ID / EN
Berita Populer

Tak Hanya Jadi Ban, Peneliti UPER Kaji Potensi Karet Alam untuk Produk Biohidrokarbon


Published by: Universitas Pertamina Selasa, 14 Juli 2026
Dibaca: 32 kali
Indonesia merupakan salah satu produsen karet alam terbesar di dunia dan menjadikannya "surga" bagi pengembangan riset dan inovasi yang mampu mengubah karet menjadi produk bernilai tambah tinggi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan Indonesia menempati peringkat kedua produsen karet terbesar dunia setelah Thailand dengan produksi mencapai 2,65 juta ton pada 2023. Namun, selama ini pemanfaatan karet alam masih didominasi sebagai bahan baku ban, sol sepatu, atau diekspor dalam bentuk mentah dengan nilai tambah yang relatif rendah. Kondisi tersebut membuat pendapatan petani karet rentan berfluktuasi mengikuti harga komoditas dunia. Padahal, di balik getah pohon karet tersimpan potensi besar untuk diolah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi.

Potensi itulah yang dibuktikan oleh Dr. Laksmi Dewi Kasmiarno, dosen dan peneliti Program Studi Teknik Kimia Universitas Pertamina, bersama timnya. Melalui riset yang dipublikasikan di jurnal internasional bereputasi Biomass and Bioenergy berjudul Pyrolysis depolymerization of fresh natural rubber into liquid medium-chain bio-hydrocarbon products: Investigation of volatile-state kinetics approach and mechanism reaction analysis, tim peneliti menunjukkan bahwa karet alam dapat dikonversi menjadi biohidrokarbon cair yang karakteristiknya setara bensin, sekaligus menghasilkan senyawa kimia bernilai tinggi yang dimanfaatkan sebagai bahan baku industri parfum. Temuan ini membuka peluang baru bagi pemanfaatan karet alam Indonesia sebagai sumber energi terbarukan sekaligus bahan baku industri kimia berkelanjutan dengan nilai tambah yang jauh lebih tinggi.

Bagaimana Karet Bisa Berubah Jadi Biohidrokarbon? 

Sekilas, banyak orang mungkin membayangkan mengubah karet menjadi bahan bakar harus menggunakan berbagai bahan kimia yang rumit. Padahal, penelitian ini memanfaatkan teknologi yang disebut pirolisis. Sederhananya, potongan karet dimasukkan ke dalam wadah tertutup khusus, lalu dipanaskan hingga ratusan derajat Celsius dengan kandungan oksigen yang sangat minim. Karena hampir tidak ada oksigen, karet tidak terbakar menjadi abu. Sebaliknya, panas memecah susunan molekul karet yang semula sangat panjang menjadi potongan-potongan molekul yang lebih kecil. 

Potongan-potongan molekul tersebut kemudian berubah menjadi dua produk utama, yakni cairan yang kaya hidrokarbon—senyawa penyusun bahan bakar seperti bensin—serta gas hidrokarbon, dengan sisa padatan yang sangat sedikit. Agar lebih mudah dibayangkan, proses ini mirip seperti membongkar rangkaian Lego yang sangat panjang menjadi kepingan-kepingan kecil. Bedanya, "kepingan" hasil pemecahan ini bukan untuk dirakit kembali, melainkan dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku bernilai tinggi, mulai dari bahan bakar terbarukan hingga senyawa untuk industri kimia, termasuk bahan baku parfum.

Lebih dari Sekadar Minyak, Ini "Harta Karun" di Dalamnya

Pada dasarnya, mengubah karet alam menjadi biohidrokarbon melalui proses pirolisis bukanlah konsep yang benar-benar baru. Namun, penelitian yang dilakukan Dr. Laksmi Dewi Kasmiarno bersama tim menghadirkan terobosan yang membuat proses tersebut tidak hanya menghasilkan produk, tetapi juga lebih mudah dipahami dan dioptimalkan. Selain berhasil mengonversi karet alam menjadi biohidrokarbon cair, tim peneliti mengembangkan model matematika yang mampu menjelaskan bagaimana reaksi pirolisis berlangsung sejak awal pemanasan hingga terbentuk berbagai senyawa hasil akhirnya.

