Transisi menuju ekonomi rendah karbon tidak hanya ditopang oleh pengembangan energi terbarukan, tetapi juga oleh pengelolaan sumber daya yang lebih berkelanjutan. Teknologi pengolahan sampah menjadi bahan bakar alternatif dan manufaktur baterai kini menjadi dua sektor strategis yang berperan dalam mendorong ekonomi sirkular sekaligus memperkuat ekosistem transisi energi.
Kegiatan ini menjadi sarana bagi mahasiswa untuk melihat secara langsung bagaimana prinsip keberlanjutan diterapkan pada dua mata rantai penting transisi energi, yakni pengelolaan limbah dan teknologi penyimpanan energi.
Kunjungan diikuti oleh 22 peserta yang terdiri atas mahasiswa, dosen pendamping, tenaga kependidikan, serta Pjs. Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. techn. Djoko Triyono, S.Si., M.Si., selaku Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan, dan Kerja Sama.
Rangkaian kegiatan diawali di RDF Plant Jakarta. Dalam sesi pemaparan, Satria Kharisma Ramadhan selaku Pejabat Pelaksana Kegiatan (PPK) RDF Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta menjelaskan penerapan teknologi Refuse Derived Fuel (RDF), yakni pengolahan sampah menjadi bahan bakar alternatif melalui proses pemilahan dan pengolahan limbah bernilai kalor tinggi.
Teknologi ini menjadi salah satu solusi untuk mengurangi timbulan sampah sekaligus meningkatkan pemanfaatan kembali sumber daya melalui pendekatan ekonomi sirkular.
Melalui sesi site tour, mahasiswa mengamati secara langsung alur operasional fasilitas, mulai dari penerimaan sampah, proses pengolahan, hingga produksi RDF. Pengalaman tersebut memberikan gambaran mengenai bagaimana inovasi pengelolaan limbah dapat diimplementasikan dalam skala industri untuk mendukung pengurangan emisi sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya.
Pemahaman mengenai keberlanjutan kemudian diperdalam melalui kunjungan ke PT Trimitra Baterai Prakasa. Dalam sesi ini, Battery Production Department Head Heru Darmawan bersama Technical Division Head Adhy Prasastyo memperkenalkan proses manufaktur baterai, sistem pengendalian mutu, serta penerapan prinsip keberlanjutan dalam setiap tahapan produksi.
Diskusi juga mengulas peran baterai sebagai teknologi pendukung transisi energi. Selain menjadi komponen penting kendaraan listrik, baterai memiliki fungsi strategis sebagai sistem penyimpanan energi yang mendukung pemanfaatan energi terbarukan secara lebih optimal. Melalui kunjungan ini, mahasiswa memperoleh pemahaman mengenai keterkaitan antara inovasi manufaktur, efisiensi proses produksi, dan target pembangunan rendah karbon.
Pjs. Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. techn. Djoko Triyono, S.Si., M.Si., menegaskan bahwa pembelajaran langsung di industri memberikan perspektif yang tidak dapat diperoleh hanya melalui perkuliahan di kelas.
"Kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri menjadi langkah strategis untuk menyiapkan lulusan yang mampu memahami keberlanjutan secara utuh. Mahasiswa perlu melihat secara langsung bagaimana prinsip tersebut diterapkan dalam pengelolaan sumber daya, inovasi teknologi, hingga proses produksi sehingga memiliki perspektif yang lebih komprehensif dalam menjawab tantangan transisi energi dan pembangunan berkelanjutan," ujarnya.
Melalui rangkaian kunjungan ini, mahasiswa tidak hanya mempelajari teknologi pengelolaan sampah dan manufaktur baterai sebagai dua sektor yang berbeda, tetapi juga memahami keterkaitan keduanya dalam membangun sistem industri yang lebih berkelanjutan. Pengalaman tersebut membantu mahasiswa menghubungkan konsep yang dipelajari di ruang kuliah dengan praktik di lapangan sekaligus memberikan pemahaman mengenai kolaborasi lintas sektor yang dibutuhkan untuk mewujudkan transisi energi.
Kegiatan ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) 4 (Quality Education) melalui penguatan pembelajaran berbasis pengalaman industri, serta SDG 12 (Responsible Consumption and Production) melalui pengenalan praktik pengelolaan sumber daya dan proses manufaktur yang mendorong efisiensi, inovasi, dan keberlanjutan industri. [MV]