Indonesia merupakan salah satu produsen karet alam terbesar di dunia dan menjadikannya "surga" bagi pengembangan riset dan inovasi yang mampu mengubah karet menjadi produk bernilai tambah tinggi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan Indonesia menempati peringkat kedua produsen karet terbesar dunia setelah Thailand dengan produksi mencapai 2,65 juta ton pada 2023. Namun, selama ini pemanfaatan karet alam masih didominasi sebagai bahan baku ban, sol sepatu, atau diekspor dalam bentuk mentah dengan nilai tambah yang relatif rendah. Kondisi tersebut membuat pendapatan petani karet rentan berfluktuasi mengikuti harga komoditas dunia. Padahal, di balik getah pohon karet tersimpan potensi besar untuk diolah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi.
Potensi itulah yang dibuktikan oleh Dr. Laksmi Dewi Kasmiarno, dosen dan peneliti Program Studi Teknik Kimia Universitas Pertamina, bersama timnya. Melalui riset yang dipublikasikan di jurnal internasional bereputasi Biomass and Bioenergy berjudul Pyrolysis depolymerization of fresh natural rubber into liquid medium-chain bio-hydrocarbon products: Investigation of volatile-state kinetics approach and mechanism reaction analysis, tim peneliti menunjukkan bahwa karet alam dapat dikonversi menjadi biohidrokarbon cair yang karakteristiknya setara bensin, sekaligus menghasilkan senyawa kimia bernilai tinggi yang dimanfaatkan sebagai bahan baku industri parfum. Temuan ini membuka peluang baru bagi pemanfaatan karet alam Indonesia sebagai sumber energi terbarukan sekaligus bahan baku industri kimia berkelanjutan dengan nilai tambah yang jauh lebih tinggi.
Bagaimana Karet Bisa Berubah Jadi Biohidrokarbon?
Sekilas, banyak orang mungkin membayangkan mengubah karet menjadi bahan bakar harus menggunakan berbagai bahan kimia yang rumit. Padahal, penelitian ini memanfaatkan teknologi yang disebut pirolisis. Sederhananya, potongan karet dimasukkan ke dalam wadah tertutup khusus, lalu dipanaskan hingga ratusan derajat Celsius dengan kandungan oksigen yang sangat minim. Karena hampir tidak ada oksigen, karet tidak terbakar menjadi abu. Sebaliknya, panas memecah susunan molekul karet yang semula sangat panjang menjadi potongan-potongan molekul yang lebih kecil.
Potongan-potongan molekul tersebut kemudian berubah menjadi dua produk utama, yakni cairan yang kaya hidrokarbon—senyawa penyusun bahan bakar seperti bensin—serta gas hidrokarbon, dengan sisa padatan yang sangat sedikit. Agar lebih mudah dibayangkan, proses ini mirip seperti membongkar rangkaian Lego yang sangat panjang menjadi kepingan-kepingan kecil. Bedanya, "kepingan" hasil pemecahan ini bukan untuk dirakit kembali, melainkan dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku bernilai tinggi, mulai dari bahan bakar terbarukan hingga senyawa untuk industri kimia, termasuk bahan baku parfum.
Lebih dari Sekadar Minyak, Ini "Harta Karun" di Dalamnya
Pada dasarnya, mengubah karet alam
menjadi biohidrokarbon melalui proses pirolisis bukanlah konsep yang
benar-benar baru. Namun, penelitian yang dilakukan Dr. Laksmi Dewi Kasmiarno
bersama tim menghadirkan terobosan yang membuat proses tersebut tidak hanya
menghasilkan produk, tetapi juga lebih mudah dipahami dan dioptimalkan. Selain
berhasil mengonversi karet alam menjadi biohidrokarbon cair, tim peneliti
mengembangkan model matematika yang mampu menjelaskan bagaimana reaksi
pirolisis berlangsung sejak awal pemanasan hingga terbentuk berbagai senyawa
hasil akhirnya.
Model tersebut memungkinkan peneliti
memprediksi jenis dan jumlah senyawa yang akan terbentuk pada berbagai kondisi
operasi. Misalnya, pada suhu berapa biohidrokarbon dihasilkan secara paling
optimal, kapan senyawa bernilai tinggi seperti limonene terbentuk dalam jumlah
terbesar, hingga bagaimana perubahan suhu memengaruhi komposisi produk yang
dihasilkan. Pemahaman ini mengungkap mekanisme reaksi yang selama ini belum
banyak diketahui sekaligus memberikan dasar ilmiah untuk merancang proses
pirolisis yang lebih efisien.
Keunggulan tersebut membuat proses
pengembangan teknologi tidak lagi bergantung pada pendekatan trial and error. Dengan dukungan model
matematika, peneliti dapat memprediksi hasil sebelum proses dijalankan sehingga
perancangan reaktor dan kondisi operasi menjadi lebih akurat. Pendekatan ini
menjadi bekal penting jika teknologi pirolisis karet alam dikembangkan ke skala
industri, karena mampu menghasilkan produk dengan kualitas yang lebih konsisten
sekaligus meningkatkan efisiensi proses.
Temuan ini juga menunjukkan bahwa karet alam
memiliki potensi yang jauh lebih besar dibandingkan sekadar bahan baku ban atau
produk otomotif. Melalui inovasi rekayasa kimia, karet alam dapat diolah
menjadi biohidrokarbon dan berbagai senyawa kimia bernilai tinggi yang
berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku industri. Di tengah meningkatnya
kebutuhan akan energi terbarukan dan pemanfaatan biomassa, riset ini menjadi
salah satu fondasi penting bagi pengembangan teknologi konversi biomassa di
masa depan. Meski demikian, penelitian ini masih berfokus pada pengembangan
proses dan pemahaman mekanisme reaksi, sehingga belum ditujukan untuk
menghasilkan bahan bakar yang siap digunakan secara komersial.
Melalui penelitian seperti ini, Program Studi Teknik Kimia Universitas Pertamina terus mendorong mahasiswa dan dosen menghasilkan inovasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat dan industri. Semangat tersebut merupakan bagian dari UPER Berdampak, yaitu menghadirkan riset yang mampu menjawab tantangan nasional melalui pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Penelitian ini juga mendukung Asta Cita ke-5 dalam memperkuat hilirisasi sumber daya alam dan pembangunan ekonomi hijau, sekaligus berkontribusi terhadap SDG 7 ( Affordable and Clean Energy) dan SDG 9 (Industry, Innovation, and Infrastructure) melalui pemanfaatan biomassa sebagai sumber bahan kimia dan energi yang lebih berkelanjutan
Referensi:
Berita BRMP Perkebunan (2025). Analisis Pasar Karet Alam Indonesia dalam Konteks Global.
BPS (2025). Data Statistik Pekebunan Karet Alam Indonesia.
Biomass and Bioenergy (2025): Pyrolysis depolymerization of fresh natural rubber into liquid medium-chain bio-hydrocarbon products: Investigation of volatile-state kinetics approach and mechanism reaction analysis.
Gambar: Le Trung / Unplash.com