Eksplorasi migas di Indonesia kini menghadapi tantangan yang semakin kompleks seiring banyaknya cekungan produksi yang telah dieksplorasi selama puluhan tahun. Kondisi tersebut mendorong perlunya pendekatan ilmiah yang mampu mengidentifikasi wilayah prospektif secara lebih akurat untuk membuka peluang penemuan cadangan energi baru.
Potensi hidrokarbon di Greater Tarakan Basin, Kalimantan Utara, menjadi fokus penelitian terbaru yang dipresentasikan dosen Program Studi Teknik Geologi Universitas Pertamina, Dr. Dumex Sutra Pasaribu, pada Indonesian Petroleum Association Convention and Exhibition (IPA Convex) ke-50 yang berlangsung pada 20 Mei 2026 di ICE BSD City. Keikutsertaan tersebut menjadi bagian dari komitmen UPER Berdampak dalam menghasilkan riset yang relevan dengan kebutuhan industri dan memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan nasional.
Dalam forum yang mempertemukan akademisi, regulator, dan pelaku industri migas dari berbagai negara tersebut, Dr. Dumex tampil sebagai oral presenter dengan membawakan makalah berjudul "New Insight into Hydrocarbon Prospectivity: The Role of Structural Framework in the Greater Tarakan Basin, North Kalimantan." Penelitian tersebut menawarkan perspektif baru mengenai pengaruh kerangka struktur geologi terhadap pembentukan dan akumulasi hidrokarbon di kawasan Greater Tarakan Basin.
Menurut Dr. Dumex, pemahaman terhadap struktur geologi menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan efektivitas eksplorasi migas. Struktur bawah permukaan tidak hanya memengaruhi pembentukan cekungan dan jalur migrasi hidrokarbon, tetapi juga berperan dalam menentukan lokasi akumulasi yang berpotensi menyimpan cadangan energi.
“Melalui penelitian ini kami mengusulkan adanya prospek hidrokarbon baru berdasarkan analisis kerangka struktur geologi yang berkembang di wilayah Greater Tarakan Basin. Temuan ini diharapkan dapat menjadi salah satu referensi dalam mendukung kegiatan eksplorasi migas di masa mendatang,” jelasnya.
Temuan tersebut memperkaya referensi ilmiah mengenai wilayah yang masih memiliki peluang prospektif sekaligus memberikan dasar bagi pengambilan keputusan eksplorasi yang lebih terarah. Pendekatan berbasis interpretasi geologi yang komprehensif diharapkan dapat membantu mengurangi risiko eksplorasi sekaligus meningkatkan efektivitas pencarian cadangan migas baru.
Riset yang dipresentasikan juga sejalan dengan Asta Cita Presiden Republik Indonesia, khususnya Asta Cita ke-4 yang menekankan penguatan sains, teknologi, dan pendidikan sebagai fondasi pembangunan nasional. Diseminasi hasil penelitian melalui forum internasional menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem riset Indonesia sekaligus mendorong kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan industri.
Selain mempresentasikan hasil penelitian, Dr. Dumex turut berpartisipasi dalam sesi peluncuran dan penawaran wilayah kerja migas baru Indonesia. Pada kesempatan tersebut, ia memaparkan dua wilayah kerja yang direncanakan masuk dalam skema regular tender pemerintah. Keterlibatan ini menunjukkan bahwa akademisi tidak hanya berperan menghasilkan pengetahuan, tetapi juga berkontribusi dalam diskusi strategis mengenai pengembangan sektor energi nasional.
Di sela kegiatan, Dr. Dumex juga mengajak mahasiswa Universitas Pertamina untuk terus mengembangkan kapasitas akademik, menjunjung tinggi integritas, serta aktif menghasilkan karya ilmiah yang mampu menjawab tantangan di masyarakat. Menurutnya, kemampuan melakukan riset sekaligus mengomunikasikan hasilnya secara ilmiah menjadi bekal penting bagi lulusan yang ingin berkiprah di dunia profesional maupun akademik.
Partisipasi Universitas Pertamina dalam IPA Convex 2026 memperlihatkan bagaimana hasil riset yang dikembangkan di lingkungan kampus dapat menjadi bagian dari diskusi yang melibatkan pemerintah, regulator, dan industri. Melalui forum tersebut, temuan akademik tidak hanya memperkaya khazanah keilmuan, tetapi juga membuka peluang kolaborasi untuk mendukung pengembangan eksplorasi migas di Indonesia.
Kegiatan ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure) melalui penguatan riset dan inovasi di sektor energi, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, regulator, dan industri dalam mendorong pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. [AH]