Kemampuan teknis tidak lagi menjadi satu-satunya kompetensi yang dibutuhkan industri energi. Di tengah perubahan teknologi, tuntutan efisiensi, dan kompleksitas kebutuhan pengguna, perusahaan semakin mencari talenta yang mampu memahami persoalan dari sudut pandang manusia sebelum merancang solusi. Kebutuhan inilah yang menjadi fokus kuliah tamu “Introduction to Design Thinking” yang diselenggarakan Program Studi Teknik Geofisika Universitas Pertamina pada 2 Juni 2026.
Menghadirkan Yulius S. Bulo, Vice President Learning Development PT Pertamina (Persero), kegiatan ini diikuti sekitar 100 mahasiswa sebagai bagian dari Mata Kuliah Metode Kreatif Penyelesaian Masalah. Melalui sesi tersebut, mahasiswa memperoleh gambaran mengenai pendekatan yang banyak digunakan organisasi modern untuk mengembangkan inovasi yang relevan dan berdampak.
Dalam pemaparannya, Yulius menjelaskan bahwa design thinking merupakan metode pemecahan masalah yang menempatkan pengguna sebagai titik awal proses inovasi. Pendekatan ini menggabungkan empati, eksplorasi ide, pengujian solusi, dan perbaikan berkelanjutan untuk memastikan solusi yang dihasilkan benar-benar menjawab kebutuhan di lapangan.
“Dunia industri terus berubah dan perilaku manusia tidak selalu linier. Tanpa empati, solusi yang tampak inovatif bisa gagal karena tidak menjawab kebutuhan pengguna. Design Thinking membantu kita memastikan bahwa waktu, tenaga, dan sumber daya digunakan untuk menyelesaikan masalah yang tepat,” ujar Yulius.
Bagi mahasiswa teknik, pendekatan tersebut menjadi pelengkap penting bagi kemampuan analitis yang selama ini dipelajari di ruang kuliah. Sebelum mengikuti sesi ini, mahasiswa telah mempelajari berbagai metode identifikasi dan penyelesaian masalah, mulai dari root cause analysis, fishbone diagram, SCAMPER, hingga penyusunan perencanaan proyek melalui Gantt chart dan perancangan anggaran. Design thinking memperluas perspektif tersebut dengan menempatkan pengalaman dan kebutuhan pengguna sebagai pertimbangan utama dalam proses pengambilan keputusan.
Diskusi berlangsung interaktif ketika mahasiswa mengaitkan konsep design thinking dengan tantangan yang dihadapi sektor energi. Berbagai pertanyaan muncul mengenai pengembangan inovasi di perusahaan, proses pengambilan keputusan, hingga cara menyeimbangkan kebutuhan bisnis dengan kebutuhan pengguna. Pertukaran gagasan tersebut memberikan gambaran mengenai bagaimana suatu solusi dirancang, diuji, dan disempurnakan sebelum diterapkan dalam lingkungan kerja yang kompleks.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya mempelajari kerangka berpikir yang banyak digunakan di dunia profesional, tetapi juga memahami bahwa inovasi lahir dari kemampuan menghubungkan aspek teknis dengan kebutuhan manusia. Kompetensi tersebut menjadi semakin relevan bagi calon lulusan yang akan berhadapan dengan berbagai tantangan di sektor energi dan industri masa depan.
Kegiatan ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui penguatan keterampilan inovasi, pemecahan masalah, dan adaptabilitas yang dibutuhkan dalam dunia kerja yang terus berkembang. [MP]