Menembus seleksi ketat perusahaan migas global bukan perkara mudah. Proses panjang, standar tinggi, hingga persaingan internasional menjadi tantangan yang harus dihadapi. Daniel Van Vrietzer, alumni Teknik Perminyakan Universitas Pertamina angkatan 2018, berhasil melewati semua tahapan tersebut hingga kini berkarier di Baker Hughes, salah satu perusahaan jasa migas terbesar di dunia.
Bagi Daniel, pencapaian ini bukanlah hasil instan. Di balik keberhasilannya, ada proses panjang yang telah ia bangun sejak masa kuliah. Fondasi tersebut menjadi kunci utama hingga ia mampu bersaing di industri migas global yang dikenal kompetitif.
Saat ini, Daniel berperan sebagai Wireline Field Engineer, posisi yang menuntut ketelitian tinggi, kemampuan teknis, serta kesiapan bekerja di berbagai kondisi lapangan. Dalam perjalanannya, ia juga mendapatkan kesempatan mengikuti pelatihan internasional, mulai dari Wireline School di Dubai hingga pelatihan Reservoir Performance Monitor dan Production Logging di Texas, Amerika Serikat.
“Keberuntungan bukan sekadar kebetulan, melainkan hasil dari fondasi kuat yang dibangun selama kuliah. Kompetensi dasar yang solid menjadi kunci hingga perusahaan percaya berinvestasi dan memberi kesempatan saya belajar ke luar negeri,” ujar Daniel.
Perjalanan tersebut semakin menegaskan bahwa kesiapan menghadapi industri global tidak hanya dibentuk di ruang kelas. Daniel menyebut ada empat fondasi utama yang membentuk perjalanan kariernya.
Pertama, kompetensi teknis yang relevan.
Selama kuliah, Daniel aktif terlibat dalam riset eksternal bersama dosen serta berbagai proyek di industri migas. Pengalaman ini membantunya memahami kebutuhan nyata di lapangan sekaligus memperkuat kemampuan teknis yang menjadi nilai tambah saat proses seleksi.
Kedua, jaringan dan kepemimpinan.
Ia juga aktif dalam organisasi internasional seperti Society of Petroleum Engineers (SPE) dan SPWLA. Dari sini, Daniel tidak hanya membangun koneksi profesional, tetapi juga mengasah kemampuan komunikasi dan leadership. “Dari organisasi, saya belajar membangun relasi yang berdampak pada peluang karier global,” katanya.
Ketiga, mental kompetitif.
Daniel kerap mengikuti berbagai kompetisi internasional dan bahkan pernah mewakili Universitas Pertamina ke Amerika Serikat. Pengalaman tersebut membentuk mental tangguh dan kepercayaan diri untuk bersaing di tingkat global.
Keempat, arah yang jelas sejak awal.
Ketertarikannya pada industri migas telah tumbuh sejak bangku sekolah menengah. Kejelasan tujuan ini membuat setiap langkah yang diambil menjadi lebih terarah. “Sejak awal saya sudah tahu tujuan saya, jadi setiap langkah terasa lebih fokus,” ungkapnya.
Keberhasilan Daniel juga mencerminkan kualitas lulusan Universitas Pertamina yang semakin mampu bersaing di kancah internasional. Hingga kini, tercatat lebih dari 555 alumni universitas tersebut telah berkarier di berbagai perusahaan multinasional.
Lebih dari sekadar kisah personal, perjalanan Daniel menunjukkan bagaimana pendidikan tinggi yang relevan dan berstandar global dapat membuka peluang lintas negara. Hal ini sejalan dengan upaya mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin ke-4 tentang pendidikan berkualitas dan poin ke-8 mengenai pekerjaan layak serta pertumbuhan ekonomi.
Dari ruang kuliah hingga lapangan migas internasional, kisah Daniel menjadi gambaran bahwa dengan fondasi yang tepat, lulusan Indonesia memiliki peluang yang sama untuk bersaing dan berkontribusi di tingkat global. [MP]