Kegiatan ini menghadirkan peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk mengupas peran biologi molekuler dalam memahami mekanisme infeksi virus hingga tingkat genetik.
Kuliah tamu ini menghadirkan Amalina Ghaisani Komarudin, peneliti dari Pusat Riset Biologi Molekuler Eijkman, BRIN. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa biologi molekuler memungkinkan ilmuwan mengkaji organisme hidup melalui DNA, RNA, dan protein, termasuk bagaimana informasi genetik diproses menjadi struktur dan fungsi biologis yang kompleks.
Sebagai studi kasus, Amalina mengulas Respiratory Syncytial Virus (RSV), virus yang umum menginfeksi bayi dan anak-anak. Ia memaparkan perbedaan subtipe RSV-A dan RSV-B berdasarkan karakteristik protein, serta pentingnya memahami variasi genetik virus dalam merancang strategi penanganan yang lebih tepat sasaran.
Lebih lanjut, ia menjelaskan tiga fokus utama riset yang dilakukan, yaitu whole genome sequencing dari sampel klinis, karakterisasi fenotip virus, serta pengembangan kandidat antiviral berbasis bahan alami secara in vitro. Proses penelitian dijabarkan secara sistematis, mulai dari pengambilan sampel, ekstraksi RNA, sintesis cDNA, hingga identifikasi virus di laboratorium.
“Biologi molekuler memungkinkan kita mempelajari patogen hingga tingkat genetik terdalam. Dengan memahami karakteristik dan mekanismenya secara ilmiah, kita memiliki landasan yang presisi untuk menentukan strategi pengendalian infeksi yang paling efektif,” ujar Amalina.
Salah satu peserta, Khalisa, menilai kegiatan ini memberikan gambaran nyata terkait penerapan bioteknologi di bidang kesehatan.
“Kuliah tamu ini sangat bermanfaat karena memberikan insight langsung tentang bagaimana riset bioteknologi diterapkan dalam studi virus dan pengembangan terapi,” ungkapnya.
Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 24 mahasiswa, dosen pengampu, serta tamu undangan, dan menjadi ruang diskusi akademik yang mempertemukan perspektif riset dengan pembelajaran di kelas. Melalui CHEMTALK, mahasiswa tidak hanya memahami konsep biologi molekuler secara teoritis, tetapi juga melihat langsung aplikasinya dalam riset biomedis modern.
Secara lebih luas, kegiatan ini berkontribusi pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) dan SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera). Penguatan pembelajaran berbasis riset menghadirkan pengalaman akademik yang relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, sekaligus mendorong pemahaman yang lebih mendalam tentang pengendalian penyakit infeksi sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas kesehatan masyarakat. [MV]