Perkembangan teknologi digital mengubah cara industri migas melakukan eksplorasi. Jika dahulu keputusan eksplorasi banyak bertumpu pada interpretasi manual, kini perusahaan energi mengandalkan pengolahan data dalam jumlah besar untuk memperoleh gambaran yang lebih akurat mengenai potensi sumber daya bawah permukaan.
Perubahan tersebut turut melahirkan kebutuhan terhadap profesi baru yang menggabungkan keahlian geosains dan analisis data, yaitu Data Geoscientist. Peran ini menjadi semakin penting seiring meningkatnya penggunaan teknologi digital dalam proses eksplorasi dan evaluasi sumber daya energi.
Topik tersebut dibahas dalam Kuliah Dosen Tamu Mata Kuliah Pengantar Geologi Terapan dan Eksplorasi (PGTE) Program Studi Teknik Geologi Universitas Pertamina bertajuk “Exploring Career Paths as Data Geoscientist in Oil & Gas Industry”. Kegiatan ini menghadirkan Natalia Angel Momongan dari PT Pertamina Hulu Energi untuk berbagi pengalaman mengenai perkembangan profesi Data Geoscientist di industri migas.
Dalam pemaparannya, Natalia menjelaskan bahwa Data Geoscientist berperan mengintegrasikan berbagai jenis data, mulai dari geologi, geofisika, hingga data operasional, untuk menghasilkan informasi yang dapat digunakan dalam proses pengambilan keputusan. Kemampuan tersebut menjadi semakin dibutuhkan karena industri energi saat ini menghadapi volume data yang terus bertambah dan memerlukan analisis yang lebih cepat serta akurat.
Mahasiswa juga diperkenalkan pada kompetensi yang perlu dipersiapkan untuk memasuki bidang tersebut, seperti analisis data, interpretasi geosains, pemanfaatan teknologi digital, serta kemampuan menerjemahkan hasil analisis menjadi rekomendasi yang relevan bagi kebutuhan bisnis dan eksplorasi.
“Menjadi data geoscientist bukan hanya memahami data, tetapi mengubahnya menjadi keputusan eksplorasi yang bernilai,” ujar Natalia.
Diskusi menunjukkan bahwa transformasi digital tidak mengurangi peran geolog dalam industri energi. Sebaliknya, perkembangan teknologi memperluas ruang kerja geosaintis untuk berkontribusi dalam pengelolaan data, pengembangan model bawah permukaan, hingga penyusunan strategi eksplorasi yang lebih efektif.
Kegiatan ini mendukung SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui penguatan kompetensi yang semakin dibutuhkan di industri energi, khususnya dalam bidang geosains, analisis data, dan pemanfaatan teknologi digital.
Pembahasan mengenai peran Data Geoscientist memberikan gambaran kepada mahasiswa tentang munculnya profesi-profesi baru yang lahir dari transformasi digital, sekaligus membantu mereka memahami keterampilan yang perlu dipersiapkan untuk meningkatkan daya saing di dunia kerja.
Di sisi lain, kehadiran praktisi industri turut mendukung SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) dengan menghadirkan pengalaman belajar yang menghubungkan teori akademik dengan praktik profesional, sehingga mahasiswa memperoleh pemahaman yang lebih kontekstual terhadap kebutuhan dan perkembangan sektor energi saat ini. [MV]