Model tersebut memungkinkan peneliti memprediksi jenis dan jumlah senyawa yang akan terbentuk pada berbagai kondisi operasi. Misalnya, pada suhu berapa biohidrokarbon dihasilkan secara paling optimal, kapan senyawa bernilai tinggi seperti limonene terbentuk dalam jumlah terbesar, hingga bagaimana perubahan suhu memengaruhi komposisi produk yang dihasilkan. Pemahaman ini mengungkap mekanisme reaksi yang selama ini belum banyak diketahui sekaligus memberikan dasar ilmiah untuk merancang proses pirolisis yang lebih efisien.

Keunggulan tersebut membuat proses pengembangan teknologi tidak lagi bergantung pada pendekatan trial and error. Dengan dukungan model matematika, peneliti dapat memprediksi hasil sebelum proses dijalankan sehingga perancangan reaktor dan kondisi operasi menjadi lebih akurat. Pendekatan ini menjadi bekal penting jika teknologi pirolisis karet alam dikembangkan ke skala industri, karena mampu menghasilkan produk dengan kualitas yang lebih konsisten sekaligus meningkatkan efisiensi proses.

Temuan ini juga menunjukkan bahwa karet alam memiliki potensi yang jauh lebih besar dibandingkan sekadar bahan baku ban atau produk otomotif. Melalui inovasi rekayasa kimia, karet alam dapat diolah menjadi biohidrokarbon dan berbagai senyawa kimia bernilai tinggi yang berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku industri. Di tengah meningkatnya kebutuhan akan energi terbarukan dan pemanfaatan biomassa, riset ini menjadi salah satu fondasi penting bagi pengembangan teknologi konversi biomassa di masa depan. Meski demikian, penelitian ini masih berfokus pada pengembangan proses dan pemahaman mekanisme reaksi, sehingga belum ditujukan untuk menghasilkan bahan bakar yang siap digunakan secara komersial.

Melalui penelitian seperti ini, Program Studi Teknik Kimia Universitas Pertamina terus mendorong mahasiswa dan dosen menghasilkan inovasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat dan industri. Semangat tersebut merupakan bagian dari UPER Berdampak, yaitu menghadirkan riset yang mampu menjawab tantangan nasional melalui pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Penelitian ini juga mendukung Asta Cita ke-5 dalam memperkuat hilirisasi sumber daya alam dan pembangunan ekonomi hijau, sekaligus berkontribusi terhadap SDG 7 ( Affordable and Clean Energy) dan SDG 9 (Industry, Innovation, and Infrastructure) melalui pemanfaatan biomassa sebagai sumber bahan kimia dan energi yang lebih berkelanjutan 

Bagi kamu yang tertarik bergabung dengan Program Studi Teknik Kimia Universitas Pertamina, saatnya menjadi bagian dari generasi insinyur yang tidak hanya mempelajari ilmu rekayasa, tetapi juga menghasilkan inovasi berbasis riset untuk menjawab tantangan energi, industri, dan keberlanjutan. Daftarkan dirimu melalui Portal Penerimaan Mahasiswa Baru Universitas Pertamina dan wujudkan langkah awalmu menjadi bagian dari solusi bagi masa depan. 

Referensi: 

Berita BRMP Perkebunan (2025). Analisis Pasar Karet Alam Indonesia dalam Konteks Global.
BPS (2025). Data Statistik Pekebunan Karet Alam Indonesia.
Biomass and Bioenergy (2025): Pyrolysis depolymerization of fresh natural rubber into liquid medium-chain bio-hydrocarbon products: Investigation of volatile-state kinetics approach and mechanism reaction analysis.

Gambar: Le Trung / Unplash.com



Thumbnail
Bagikan:
Bagikan ke WhatsApp
Bagikan ke Facebook
Bagikan ke X
Bagikan ke Telegram
Bagikan ke LinkedIn

Tinggalkan Balasan
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalan UU ITE

© 2026 Universitas Pertamina.
All rights reserved