:
Bagikan ke WhatsApp
Bagikan ke Facebook
Bagikan ke X
Bagikan ke Telegram
Bagikan ke LinkedIn

Tinggalkan Balasan
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalan UU ITE

© 2026 Universitas Pertamina.
All rights reserved