ID / EN
Berita Kampus

Jawab Tantangan Air dan Sanitasi, UPER Raih Peringkat 4 PTS Terbaik Nasional


Published by: Universitas Pertamina Senin, 13 Juli 2026
Dibaca: 9 kali
JAKARTA — Akses air minum di Indonesia menyimpan kesenjangan yang lebar. Meski mayoritas rumah tangga telah memiliki akses terhadap sumber air minum layak, hanya 30,45 persen rumah tangga yang memiliki akses terhadap air minum aman. Persoalan sanitasi bahkan lebih besar. Data terbaru menunjukkan, baru 10,30 persen rumah tangga di Indonesia yang memiliki akses terhadap sanitasi aman.

Angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan air dan sanitasi tidak selesai ketika masyarakat memiliki sumber air atau toilet. Kualitas air, pencemaran, pengolahan limbah, perilaku masyarakat, hingga tata kelola menentukan apakah layanan tersebut benar-benar aman dan dapat bertahan dalam jangka panjang.

Kompleksitas inilah yang menjadi salah satu fokus Universitas Pertamina (UPER). Melalui riset, inovasi teknologi, pengabdian kepada masyarakat, kolaborasi internasional, hingga penerapan pengelolaan air di lingkungan kampus, UPER mengembangkan pendekatan dari hulu ke hilir untuk menjawab persoalan air bersih dan sanitasi.

Kontribusi tersebut mengantarkan UPER meraih peringkat ke-4 Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terbaik nasional pada kategori SDG 6: Clean Water and Sanitation dalam Times Higher Education Sustainability Impact Ratings 2026.

Persoalan Air Tidak Berhenti di Sumbernya

Salah satu perhatian peneliti UPER adalah kualitas air dan berbagai sumber pencemarnya. Riset dilakukan mulai dari pemantauan kualitas Sungai Bedog di Yogyakarta menggunakan keanekaragaman capung sebagai bioindikator, identifikasi mikroplastik di badan air hilir dan estuari Jakarta, hingga pengolahan limbah cair industri penyamakan kulit menggunakan proses Electro-Fenton.

Peneliti UPER juga mengkaji kesediaan masyarakat membiayai layanan air yang tangguh terhadap perubahan iklim serta keterkaitan kualitas air, kesehatan, dampak lingkungan, dan tantangan pengelolaannya di Indonesia.

Persoalan tersebut turut diterjemahkan menjadi inovasi. Melalui Lambo Jernih, sivitas akademika UPER mengembangkan teknologi filtrasi air dengan memanfaatkan lumpur Lapindo. Inovasi ini mempertemukan dua persoalan sekaligus, yakni pemanfaatan material yang selama ini dipandang sebagai limbah dan kebutuhan terhadap teknologi pengolahan air.

Sanitasi Juga Persoalan Manusia

Di bidang sanitasi, riset UPER menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur saja belum cukup. Karakteristik sosial, partisipasi masyarakat, dan tata kelola ikut menentukan keberhasilan sebuah program.

Kajian dilakukan di berbagai wilayah Indonesia. Di Kediri, peneliti mengkaji pengaruh kondisi sosio-demografi terhadap akses sanitasi. Di Koja, Jakarta Utara, masyarakat dipetakan berdasarkan karakteristiknya untuk memahami pola keterlibatan dalam program sanitasi. Penelitian lain dilakukan di Maluku untuk melihat hubungan karakteristik komunitas dengan pencapaian kebijakan akses sanitasi.

Labuan Bajo juga menjadi lokasi kajian untuk memahami kesediaan masyarakat berpartisipasi dalam program sanitasi berbasis komunitas serta menyusun skenario perencanaan sanitasi di tengah perkembangan wilayah tersebut sebagai destinasi pariwisata.

Rangkaian penelitian itu kemudian diperluas ke persoalan tata kelola. Peneliti UPER mengembangkan kajian mengenai adaptive governance dalam keterkaitan air, energi, pangan, dan ekosistem, strategi komunikasi untuk mendorong partisipasi masyarakat, hingga pengelolaan sanitasi adaptif di kawasan pesisir Jakarta.

Dari Riset Menuju Dampak

Kontribusi UPER terhadap air dan sanitasi tidak berhenti pada publikasi ilmiah. Di kawasan pesisir Jakarta Utara, dosen Teknik Lingkungan UPER terlibat dalam pengabdian kepada masyarakat untuk membantu pengelolaan sanitasi berdasarkan kondisi dan kebutuhan lokal.

Di lingkungan kampus, UPER berkolaborasi dengan Daiki Axis Jepang dalam instalasi sistem pengelolaan air limbah. Fasilitas air minum gratis juga disediakan bagi sivitas akademika sebagai bagian dari upaya memperluas akses air minum sekaligus mendorong gaya hidup sehat.

Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa persoalan air bersih dan sanitasi perlu dijawab secara terintegrasi. Riset membantu membaca persoalan, teknologi menawarkan solusi, keterlibatan masyarakat menjaga keberlanjutan, sementara kolaborasi memperluas dampak.

Capaian ini sejalan dengan Asta Cita ke-4 melalui penguatan pendidikan, sains, dan teknologi serta Asta Cita ke-8 dalam membangun keselarasan dengan lingkungan dan alam. Kontribusi tersebut juga mendukung SDG 6 tentang Air Bersih dan Sanitasi Layak, sekaligus berkaitan dengan SDG 3, SDG 11, SDG 13, dan SDG 17.

Melalui capaian ini, Universitas Pertamina menunjukkan bahwa kontribusi perguruan tinggi terhadap persoalan air dan sanitasi tidak berhenti pada publikasi atau pemeringkatan. Pengetahuan perlu bergerak dari laboratorium menuju teknologi, masyarakat, kebijakan, hingga praktik yang diterapkan di lingkungan kampus sendiri. [IH]
Thumbnail
Bagikan:
Bagikan ke WhatsApp
Bagikan ke Facebook
Bagikan ke X
Bagikan ke Telegram
Bagikan ke LinkedIn

Tinggalkan Balasan
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalan UU ITE

© 2026 Universitas Pertamina.
All rights reserved