ID / EN
Berita Populer

Kabel Belibet Jakarta: Masalah Estetika atau Masalah Teknik?


Published by: Universitas Pertamina Selasa, 9 Juni 2026
Dibaca: 25 kali
Coba sekali-kali mendongak saat berjalan kaki di Jakarta. Di atas kepala, kabel-kabel saling bersilangan, melilit tiang, menjuntai rendah, bahkan kadang menggantung nyaris menyentuh jalan. Karena terlalu sering terlihat, pemandangan ini terasa biasa saja—seolah langit kota memang seharusnya dipenuhi benang-benang hitam yang kusut. Padahal, kalau dipikir ulang, ada sesuatu yang sebenarnya tidak beres.

Bagi banyak orang, kabel semrawut mungkin hanya dianggap masalah visual: membuat kota tampak kumuh, tidak rapi, dan terasa kurang layak bagi kota yang bercita-cita menjadi kota global. Namun, dari sudut pandang teknik elektro dan tata kota, persoalannya jauh dari sekadar estetika.

Di balik kabel yang tampak acak itu tersimpan isu yang lebih serius: keselamatan publik, keandalan pasokan listrik, hingga kualitas pengelolaan infrastruktur energi perkotaan. Dengan kata lain, kekusutan di atas kepala kita bukan hanya soal apa yang terlihat, tetapi juga tentang bagaimana sebuah kota bekerja.

Bukan Cuma Kurang Enak Dipandang

Kabel yang menjuntai bukan sekadar mengganggu mata, tetapi juga bisa memakan korban. Pada awal 2023, seorang remaja di Jalan Pangeran Antasari, Jakarta Selatan, terjerat kabel fiber optik yang menggantung rendah saat berkendara, dan kejadian itu sempat ramai jadi sorotan (ANTARA, 2023). Tiga tahun berselang, sebuah bus tersangkut kabel di kawasan Tamansari, Jakarta Barat, sampai membuat tiang utilitas roboh (Kompas, April 2026).

Belum lagi risiko yang lebih "diam-diam": kabel listrik yang kusut dan saling bersentuhan dengan jaringan lain rawan korsleting, dan korsleting adalah salah satu pemicu kebakaran yang sering luput diperhatikan. Jadi sebelum bicara indah atau tidaknya kota, kabel semrawut sudah lebih dulu jadi soal keselamatan publik.

Kenapa Kabel Listrik di Jakarta Bisa Semrawut?

Pertanyaan ini menarik dijawab dari sisi teknik, bukan sekadar "ya karena tidak dirapikan". Setidaknya ada beberapa sebab yang saling menumpuk.

Pertama, di satu tiang yang sama sering kali bukan cuma kabel listrik yang menggantung. Ada kabel PLN, kabel telepon, kabel internet dari berbagai penyedia, sampai kabel televisi—semuanya numpang di infrastruktur yang sama. Setiap kali ada operator baru menarik jaringan, kabel baru ditambahkan tanpa membongkar yang lama. Lama-lama satu tiang memikul beban yang jauh melebihi rancangannya.

Kedua, memasang kabel di udara itu murah dan cepat. Tinggal tarik dari tiang ke tiang, tidak perlu menggali, tidak perlu izin yang berlapis. Bagi operator, ini pilihan ekonomis. Tapi yang ekonomis untuk satu pihak belum tentu rapi untuk kota secara keseluruhan—dan di sinilah akar kekusutannya.

Ketiga, tidak adanya koridor bersama yang terencana sejak awal. Kabel kawan satu dan kawan lain ditarik sendiri-sendiri dengan jalur masing-masing, sehingga yang terbentuk bukan jaringan yang tertata, melainkan tumpukan yang makin hari makin sulit diurai. Bahkan ada aturan tinggi minimum kabel udara, idealnya sekitar 5 meter dari permukaan jalan, yang dalam praktiknya banyak dilanggar karena beban kabel terlalu berat hingga melorot.

Apa Hubungannya dengan Keandalan Jaringan Listrik?

Inilah bagian yang paling sering terlewat. Dalam teknik elektro, salah satu ukuran penting sebuah jaringan distribusi listrik bukan cuma "menyala atau tidak", melainkan keandalannya: seberapa jarang listrik padam, dan seberapa cepat pulih kalau terjadi gangguan.

Kabel yang dipasang di udara, secara teknis, lebih rentan. Ia terpapar cuaca—hujan, angin kencang, panas yang bikin material menua lebih cepat. Ia bisa tersenggol dahan pohon, tertabrak kendaraan tinggi, atau terganggu pekerjaan di sekitarnya. Setiap gangguan fisik ini berpotensi memutus pasokan atau memicu korsleting. Artinya, makin banyak kabel menggantung tak beraturan, makin banyak pula "titik lemah" yang bisa membuat jaringan terganggu.

Ada pula soal yang lebih halus: ketika kabel listrik tegangan menengah berdempetan dengan kabel telekomunikasi tanpa jarak aman, bisa muncul gangguan induksi yang mengganggu kualitas keduanya. Jadi kekusutan itu bukan hanya masalah mekanis, tapi juga bisa menurunkan mutu jaringan secara kelistrikan.
Singkatnya, kabel semrawut bukan sekadar etalase kota yang berantakan—ia adalah jaringan distribusi yang dirancang seadanya, dengan keandalan yang dipertaruhkan.

