ID / EN
Berita Populer

Bagaimana Film Dokumenter Membentuk Persepsi Publik: Pelajaran dari “Pesta Babi”


Published by: Universitas Pertamina Selasa, 12 Mei 2026
Dibaca: 32 kali
Film dokumenter selama ini dikenal sebagai media yang menyajikan realitas dan fakta di tengah masyarakat. Namun di era digital, dokumenter tidak hanya berfungsi sebagai tontonan edukatif, melainkan juga mampu membentuk persepsi publik terhadap suatu budaya, isu sosial, maupun kelompok tertentu. Cara sebuah cerita dikemas melalui visual, narasi, sudut pengambilan gambar, hingga pemilihan narasumber dapat memengaruhi bagaimana audiens memahami sebuah realitas.

Fenomena tersebut terlihat dalam dokumenter “Pesta Babi” yang sempat menjadi perhatian publik karena mengangkat tradisi budaya lokal yang sensitif bagi sebagian masyarakat. Film ini memunculkan berbagai respons di media sosial. Sebagian penonton menilai dokumenter tersebut membuka wawasan mengenai tradisi yang mungkin belum banyak diketahui publik, sementara sebagian lainnya menilai penyajiannya berpotensi menimbulkan stereotip atau kesalahpahaman budaya.

Bagaimana Film Membentuk Opini Publik

Perdebatan mengenai “Pesta Babi” menunjukkan bahwa film dokumenter dan persepsi publik memiliki hubungan yang sangat erat. Dalam dunia komunikasi massa, media tidak hanya menyampaikan fakta, tetapi juga membentuk cara audiens memaknai fakta tersebut. Konsep ini dikenal sebagai framing media, yaitu bagaimana media memilih sudut pandang tertentu dalam menyampaikan realitas kepada publik.

Perkembangan media digital membuat film dokumenter kini lebih mudah menjangkau audiens luas melalui platform streaming maupun media sosial. Potongan adegan yang viral di TikTok, Instagram, atau X bahkan sering membentuk opini publik sebelum audiens menonton keseluruhan filmnya. 

Akibatnya, persepsi masyarakat terhadap sebuah budaya atau isu dapat terbentuk hanya dari cuplikan pendek yang beredar di internet. Fenomena ini menunjukkan bahwa media audiovisual memiliki kekuatan besar dalam membangun framing terhadap suatu realitas sosial.

Fenomena serupa juga pernah terlihat pada dokumenter "Ice Cold: Murder, Coffee and Jessica Wongso" yang ramai diperbincangkan publik Indonesia. Dokumenter tersebut memicu kembali diskusi masyarakat mengenai kasus kopi sianida dan memperlihatkan bagaimana media audiovisual dapat membangun ulang opini publik terhadap suatu peristiwa yang telah lama terjadi. Bahkan, Kejaksaan Agung sempat menyatakan bahwa film dokumenter tersebut sangat memengaruhi opini publik terhadap kasus yang telah inkrah (Medistiara, 2023).

“Pesta Babi” dan Framing Budaya Lokal

Dalam konteks “Pesta Babi”, dokumenter menjadi contoh bagaimana media visual mampu membingkai budaya lokal menjadi bahan diskusi publik yang luas. Penonton tidak hanya menerima informasi, tetapi juga membawa sudut pandang, nilai sosial, dan pengalaman pribadi masing-masing ketika menafsirkan isi film. Karena itu, dokumenter sering kali memiliki dampak emosional yang lebih kuat dibandingkan berita biasa atau tulisan informatif.

Di era digital saat ini, kemampuan memahami bagaimana film membentuk opini publik menjadi semakin penting. Masyarakat perlu memiliki literasi media agar mampu melihat sebuah konten secara lebih kritis, termasuk memahami bahwa setiap media memiliki perspektif tertentu dalam menyampaikan cerita. Dengan begitu, publik tidak mudah menerima suatu representasi budaya secara mentah tanpa memahami konteks yang lebih luas.

Pentingnya Literasi Media di Era Digital

Kajian mengenai film dokumenter, komunikasi massa, serta framing media dan budaya lokal juga menjadi bagian penting dalam studi ilmu komunikasi modern. Hal tersebut turut menjadi perhatian Program Studi Komunikasi Universitas Pertamina yang mendorong mahasiswa untuk memahami dinamika komunikasi digital, produksi media, hingga fenomena opini publik di tengah perkembangan teknologi informasi. 

Melalui pembelajaran yang relevan dengan perkembangan industri media saat ini, mahasiswa tidak hanya dibekali kemampuan membuat konten kreatif, tetapi juga kemampuan menganalisis dampak sosial dari sebuah pesan media terhadap masyarakat.

Mahasiswa diajak memahami bagaimana media dapat membentuk persepsi publik, membangun framing terhadap suatu isu, hingga memengaruhi cara masyarakat melihat budaya dan realitas sosial. Pemahaman ini menjadi penting di era digital ketika informasi dapat tersebar dengan cepat melalui film, media sosial, maupun platform digital lainnya. Dengan pendekatan pembelajaran berbasis praktik dan isu aktual, mahasiswa juga didorong untuk menjadi komunikator yang kritis, adaptif, serta bertanggung jawab dalam menyampaikan informasi kepada publik.

Melalui Program Studi Komunikasi Universitas Pertamina, mahasiswa memiliki kesempatan untuk mempelajari berbagai bidang komunikasi modern seperti komunikasi digital, produksi audio visual, media kreatif, public relations, hingga analisis media dan opini publik yang semakin dibutuhkan di industri saat ini.

Komunikasi, Representasi Budaya, dan SDGs

Topik ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 16 tentang Peace, Justice and Strong Institutions yang mendorong terciptanya masyarakat inklusif, terbuka, dan memiliki akses terhadap informasi yang bertanggung jawab. 

Dalam konteks film dokumenter seperti “Pesta Babi”, penting bagi masyarakat untuk memiliki kemampuan memahami informasi secara kritis agar tidak mudah terjebak pada stereotip, misinformasi, maupun penilaian sepihak terhadap suatu budaya atau kelompok sosial. Literasi media menjadi bagian penting dalam membangun ruang diskusi publik yang lebih sehat, terbuka, dan saling menghargai keberagaman perspektif.

Selain itu, topik ini juga berkaitan dengan SDG 10 tentang Reduced Inequalities melalui pentingnya representasi budaya lokal yang adil dan tidak bias di media. Film dokumenter memiliki pengaruh besar dalam membentuk cara publik memandang kelompok atau tradisi tertentu. Karena itu, penyampaian narasi budaya melalui media perlu dilakukan secara bertanggung jawab agar tidak memperkuat stigma ataupun kesalahpahaman sosial di tengah masyarakat yang beragam.

Informasi lebih lanjut mengenai Program Studi Komunikasi Universitas Pertamina dapat diakses melalui PMB Universitas Pertamina.

Thumbnail
Bagikan:
Bagikan ke WhatsApp
Bagikan ke Facebook
Bagikan ke X
Bagikan ke Telegram
Bagikan ke LinkedIn

Tinggalkan Balasan
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalan UU ITE

© 2026 Universitas Pertamina.
All rights reserved