Target Indonesia mencapai Net Zero Emission (NZE) pada 2060 menuntut berbagai pendekatan untuk menekan emisi karbon, terutama pada sektor-sektor industri yang sulit didekarbonisasi.
Di tengah upaya tersebut, teknologi Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) dinilai menjadi salah satu solusi strategis karena mampu mengurangi emisi dari industri seperti semen, baja, petrokimia, pembangkit listrik, hingga minyak dan gas yang masih bergantung pada bahan bakar fosil.
Kegiatan ini menghadirkan Dr. Ir. Retno Gumilang Dewi, M.Env.Eng.Sc. sebagai narasumber dan diikuti oleh mahasiswa, dosen, serta sivitas akademika yang memiliki perhatian terhadap isu keberlanjutan dan transisi energi.
Dalam pemaparannya, Dr. Retno menjelaskan bahwa pengembangan energi terbarukan saja belum cukup untuk mencapai target NZE. Menurutnya, sektor-sektor dengan intensitas emisi tinggi tetap membutuhkan teknologi yang mampu menangkap dan mengelola karbon sebelum dilepaskan ke atmosfer sehingga proses transisi energi dapat berlangsung secara lebih realistis.
"Carbon Capture, Utilization, and Storage merupakan salah satu teknologi penting untuk mengurangi emisi pada sektor-sektor yang sulit didekarbonisasi. Karena itu, pencapaian Net Zero Emission tidak dapat hanya mengandalkan energi terbarukan, tetapi juga memerlukan penerapan teknologi rendah karbon agar transisi energi berjalan secara efektif dan berkelanjutan," ujarnya.
Materi yang disampaikan mengulas prinsip kerja teknologi penangkapan karbon, berbagai metode carbon capture, proses transportasi karbon, pemanfaatannya di sektor industri, hingga penyimpanan karbon secara geologis. Peserta juga diajak memahami perkembangan implementasi CCUS di Indonesia, termasuk peluang penerapannya pada sektor hulu migas dan industri, beserta tantangan yang masih dihadapi dari sisi regulasi, investasi, dan aspek ekonomi.
Sejumlah studi kasus nasional turut dipaparkan untuk menggambarkan potensi Indonesia sebagai salah satu lokasi strategis pengembangan penyimpanan karbon di kawasan Asia Tenggara. Potensi tersebut didukung oleh karakteristik geologi yang memungkinkan penyimpanan karbon dalam jangka panjang, sekaligus membuka peluang bagi Indonesia untuk mengambil peran dalam pengembangan ekosistem ekonomi rendah karbon.
Diskusi berlangsung interaktif dengan membahas berbagai aspek implementasi CCUS, mulai dari kesiapan teknologi, dukungan kebijakan, hingga prospek riset yang masih terbuka luas. Antusiasme peserta mencerminkan meningkatnya perhatian generasi muda terhadap solusi berbasis sains dan teknologi dalam menjawab tantangan perubahan iklim serta transformasi sektor energi.
Melalui kuliah ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh pemahaman mengenai aspek teknis CCUS, tetapi juga melihat keterkaitannya dengan kebijakan energi nasional, ekonomi karbon, dan strategi dekarbonisasi industri. Perspektif tersebut menjadi bekal penting bagi calon profesional dan peneliti yang akan berkontribusi dalam pengembangan solusi rendah karbon di masa mendatang.
Pembahasan mengenai CCUS sejalan dengan komitmen Universitas Pertamina dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 7 (Affordable and Clean Energy) melalui penguatan kapasitas sumber daya manusia di bidang transisi energi, SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure) melalui pengembangan inovasi teknologi rendah karbon, serta SDG 13 (Climate Action) melalui upaya mitigasi perubahan iklim yang mendukung terciptanya pembangunan berkelanjutan. [AN]