Apa yang dipelajari mahasiswa Teknik Geologi di dalam ruang kelas tidak selalu cukup untuk memahami kompleksitas bumi. Struktur batuan, lapisan tanah, hingga proses geologi yang membentuk suatu wilayah perlu diamati secara langsung agar teori dapat benar-benar dipahami dalam konteks nyata.
Pengalaman inilah yang diperoleh mahasiswa Program Studi Teknik Geologi Universitas Pertamina (UPER) melalui Kuliah Lapangan Teknik Geologi 2026. Selama 18 hari, mahasiswa belajar langsung di Kampus Lapangan Bayat, Klaten, Jawa Tengah, untuk mengamati, mengukur, memetakan, dan menginterpretasikan berbagai fenomena geologi yang mereka temukan di lapangan.
Kegiatan yang berlangsung pada 1–18 Agustus 2026 ini melibatkan 142 mahasiswa, 12 dosen, tiga tenaga kependidikan, serta tiga asisten laboratorium (aslab) Teknik Geologi. Selama kegiatan, Bayat tidak hanya menjadi lokasi pembelajaran, tetapi juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menguji pemahaman yang selama ini diperoleh melalui perkuliahan.
Bayat dipilih sebagai lokasi pembelajaran karena memiliki beragam kenampakan geologi yang memungkinkan mahasiswa mengamati langsung karakteristik batuan dan struktur geologi. Di setiap titik pengamatan, mahasiswa berhadapan langsung dengan kondisi lapangan yang kemudian dianalisis menggunakan konsep, metode, dan pendekatan yang telah mereka pelajari di kelas.
Ketua Program Studi Teknik Geologi Universitas Pertamina, Dr. Imam Priyono, B.Sc., M.T., bersama dosen dan tenaga pengajar turut mendampingi mahasiswa selama proses pembelajaran. Pendampingan dilakukan mulai dari pembekalan materi, observasi lapangan, pengukuran, hingga proses pengolahan dan interpretasi data.
Menurut Dr. Imam, kegiatan lapangan menjadi bagian penting dalam proses pembentukan kompetensi mahasiswa Teknik Geologi. Sebab, memahami geologi tidak hanya dilakukan dengan mempelajari karakteristik batuan melalui buku atau menganalisis data di dalam kelas, tetapi juga dengan melihat langsung bagaimana setiap fenomena geologi hadir dan saling berkaitan di lapangan.
“Di kelas, mahasiswa mempelajari konsep dan metode. Namun ketika berada di lapangan, mereka dihadapkan langsung pada kondisi yang sesungguhnya. Mereka harus mengamati sendiri, melakukan pengukuran, mencatat temuan, kemudian mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi secara geologi,” ujarnya.
Ia menambahkan, proses tersebut menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk membangun cara berpikir sebagai seorang geolog. Data yang diperoleh tidak berhenti sebagai catatan lapangan, tetapi harus diolah dan diinterpretasikan untuk menghasilkan pemahaman yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.
“Melalui proses ini, mahasiswa belajar bahwa menjadi geolog membutuhkan ketelitian dalam mengamati, kemampuan membaca data, serta kemampuan membangun interpretasi berdasarkan bukti yang mereka temukan. Harapannya, pengalaman di Bayat ini dapat memperkuat kompetensi mereka dan menjadi bekal ketika nantinya menghadapi persoalan geologi yang lebih kompleks di dunia profesional,” tambahnya.
Rangkaian pembelajaran diawali dengan pembekalan materi oleh dosen sebelum mahasiswa menuju lokasi pengamatan. Mahasiswa kemudian melakukan observasi pada titik-titik yang telah ditentukan, mencatat karakteristik batuan, melakukan pengukuran, hingga mengolah hasil pengamatan untuk menyusun interpretasi geologi.
Berbagai materi yang sebelumnya dipelajari di perkuliahan diterapkan secara langsung, mulai dari observasi singkapan batuan, pengukuran penampang stratigrafi, geologi struktur, hingga pemetaan geologi lapangan. Melalui proses tersebut, mahasiswa berlatih mengidentifikasi karakteristik batuan, memahami hubungan antarunit geologi, melakukan pengukuran secara sistematis, serta menyusun interpretasi berdasarkan data yang mereka peroleh sendiri.
Setiap modul pembelajaran juga dilengkapi dengan tugas yang diberikan oleh dosen pengampu dan menjadi bagian dari penilaian akademik. Dari data yang dikumpulkan selama kegiatan, mahasiswa menyusun peta serta interpretasi geologi sebagai bentuk penerapan pengetahuan dan keterampilan yang telah dipelajari selama perkuliahan.
Lebih dari sekadar memenuhi capaian pembelajaran dan beban satuan kredit semester (SKS), Kuliah Lapangan Teknik Geologi 2026 menjadi proses bagi mahasiswa untuk memahami bagaimana ilmu pengetahuan bekerja di lapangan. Mahasiswa belajar mengubah hasil pengamatan menjadi data, mengolah data menjadi informasi, hingga menyusun interpretasi berdasarkan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.
Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam membangun kesiapan mahasiswa untuk menghadapi tantangan di bidang geologi yang membutuhkan kemampuan analisis, ketelitian, serta pengambilan keputusan berbasis data. Kompetensi ini relevan dengan berbagai sektor, mulai dari pengelolaan sumber daya alam, pembangunan infrastruktur, mitigasi bencana, hingga pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan.
Melalui penguatan kompetensi tersebut, kegiatan ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goal (SDG) 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur. Pemahaman terhadap kondisi dan karakteristik geologi menjadi salah satu fondasi penting dalam mendukung pembangunan infrastruktur yang aman, adaptif, dan berkelanjutan. Dengan membekali mahasiswa kemampuan observasi, pemetaan, pengukuran, dan interpretasi geologi, UPER turut mempersiapkan calon profesional yang memiliki kapasitas untuk berkontribusi dalam menjawab kebutuhan pembangunan berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.
Kegiatan ini juga sejalan dengan Asta Cita ke-4, yaitu memperkuat pembangunan sumber daya manusia, sains, teknologi, pendidikan, dan sektor-sektor strategis lainnya. Melalui pengalaman belajar berbasis lapangan, mahasiswa tidak hanya memperoleh pemahaman akademik, tetapi juga mengembangkan keterampilan praktis, kemampuan analitis, serta pengalaman menerapkan ilmu pengetahuan secara langsung dalam menghadapi persoalan nyata.
Semangat tersebut menjadi bagian dari UPER Berdampak, di mana proses pendidikan tidak berhenti pada transfer pengetahuan di ruang kelas. Melalui pengalaman langsung di Bayat, mahasiswa didorong untuk menghubungkan ilmu yang dipelajari dengan kondisi nyata, mengasah kemampuan membaca persoalan berbasis data, serta mempersiapkan diri untuk memberikan kontribusi melalui keahlian yang dimiliki.
Dari setiap singkapan yang diamati, pengukuran yang dilakukan, hingga peta yang disusun, mahasiswa Teknik Geologi UPER tengah belajar bahwa memahami bumi bukan hanya tentang mengenali apa yang tersimpan di bawah permukaan, tetapi juga tentang menggunakan pengetahuan tersebut untuk menjawab tantangan pembangunan dan menghadirkan dampak bagi masa depan. [MP]