Di tengah padatnya aktivitas perkuliahan semester akhir, tiga mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Pertamina memilih keluar dari zona nyaman dengan mengikuti kompetisi nasional. Dari pengalaman itu, mereka belajar bahwa sebuah ide sederhana dapat tumbuh menjadi solusi sosial yang berdampak bagi masyarakat.
Lewat kampanye bertajuk “Jejak Kota: Langkah Jakarta Menuju Inklusivitas”, tim Pertalight Public Relations yang terdiri dari Miftakhul Laili Afifah, Imtiaz Ahmad, dan Zhaira Zata Aqma berhasil meraih Juara 3 dalam Kompetisi Public Relations Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya. Di balik prestasi tersebut, tersimpan proses panjang yang penuh tantangan, revisi, hingga kerja sama tim yang intens.
Bagi tim Pertalight, ide kampanye “Jejak Kota” lahir dari keresahan yang mereka temui sehari-hari di Jakarta. Mereka melihat bagaimana trotoar yang seharusnya menjadi ruang aman bagi pejalan kaki justru kerap disalahgunakan sebagai area parkir liar maupun tempat berhenti kendaraan. Kondisi tersebut paling dirasakan oleh penyandang disabilitas netra yang kesulitan menggunakan guiding block secara aman dan mandiri.
“Sering kali ide kampanye yang baik bukan berasal dari ide yang rumit, tetapi dari hal-hal sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari dan berdampak nyata bagi banyak orang,” ujar tim Pertalight.
Berangkat dari pengalaman tersebut, mereka membagikan salah satu tips penting bagi mahasiswa yang ingin mengikuti kompetisi serupa, yakni lebih peka terhadap persoalan sosial di sekitar. Menurut mereka, kreativitas saja tidak cukup tanpa didukung data dan riset yang kuat agar solusi yang ditawarkan benar-benar tepat sasaran.
Dalam proses penyusunan kampanye, tantangan terbesar yang dihadapi adalah menentukan fokus target audiens. Tim menyadari bahwa masalah penyalahgunaan trotoar melibatkan banyak pihak, mulai dari pengendara motor, pedagang kaki lima, hingga parkir liar.
“Kalau semua elemen masyarakat yang terlibat dijadikan target utama, kampanye akan menjadi terlalu luas. Karena itu kami menggunakan skala prioritas untuk menentukan audiens yang paling relevan dan paling memungkinkan dijangkau,” jelas tim Pertalight.
Di balik solidnya konsep kampanye, pembagian peran dalam tim juga menjadi salah satu kunci keberhasilan mereka. Zhaira Zata Aqma bertanggung jawab dalam pengolahan dan analisis data, Miftakhul Laili Afifah fokus pada perancangan strategi komunikasi, sedangkan Imtiaz Ahmad mengembangkan materi visual seperti desain grafis dan video kampanye. Pembagian tugas tersebut membuat setiap anggota dapat fokus mendalami perannya masing-masing, termasuk saat sesi presentasi dan tanya jawab bersama dewan juri.
Dalam proses pengembangan konsep, tim juga mendapat pendampingan intensif dari dosen pembimbing Muhammad Nur Ahadi, M.I.Kom., dan Ita Musfirowati Hanika, M.I.Kom. Melalui sesi bimbingan yang rutin, keduanya banyak membantu tim mempertajam insight, memastikan relevansi kampanye dengan masalah yang diangkat, hingga menyusun strategi komunikasi yang realistis untuk diterapkan.
“Salah satu arahan yang paling membekas bagi kami adalah kampanye yang baik bukan hanya menarik secara visual, tetapi juga harus benar-benar berangkat dari masalah nyata yang dekat dengan target audiens,” ungkap tim Pertalight.
Saat hari kompetisi tiba, suasana presentasi menjadi pengalaman yang tak terlupakan bagi mereka. Dengan waktu presentasi yang terbatas, tim dituntut mampu menyampaikan inti kampanye secara jelas dan meyakinkan di hadapan dewan juri. Meski sempat gugup, mereka berusaha saling mendukung dan menguatkan sebelum tampil.
“Kompetisi ini membuat kami belajar berpikir lebih terstruktur dalam waktu singkat, sekaligus melatih keberanian dan kepercayaan diri saat pitching maupun sesi tanya jawab,” ujar tim Pertalight.
Dari seluruh proses tersebut, tim Pertalight menyadari bahwa kemampuan critical thinking menjadi keterampilan paling penting bagi mahasiswa komunikasi yang ingin bersaing di tingkat nasional. Kemampuan berpikir kritis membantu mereka menganalisis masalah, menentukan strategi kampanye, hingga memilih media komunikasi yang sesuai dengan karakter audiens.
Bagi ketiganya, kemenangan ini bukan hanya soal trofi atau gelar juara, tetapi juga tentang keberanian untuk mencoba hal baru dan belajar menghadapi tantangan di luar ruang kelas. Melalui pengalaman tersebut, mereka berharap semakin banyak mahasiswa berani keluar dari zona nyaman dan menjadikan kompetisi sebagai ruang belajar untuk mengasah kemampuan sekaligus menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat.
Inisiatif yang diusung tim Komunikasi UPER ini juga sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin ke-11 tentang Sustainable Cities and Communities. Kampanye “Jejak Kota” tidak hanya mengangkat persoalan trotoar sebagai fasilitas publik, tetapi juga mendorong terciptanya ruang kota yang lebih aman, inklusif, dan mudah diakses oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk penyandang disabilitas.
Melalui edukasi publik dan dorongan terhadap kesadaran kolektif masyarakat, kampanye ini menjadi bentuk kontribusi generasi muda dalam mendukung pembangunan kota berkelanjutan yang menempatkan hak pejalan kaki dan aksesibilitas sebagai bagian penting dari kualitas hidup perkotaan. [MD]