SJUT dan Ducting Bawah Tanah: Solusi, Tapi Bukan Sulap

Jawaban yang sedang didorong Pemprov Jakarta adalah memindahkan kabel-kabel itu ke bawah tanah lewat Sarana Jaringan Utilitas Terpadu (SJUT). Idenya sederhana: alih-alih menggantung di udara, kabel listrik, telekomunikasi, dan serat optik ditempatkan dalam satu koridor bawah tanah yang tertata, biasanya melalui saluran (ducting) yang ditanam pada kedalaman sekitar 1,5 meter. Penataan ini sudah berjalan bertahap—di Jakarta Selatan, pembangunan di sepuluh ruas jalan tercatat sudah mencapai sekitar 82 persen pada April 2025 (ANTARA, 2025).

Hasilnya pun mulai terlihat angkanya. Pemprov DKI Jakarta sejauh ini sudah menertibkan sepanjang 13.774 km kabel fiber optik udara di Jakarta Selatan, bagian dari upaya mewujudkan wilayah yang sepenuhnya bebas kabel udara demi kenyamanan warga. 

Menurut Kepala Pusat Data dan Informasi Dinas Bina Marga DKI Jakarta, Wiwik Wahyuni, penertiban itu terpusat di empat jalan utama: Jalan Mampang Prapatan (5.281 km), Jalan Kapten Tendean (3.986 km), Jalan Senopati (3.024 km), dan Jalan Suryo (1.483 km) (Antara, 2024). Angka ini masih bagian dari target yang lebih besar, yakni penertiban kabel di sepuluh lokasi SJUT yang sudah terbangun dengan total panjang sekitar 24.738 km. Artinya, pekerjaan merapikan langit Jakarta baru menyelesaikan separuh jalan dan itu pun baru di satu wilayah.

Dari sudut pandang teknik elektro, memindahkan kabel ke bawah tanah memang menawarkan sejumlah keunggulan. Jaringan menjadi lebih terlindungi dari hujan, angin, dahan pohon, hingga benturan kendaraan, sehingga risiko gangguan akibat faktor eksternal dapat ditekan. Selain meningkatkan keandalan pasokan listrik dan telekomunikasi, langkah ini juga mengurangi risiko kabel menjuntai, korsleting, atau bahaya keselamatan di ruang publik. Kota pun terasa lebih tertata, bukan hanya secara visual, tetapi juga secara teknis.

Meski begitu, i
nfrastruktur ini membutuhkan biaya pemasangan yang jauh lebih besar dibanding kabel udara. Saat terjadi gangguan pun, proses penanganannya cenderung lebih rumit karena sumber masalah tidak terlihat secara langsung. Jika kabel udara yang putus bisa segera teridentifikasi secara visual, gangguan kabel bawah tanah memerlukan pelacakan teknis dan kadang pembongkaran jalan untuk perbaikan. Karena itu, pengelolaan jaringan bawah tanah memerlukan standar pemulihan yang ketat; dalam sistem Saluran Jaringan Utilitas Terpadu (SJUT), misalnya, terdapat target waktu pemulihan gangguan fisik tertentu hingga sekitar 22 jam.

Inilah alasan mengapa penataan kabel tidak bisa dilakukan secara serentak. Jaringan yang harus dipindahkan sangat panjang, kompleks, dan mahal, sehingga implementasinya berlangsung bertahap. Akibatnya, di banyak wilayah penyangga Jakarta, seperti sebagian kawasan di Tangerang Selatan, kabel semrawut kemungkinan masih akan menjadi bagian dari pemandangan sehari-hari untuk beberapa waktu ke depan.

Jadi, Estetika atau Teknik?

Jawaban paling jujur: dua-duanya, tapi yang lebih mendasar adalah soal teknik. Kabel rapi memang membuat kota lebih enak dipandang, dan itu bonus yang menyenangkan. Namun di lapis yang lebih dalam, merapikan kabel berarti membenahi cara sebuah kota menyalurkan listrik dan datanya, membuatnya lebih aman, lebih andal, dan lebih mudah dikelola di masa depan.

Kalau pertanyaan tentang bagaimana listrik mengalir, jaringan bekerja, atau kota menjaga sistem energinya tetap andal terdengar menarik bagimu, mungkin ini saatnya melirik dunia Teknik Elektro. Sebab, kabel semrawut di Jakarta hanyalah satu dari sekian banyak persoalan nyata yang dipelajari dan dicari solusinya di bidang ini. 

Di Program Studi Teknik Elektro Universitas Pertamina, kamu akan belajar merancang, menganalisis, dan menjaga sistem kelistrikan—mulai dari jaringan distribusi hingga teknologi energi masa depan. Ingin bergabung dengan Porgram Studi Teknik Elektro Universitas Pertamina? Daftarkan diri kamu di Website Resmi Penerimaan Mahasiswa Baru Universitas Pertamina.

Referensi:
  • Kompas, "Di Bawah Belantara Kabel" (kompas.id)
  • Kompas.com, pemberitaan penataan kabel dan SJUT Jakarta Selatan (April & Juni 2026)
  • Antara, "Pemilik Jaringan Utilitas Diimbau Beralih ke Kabel Bawah Tanah" (2025) dan pemberitaan penertiban kabel fiber optik Jakarta Selatan (2024)
  • sjut.net, standar layanan Sarana Jaringan Utilitas Terpadu


Thumbnail
Bagikan:
Bagikan ke WhatsApp
Bagikan ke Facebook
Bagikan ke X
Bagikan ke Telegram
Bagikan ke LinkedIn

Tinggalkan Balasan
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalan UU ITE

© 2026 Universitas Pertamina.
All rights reserved