Universitas Pertamina (UPER) kembali menegaskan perannya sebagai kampus yang aktif mendorong pembangunan berkelanjutan melalui kontribusi nyata di sektor energi nasional. Melalui Sustainability Center Universitas Pertamina, UPER menyerahkan policy paper bertajuk “Peningkatan Ketahanan dan Transisi Energi Nasional melalui Transformasi Strategis Pertamina” kepada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang diwakili Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional (DEN).
Penyerahan dilakukan langsung oleh Penjabat Sementara (Pjs.) Rektor Universitas Pertamina sebagai puncak rangkaian forum advokasi kebijakan energi nasional. Inisiatif ini menjadi wujud komitmen UPER Berdampak yang menghadirkan kontribusi nyata melalui rekomendasi kebijakan berbasis riset untuk mendukung ketahanan energi dan pembangunan nasional berkelanjutan.
Policy paper tersebut merupakan hasil kajian kolaboratif para pakar, akademisi, dan Senior Fellow Sustainability Center Universitas Pertamina yang membahas tiga isu strategis energi nasional, yaitu penguatan tata kelola hulu migas, pengembangan biofuel dan biorefinery, serta percepatan Sustainable Aviation Fuel (SAF).
Dalam forum tersebut, Universitas Pertamina mengambil peran sebagai orkestrator advokasi kebijakan energi terintegrasi nasional yang menjembatani perspektif akademik, kebutuhan industri, dan arah kebijakan pemerintah. Langkah ini memperlihatkan bagaimana perguruan tinggi tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan, tetapi juga sebagai penghasil rekomendasi strategis berbasis riset untuk mendukung ketahanan energi dan transisi menuju energi rendah karbon.
Policy paper yang diterbitkan Sustainability Center Universitas Pertamina menekankan pentingnya sinkronisasi kebijakan sektor energi dari hulu hingga hilir agar mampu menjawab tantangan ketahanan energi sekaligus target dekarbonisasi nasional. Dokumen tersebut menyebutkan bahwa sektor energi Indonesia memerlukan pendekatan kebijakan yang terintegrasi, berbasis data, dan mampu memperkuat hubungan antara pengelolaan migas, hilirisasi energi, hingga pengembangan energi bersih.
Pada isu pertama, penguatan tata kelola hulu migas dipandang penting untuk menjaga keberlanjutan pasokan energi nasional dan mendukung proyek hilirisasi. Kajian tersebut menyoroti perlunya harmonisasi regulasi lintas sektor, penguatan investasi eksplorasi, serta integrasi kebijakan antara sektor hulu dan hilir energi.
Sementara itu, pada isu biofuel dan biorefinery, tim penyusun menilai bahwa pengembangan energi berbasis bahan baku terbarukan menjadi solusi strategis untuk menekan impor bahan bakar fosil sekaligus memperkuat industri energi hijau nasional. Kajian tersebut juga mendorong pengembangan green refinery dan penguatan ekosistem ekonomi hijau melalui kebijakan fiskal dan insentif karbon.
Adapun pada pembahasan Sustainable Aviation Fuel (SAF), policy paper menegaskan bahwa sektor penerbangan merupakan sektor yang sulit didekarbonisasi sehingga membutuhkan percepatan regulasi dan pengembangan SAF domestik agar Indonesia tetap kompetitif dalam rantai pasok energi global.
Melalui penyerahan policy paper ini, Universitas Pertamina menegaskan komitmennya sebagai kampus berdampak yang tidak hanya menghasilkan riset akademik, tetapi juga berkontribusi dalam penyusunan rekomendasi kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy) untuk menjawab tantangan strategis nasional.
Melalui Sustainability Center, Universitas Pertamina terus memperkuat perannya sebagai mitra pemerintah, industri, dan masyarakat dalam mendorong lahirnya kebijakan yang mendukung ketahanan energi, transisi energi, serta pembangunan berkelanjutan di Indonesia.
Kontribusi tersebut juga sejalan dengan pelaksanaan Asta Cita Presiden Republik Indonesia, khususnya Asta Cita ke-2 yang menekankan terwujudnya kemandirian bangsa melalui swasembada energi dan pengembangan ekonomi hijau, serta Asta Cita ke-5 mengenai percepatan hilirisasi dan industrialisasi untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.
Rekomendasi yang disampaikan dalam policy paper, mulai dari penguatan tata kelola hulu migas, pengembangan biofuel dan biorefinery, hingga percepatan Sustainable Aviation Fuel (SAF), diharapkan dapat menjadi masukan strategis dalam mendukung arah kebijakan energi nasional yang lebih tangguh, berdaya saing, dan berkelanjutan.
Kegiatan ini juga sejalan dengan komitmen Universitas Pertamina dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 7 tentang Energi Bersih dan Terjangkau melalui dorongan pengembangan biofuel dan Sustainable Aviation Fuel (SAF), SDG 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui penguatan tata kelola energi dan hilirisasi nasional.
Policy paper ini sekaligus menjadi bukti konkret kontribusi akademik Universitas Pertamina dalam mendorong transformasi energi nasional melalui pendekatan kolaboratif antara perguruan tinggi, industri, dan pemerintah.
Dengan semangat menghadirkan riset yang berdampak bagi masyarakat dan pembangunan nasional, Universitas Pertamina terus memantapkan perannya sebagai kampus SDGs yang berkontribusi aktif dalam menghasilkan solusi dan rekomendasi kebijakan untuk mendukung terwujudnya ketahanan energi serta masa depan Indonesia yang berkelanjutan. [MD]