Kemampuan membaca jejak sejarah bumi dalam sepotong batuan menjadi bekal yang mengantarkan dua mahasiswa Universitas Pertamina meraih prestasi di tingkat nasional. Giza Unika Anantasa dan Akhdan Novrizal Tumanggor, mahasiswa Program Studi Teknik Geologi, berhasil meraih Juara 2 pada kompetisi Core Description dalam ajang IPA Convex 2026 yang diselenggarakan oleh Indonesian Petroleum Association (IPA) pada 20–22 Mei 2026 di ICE BSD, Tangerang.
Prestasi tersebut diraih melalui kemampuan keduanya dalam menganalisis dan menginterpretasikan batuan inti (core), kompetensi yang menjadi salah satu fondasi penting dalam kegiatan eksplorasi energi dan menunjukkan bagaimana Universitas Pertamina terus menghadirkan pembelajaran yang memberikan dampak nyata bagi pengembangan kompetensi mahasiswa dan kebutuhan industri energi.
Kompetisi Core Description menguji kemampuan peserta dalam mendeskripsikan dan menginterpretasikan sampel batuan inti untuk memahami karakteristik geologi bawah permukaan. Kompetensi ini berperan penting dalam industri migas karena membantu geolog mengidentifikasi potensi reservoir serta merekonstruksi kondisi geologi berdasarkan data batuan yang tersedia.
Bagi Giza, keikutsertaan dalam kompetisi tersebut berawal dari ketertarikannya pada bidang sedimentologi, stratigrafi, dan analisis batuan inti. Selain mengasah kemampuan interpretasi geologi, IPA Convex juga menjadi kesempatan untuk merasakan atmosfer kompetisi yang mencerminkan kebutuhan industri energi.
“IPA Convex memberikan kesempatan bagi kami untuk menguji kemampuan yang selama ini dipelajari di perkuliahan dalam lingkungan kompetisi yang dekat dengan kebutuhan industri. Itu yang membuat kami tertarik untuk mencoba,” ujarnya.
Untuk menghadapi kompetisi tersebut, Giza dan Akhdan menjalani persiapan intensif selama beberapa minggu. Mereka mempelajari kembali teknik deskripsi core, identifikasi struktur sedimen, interpretasi lingkungan pengendapan, hingga berbagai studi kasus yang pernah ditemui selama praktikum. Persiapan tersebut diperkuat melalui diskusi rutin bersama pembimbing, Yan Bachtiar, guna mempertajam kemampuan analisis dan cara berpikir ilmiah.
Menurut Yan, capaian tersebut merupakan hasil dari konsistensi dan semangat belajar yang ditunjukkan keduanya selama masa persiapan.
“Giza dan Akhdan sangat amazing dalam belajar. Mereka sangat semangat mengikuti rangkaian persiapan lomba. Ini tidak lepas dari value Be Global Leaders yang telah ditanamkan oleh dosen UPER sejak semester awal,” ujar Yan.
Bekal tersebut menjadi modal penting saat kompetisi berlangsung. Dalam ajang Core Description, peserta dituntut mengaplikasikan berbagai kompetensi geologi yang dipelajari selama perkuliahan, mulai dari identifikasi litologi, analisis struktur sedimen, hingga interpretasi lingkungan pengendapan. Seluruh proses dilakukan berdasarkan pengamatan langsung terhadap sampel batuan inti yang merepresentasikan kondisi bawah permukaan bumi.
Tantangan semakin terasa karena seluruh rangkaian analisis harus diselesaikan dalam waktu yang terbatas. Dalam tiga jam, peserta harus mengamati setiap lapisan batuan inti, mengidentifikasi jenis batuan dan karakteristik reservoir, menyusun interpretasi geologi, hingga menyajikan hasil analisis dalam bentuk poster ilmiah berukuran A1.
“Kami harus mengolah banyak informasi dalam waktu yang terbatas dan memastikan setiap interpretasi memiliki dasar ilmiah yang kuat. Di situ kemampuan berpikir kritis, ketelitian, dan kerja sama tim benar-benar diuji,” jelas Giza.
Menurutnya, keberhasilan tim tidak hanya ditentukan oleh penguasaan materi, tetapi juga komunikasi yang efektif dan pembagian peran yang jelas. Setiap hasil pengamatan didiskusikan bersama sebelum ditetapkan sebagai kesimpulan akhir untuk memastikan interpretasi yang disusun tetap objektif dan dapat dipertanggungjawabkan.
Prestasi tersebut diperoleh melalui proses penilaian yang mengacu pada standar industri. Menurut Yan, dewan juri kompetisi Core Description berasal dari kalangan profesional geosains dan eksplorasi yang berpengalaman di perusahaan energi global, seperti ExxonMobil. Hal tersebut membuat setiap interpretasi peserta dinilai tidak hanya dari sisi akademik, tetapi juga relevansinya terhadap praktik di dunia kerja.
“Karena yang menjadi juri adalah para profesional yang sehari-hari berkecimpung di bidang eksplorasi, setiap interpretasi peserta diuji tidak hanya dari sisi akademik, tetapi juga relevansinya terhadap praktik industri. Oleh karena itu, prestasi ini menunjukkan bahwa kompetensi yang dimiliki mahasiswa mampu bersaing dan diakui oleh kalangan profesional,” tambahnya.
Bagi Giza, pengalaman mengikuti IPA Convex memberikan gambaran mengenai standar kompetensi yang dibutuhkan di industri energi. Seorang geolog, menurutnya, tidak hanya dituntut memahami teori, tetapi juga mampu bekerja dengan data, berpikir logis, dan mengambil keputusan berdasarkan bukti yang tersedia di lapangan.
Ia pun mengajak mahasiswa Universitas Pertamina untuk berani mengikuti berbagai kompetisi akademik maupun profesional karena proses pembelajaran yang diperoleh selama kompetisi menjadi bekal penting dalam pengembangan diri.
“Jangan takut memulai meskipun merasa belum sepenuhnya siap. Setiap proses akan memberikan pengalaman dan pembelajaran yang berharga untuk pengembangan diri ke depan,” tutupnya.
Prestasi yang diraih Giza dan Akhdan menunjukkan bahwa penguasaan kompetensi geosains, ketelitian, serta kemampuan bekerja dalam tim menjadi bekal penting untuk menjawab kebutuhan industri energi. Pengakuan dari praktisi eksplorasi yang menjadi dewan juri juga menunjukkan bahwa kompetensi mahasiswa Universitas Pertamina mampu memenuhi standar profesional di bidang geosains.
Upaya tersebut sejalan dengan Asta Cita ke-4 Presiden Republik Indonesia, yaitu memperkuat pembangunan sumber daya manusia melalui penguatan sains, teknologi, pendidikan, dan inovasi. Selain itu, prestasi ini turut mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) poin 4 (Quality Education) melalui pengembangan kompetensi mahasiswa, serta SDGs poin 9 (Industry, Innovation and Infrastructure) melalui penguatan kapasitas sumber daya manusia yang mendukung kemajuan sektor energi. [MV]