ID / EN
Berita Kampus

Calon Geofisikawan Tak Cukup Mahir Membaca Bumi, Harus Siap Menyelamatkan Nyawa di Lapangan


Published by: Universitas Pertamina Senin, 20 Juli 2026
Dibaca: 9 kali
Seorang geofisikawan tidak hanya dituntut mampu menganalisis kondisi bawah permukaan bumi. Saat menjalankan survei di wilayah terpencil, medan terjal, maupun kawasan rawan bencana, mereka juga berpotensi menjadi orang pertama yang menghadapi situasi darurat. Karena itu, kemampuan memberikan pertolongan pertama menjadi bekal penting sebelum memasuki dunia kerja.

Kesadaran tersebut mendorong Program Studi Teknik Geofisika Universitas Pertamina menghadirkan kuliah tamu bertema Basic First Aid pada mata kuliah Mitigasi Bencana Alam dan Kuliah Lapangan. Kegiatan yang berlangsung pada Rabu, 24 Juni 2026, di Auditorium Griya Legita Lantai 3 Universitas Pertamina ini menghadirkan Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Markas Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Tangerang Selatan, Andriyana, sebagai narasumber.

Mahasiswa Teknik Geofisika kerap menjalani kegiatan lapangan di lokasi dengan akses yang terbatas terhadap fasilitas kesehatan. Dalam kondisi tersebut, penanganan awal yang tepat dapat membantu mencegah cedera bertambah parah sembari menunggu bantuan medis profesional tiba. Oleh sebab itu, penguasaan basic first aid menjadi pelengkap kompetensi teknis yang dibutuhkan calon geofisikawan.

Pada sesi kuliah tamu, mahasiswa mempelajari tahapan dasar pertolongan pertama, mulai dari melakukan penilaian awal terhadap kondisi korban, menangani cedera ringan, hingga menentukan tindakan yang aman sebelum proses evakuasi atau penanganan medis lanjutan dilakukan. Selain aspek teknis, materi juga menekankan pentingnya menjaga keselamatan penolong, tetap tenang saat menghadapi situasi darurat, serta mengambil keputusan secara cepat dan tepat.

Penyampaian materi dikemas secara interaktif melalui diskusi dan studi kasus yang menggambarkan berbagai kondisi darurat yang berpotensi ditemui selama kegiatan lapangan. Pendekatan tersebut membantu mahasiswa memahami bagaimana prinsip-prinsip pertolongan pertama diterapkan dalam situasi nyata, baik saat menjalankan aktivitas akademik maupun ketika nantinya memasuki dunia profesional.

"Pertolongan pertama bukan sekadar tindakan medis darurat, melainkan jembatan emas antara nyawa dan kedatangan tenaga profesional. Pengetahuan dasar yang kita miliki hari ini bisa menjadi penentu keselamatan seseorang di masa depan," ujar Andriyana.

Melalui pembekalan ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya memiliki kesiapsiagaan yang lebih baik saat menghadapi kondisi darurat, tetapi juga memahami bahwa keselamatan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari praktik profesi geofisika. Kemampuan tersebut menjadi modal penting bagi lulusan yang akan bekerja di sektor eksplorasi sumber daya alam, kebencanaan, maupun bidang lain yang menuntut aktivitas lapangan dengan tingkat risiko yang beragam.

Kuliah tamu ini mencerminkan pendekatan pembelajaran Program Studi Teknik Geofisika Universitas Pertamina yang memadukan penguasaan ilmu kebumian dengan kompetensi keselamatan kerja. Pembelajaran semacam ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 (Good Health and Well-being) melalui peningkatan literasi kesehatan dan keselamatan, serta SDG 4 (Quality Education) dengan menghadirkan pengalaman belajar yang relevan dengan kebutuhan profesi. [AN]
Thumbnail Thumbnail
Bagikan:
Bagikan ke WhatsApp
Bagikan ke Facebook
Bagikan ke X
Bagikan ke Telegram
Bagikan ke LinkedIn

Tinggalkan Balasan
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalan UU ITE

© 2026 Universitas Pertamina.
All rights reserved