Gempa bumi berkekuatan besar yang mengguncang Venezuela pada akhir Juni 2026 kembali mengingatkan dunia akan pentingnya memahami informasi kebencanaan secara tepat. Dua gempa kuat yang terjadi hanya dalam selang waktu kurang dari satu menit tersebut menyebabkan kerusakan luas, ribuan korban jiwa, serta memicu operasi tanggap darurat berskala nasional. Berdasarkan data
United States Geological Survey (USGS), kedua gempa tersebut memiliki magnitudo sekitar M7,2 dan M7,5 dengan pusat gempa berada di wilayah barat Caracas. Peristiwa ini kembali memunculkan berbagai istilah yang sering digunakan dalam pemberitaan, seperti magnitudo, intensitas, dan Skala Richter. Ketiga istilah tersebut kerap diartikan sebagai hal yang sama, padahal masing-masing memiliki definisi, fungsi, dan cara pengukuran yang berbeda dalam ilmu kebumian.
Istilah tersebut juga sering terjadi ketika masyarakat mengikuti informasi gempa di Indonesia. Tidak sedikit yang menganggap angka magnitudo menunjukkan tingkat kerusakan di suatu wilayah, atau mengira seluruh informasi gempa masih menggunakan Skala Richter. Padahal, menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), besarnya magnitudo tidak selalu berbanding lurus dengan tingkat kerusakan yang ditimbulkan. Dampak gempa dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kedalaman gempa, jarak dari episentrum, kondisi geologi setempat, kualitas bangunan, hingga kepadatan penduduk. Oleh karena itu, memahami perbedaan antara magnitudo, intensitas, dan Skala Richter menjadi bagian penting dari literasi kebencanaan yang perlu dimiliki masyarakat.
Apa Itu Intensitas Gempa?
Berbeda dengan magnitude, intensitas gempa menggambarkan tingkat guncangan yang dirasakan masyarakat maupun dampak kerusakan yang terjadi pada suatu lokasi tertentu yang dipengaruhi oleh jarak terhadap pusat gempa, kondisi tanah, kualitas bangunan, dan karakteristik geologi setempat, intensitas gempa dapat berbeda-beda meskipun berasal dari satu kejadian gempa yang sama.
Di Indonesia, BMKG menggunakan Skala Intensitas Mercalli Modifikasi (Modified Mercalli Intensity/MMI) untuk menggambarkan tingkat guncangan. Misalnya, wilayah yang berada dekat pusat gempa dapat mengalami intensitas VII MMI dengan kerusakan sedang hingga berat, sedangkan daerah yang lebih jauh mungkin hanya merasakan intensitas III MMI berupa getaran lemah.
Apakah Skala Richter Masih Digunakan?
Istilah Skala Richter masih sering digunakan masyarakat dan media massa untuk menyebut kekuatan gempa. Padahal, secara ilmiah penggunaan skala tersebut sudah mulai ditinggalkan sebagai standar utama.
Skala Richter atau Richter Magnitude Scale pertama kali dikembangkan oleh Charles F. Richter pada tahun 1935 untuk mengukur gempa bumi di wilayah California, Amerika Serikat. Skala ini bekerja dengan menghitung amplitudo maksimum gelombang seismik yang direkam oleh jenis seismograf tertentu.
Namun, seiring berkembangnya ilmu geofisika, para ilmuwan menemukan bahwa Skala Richter memiliki keterbatasan, terutama dalam mengukur gempa bumi berkekuatan besar. Oleh karena itu, saat ini sebagian besar lembaga seismologi dunia, termasuk BMKG dan USGS, menggunakan Moment Magnitude Scale (Mw) sebagai standar internasional karena memberikan hasil yang lebih akurat dan konsisten.
Peran Teknik Geofisika dalam Mitigasi Gempa
Ilmu teknik geofisika memiliki peran strategis dalam memahami fenomena gempa bumi melalui pemanfaatan metode geofisika dan teknologi modern. Para ahli geofisika melakukan pengamatan terhadap aktivitas seismik, memetakan struktur bawah permukaan bumi, mengidentifikasi zona patahan aktif, serta mengembangkan model yang dapat digunakan untuk mendukung mitigasi risiko bencana.
Selain berkaitan dengan gempa bumi, Teknik Geofisika juga berperan dalam eksplorasi energi, pemetaan sumber daya alam, geoteknik, lingkungan, hingga pengembangan teknologi pemantauan bawah permukaan. Oleh karena itu, kebutuhan terhadap lulusan Teknik Geofisika terus meningkat, baik di sektor pemerintahan, industri energi, pertambangan, maupun lembaga penelitian.
Pengembangan ilmu teknik geofisika berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan), serta SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim). Informasi geofisika yang akurat mendukung pembangunan infrastruktur yang lebih aman terhadap bencana, memperkuat sistem mitigasi risiko, serta meningkatkan ketahanan masyarakat dalam menghadapi ancaman geologi. Dengan demikian, pemanfaatan ilmu geofisika tidak hanya mendukung pembangunan ekonomi, tetapi juga mewujudkan pembangunan yang lebih aman dan berkelanjutan.
Menyiapkan Ahli Geofisika untuk Masa Depan Indonesia
Sebagai negara yang berada di kawasan cincin api Pasifik (Ring of Fire), Indonesia membutuhkan lebih banyak tenaga profesional yang memiliki kompetensi dalam memahami dinamika bumi dan pengelolaan risiko geologi. Kemampuan mengolah data seismik, melakukan survei geofisika, memanfaatkan teknologi penginderaan, serta menganalisis kondisi bawah permukaan menjadi kompetensi yang semakin dibutuhkan oleh berbagai sektor.
Program Studi Teknik Geofisika Universitas Pertamina hadir untuk membekali mahasiswa dengan pengetahuan dan keterampilan di bidang eksplorasi geofisika, seismologi, geologi teknik, geofisika lingkungan, hingga teknologi pemetaan bawah permukaan. Melalui kurikulum yang adaptif, didukung laboratorium modern serta kolaborasi dengan industri dan lembaga riset, mahasiswa dipersiapkan menjadi lulusan yang mampu berkontribusi dalam mitigasi bencana, eksplorasi energi, dan pembangunan berkelanjutan.
Ingin menjadi bagian dari generasi yang berkontribusi dalam memahami dinamika bumi dan mengembangkan solusi berbasis ilmu geofisika? Bergabunglah bersama Program Studi Teknik Geofisika Universitas Pertamina. Kunjungi laman resmi
Penerimaan Mahasiswa Baru Universitas Pertamina untuk memperoleh informasi lengkap mengenai program studi, kurikulum, serta tata cara pendaftaran.
Sumber:
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). (2024). Katalog Gempabumi dan Tsunami Indonesia serta Informasi Gempabumi Terkini. BMKG. https://www.bmkg.go.id
United States Geological Survey (USGS). (2024). Magnitude Types. https://www.usgs.gov/programs/earthquake-hazards/magnitude-types
International Seismological Centre (ISC). (2024). Introduction to Seismology. https://www.isc.ac.uk
United Nations. (2024). The Sustainable Development Goals Report 2024. New York: United Nations. https://unstats.un.org/sdgs/report/
Charles F. Richter. (1935). An Instrumental Earthquake Magnitude Scale. Bulletin of the Seismological Society of America, 25(1), 1–32.
Foto: Reuters