Upaya mewujudkan transisi energi dan sistem transportasi rendah emisi membutuhkan kolaborasi yang erat antara industri, akademisi, dan pembuat kebijakan.
Untuk mendorong sinergi tersebut, tim Sustainability PT Pertamina (Persero) menggandeng Universitas Pertamina dalam penyelenggaraan Studium Generale Sustainability bertema “Global Insights for Local Action: Bridging Academia and Industry in Energy Transition” di Auditorium Griya Legita Universitas Pertamina pada Kamis, 21 Mei 2026.
Forum ini menghadirkan sejumlah tokoh nasional dan internasional yang memiliki pengalaman dalam bidang energi, pembangunan berkelanjutan, dan kebijakan publik, yakni Pejabat Sementara (Pjs.) Rektor Universitas Pertamina Prof. Dr. techn. Djoko Triyono, M.Si., Direktur Transformasi dan Business Sustainability PT Pertamina (Persero) Agung Wicaksono, mantan Kepala Otorita IKN Prof. Bambang Susantono, Professor USC Sol Price School of Public Policy Prof. Marlon Boarnet, serta Direktur Transformasi, Digitalisasi, dan Sustainability Subholding Downstream PT Pertamina Patra Niaga Tenny Elfrida.
Dalam sambutannya, Prof. Djoko Triyono menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menghasilkan riset yang relevan dengan kebutuhan industri dan mampu berkontribusi dalam percepatan transisi energi.
“Perguruan tinggi harus menghasilkan riset yang bisa langsung diuji dan diterapkan di industri. Transisi energi membutuhkan solusi yang lahir dari kolaborasi nyata, bukan hanya diskusi,” ujarnya.
Sesi utama dibuka oleh Agung Wicaksono yang memaparkan arah transformasi energi nasional serta tantangan yang dihadapi industri dalam mendukung target dekarbonisasi. Menurutnya, transisi energi tidak hanya membutuhkan pengembangan teknologi, tetapi juga perubahan cara kerja dan kolaborasi lintas sektor.
“Transisi energi di Indonesia menuntut perubahan cara kerja industri, termasuk integrasi teknologi rendah emisi dalam operasional energi dan transportasi. Ini tidak bisa berjalan sendiri,” ungkapnya.
Salah satu fokus pembahasan dalam forum ini adalah pengembangan transportasi rendah emisi sebagai bagian dari strategi pembangunan berkelanjutan. Diskusi panel menyoroti pentingnya integrasi kebijakan, pembangunan infrastruktur, serta pemanfaatan inovasi teknologi untuk menciptakan sistem mobilitas yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Prof. Marlon Boarnet, menekankan bahwa keberhasilan pembangunan kota rendah emisi tidak hanya bergantung pada teknologi kendaraan, tetapi juga pada desain kota dan sistem transportasi yang terintegrasi.
“Kota yang berhasil menurunkan emisi bukan hanya soal teknologi kendaraan, tetapi juga desain ruang kota, sistem transportasi publik, dan pola mobilitas warganya,” jelasnya.
Sementara itu, Prof. Bambang Susantono turut membagikan pandangannya mengenai pentingnya sinergi antara pembangunan perkotaan, infrastruktur, dan keberlanjutan dalam menjawab tantangan masa depan. Perspektif tersebut memperkaya diskusi mengenai bagaimana kebijakan publik dapat mendukung implementasi transisi energi secara lebih efektif.
Pandangan serupa disampaikan Direktur Transformasi, Digitalisasi, dan Sustainability Subholding Downstream PT Pertamina Patra Niaga, Tenny Elfrida. Menurutnya, pengembangan energi rendah emisi memerlukan kesiapan ekosistem yang mencakup kebijakan, riset, inovasi, hingga sumber daya manusia yang kompeten.
“Pengembangan energi rendah emisi membutuhkan kesiapan ekosistem, mulai dari kebijakan, riset, hingga SDM yang mampu menjalankan implementasi di lapangan,” tuturnya.
Selain menjadi ruang diskusi strategis, kegiatan ini juga membuka kesempatan bagi mahasiswa dan peserta untuk memahami berbagai perspektif mengenai transisi energi, mobilitas berkelanjutan, dan tantangan pembangunan rendah karbon.
Pertukaran gagasan antara akademisi, praktisi industri, dan pembuat kebijakan diharapkan dapat mendorong lahirnya inovasi dan kolaborasi yang lebih kuat dalam mendukung agenda keberlanjutan Indonesia.
Penyelenggaraan Studium Generale Sustainability ini mencerminkan komitmen Pertamina dan Universitas Pertamina dalam memperkuat kolaborasi antara dunia industri dan akademik guna mendukung percepatan transisi energi.