ID / EN
Berita Kampus

Magister Sains Keberlanjutan UPER Bekali Mahasiswa Merancang Kota Masa Depan yang Tangguh dan Rendah Karbon


Published by: Universitas Pertamina Kamis, 2 Juli 2026
Dibaca: 9 kali
Urbanisasi yang semakin pesat, perubahan iklim, hingga disrupsi teknologi menuntut perubahan cara pandang dalam membangun kota. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memproyeksikan sekitar 68 persen populasi dunia akan tinggal di kawasan perkotaan pada 2050. Kondisi tersebut menjadikan pembangunan kota yang tangguh, rendah karbon, dan berorientasi pada kualitas hidup sebagai salah satu agenda penting pembangunan global.

Isu tersebut menjadi fokus pembahasan dalam Kuliah Umum Rethinking the Future Cities yang diselenggarakan Program Studi Magister Sains Keberlanjutan Universitas Pertamina pada Kamis (11/6). Kegiatan ini menghadirkan Prof. Ir. Bambang Susantono, M.C.P., M.S.C.E., Ph.D., Dean Cities and Local Governments Institute Asia Pacific (UCLG ASPAC), untuk mengulas paradigma baru pembangunan kota yang adaptif, inklusif, dan rendah karbon.

Melalui forum ini, peserta diajak memahami berbagai pendekatan pembangunan kota yang adaptif terhadap perubahan global sekaligus mengeksplorasi strategi untuk mewujudkan kawasan perkotaan yang lebih tangguh, inklusif, dan rendah karbon. 

Kegiatan tersebut diikuti oleh mahasiswa Magister Sains Keberlanjutan, dosen, dan sivitas akademika yang memiliki perhatian pada isu pembangunan berkelanjutan, tata kelola perkotaan, serta kebijakan publik. 
Dalam paparannya, Prof. Bambang menjelaskan bahwa urbanisasi, perubahan iklim, transformasi ekonomi, perubahan demografi, serta disrupsi teknologi telah mengubah paradigma pembangunan perkotaan.

Menurutnya, kota masa depan tidak lagi hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga harus mampu menciptakan ruang hidup yang adaptif, inklusif, dan berkelanjutan.

"Kota masa depan tidak hanya harus cerdas secara teknologi, tetapi juga layak huni, tangguh terhadap berbagai krisis, inklusif, serta mampu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan masyarakat, dan keberlanjutan lingkungan," ujar Prof. Bambang.

Ia menambahkan bahwa perubahan pola hidup masyarakat pascapandemi, meningkatnya kebutuhan ruang terbuka hijau, transformasi sistem mobilitas, investasi energi terbarukan, hingga digitalisasi tata kelola menjadi faktor yang harus diakomodasi dalam perencanaan kota. Menurutnya, pembangunan perkotaan perlu berorientasi pada kemampuan beradaptasi terhadap perubahan global sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Sebagai bagian dari pendekatan tersebut, Prof. Bambang memperkenalkan konsep Livable City yang didukung oleh lima pilar utama atau pendekatan 5D, yaitu Design, Density, Diversity, Digitalization, dan Decarbonization. Pendekatan ini menekankan pentingnya integrasi antara desain kawasan, efisiensi pemanfaatan ruang, keberagaman fungsi kota, pemanfaatan teknologi digital, serta upaya dekarbonisasi untuk menciptakan kota yang lebih tangguh, inklusif, dan berkelanjutan.

Melalui kuliah umum ini, mahasiswa Magister Sains Keberlanjutan tidak hanya memperoleh pemahaman mengenai konsep pembangunan perkotaan berkelanjutan, tetapi juga memperkuat kemampuan menganalisis tantangan urbanisasi, perubahan iklim, transformasi digital, dan transisi menuju ekonomi rendah karbon melalui pendekatan Environmental, Social, and Governance (ESG). 

Diskusi interaktif yang berlangsung turut mendorong mahasiswa mengembangkan solusi berbasis kebijakan dan inovasi yang relevan dengan kebutuhan pembangunan kota masa depan.

Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen Universitas Pertamina dalam menghadirkan pendidikan yang responsif terhadap berbagai tantangan pembangunan global, sekaligus membekali mahasiswa dengan perspektif multidisiplin untuk merumuskan solusi yang berkelanjutan. 

Melalui paparan dari praktisi dan pakar berpengalaman di bidang pembangunan perkotaan, mahasiswa didorong untuk memahami keterkaitan antara kebijakan publik, tata kelola kota, inovasi teknologi, serta aspek lingkungan dan sosial dalam mewujudkan kawasan perkotaan yang adaptif terhadap perubahan.

Sejalan dengan karakteristik Program Studi Magister Sains Keberlanjutan yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan, kebijakan, dan praktik keberlanjutan, kuliah umum ini memperkuat kompetensi lulusan agar mampu berkontribusi dalam perencanaan dan pengambilan keputusan berbasis Environmental, Social, and Governance (ESG). 

Kompetensi tersebut menjadi semakin relevan di tengah meningkatnya kebutuhan akan sumber daya manusia yang mampu menjawab tantangan urbanisasi, perubahan iklim, dan transisi menuju pembangunan rendah karbon di Indonesia.

Komitmen tersebut selaras dengan implementasi Sustainable Development Goals (SDGs) 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, melalui penguatan kapasitas sumber daya manusia yang mampu merancang kota yang inklusif, aman, tangguh, dan berkelanjutan. Selain itu, kegiatan ini juga mendukung SDGs 13: Penanganan Perubahan Iklim dengan mendorong lahirnya gagasan dan solusi pembangunan perkotaan yang adaptif, rendah emisi, serta mampu meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap dampak perubahan iklim. 

Bagi mahasiswa Magister Sains Keberlanjutan Universitas Pertamina, wawasan tersebut menjadi bekal penting untuk mengambil peran sebagai pemimpin, peneliti, maupun pembuat kebijakan yang mampu menghadirkan solusi inovatif bagi pembangunan kota berkelanjutan di masa depan. [MP]
Thumbnail Thumbnail
Bagikan:
Bagikan ke WhatsApp
Bagikan ke Facebook
Bagikan ke X
Bagikan ke Telegram
Bagikan ke LinkedIn

Tinggalkan Balasan
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalan UU ITE

© 2026 Universitas Pertamina.
All rights reserved