Di tengah pesatnya transformasi industri energi berbasis Artificial Intelligence (AI), Universitas Pertamina menghadirkan kuliah inspiratif yang membahas masa depan digitalisasi energi dan kebutuhan talenta teknologi di sektor energi nasional.
Melalui kuliah inspiratif Cipta Karsa bertajuk “From Barrel to Byte: Navigating the New Era of Energy Intelligence”, mahasiswa diajak memahami bagaimana AI dan teknologi digital mulai mengubah cara industri energi beroperasi, mulai dari pengelolaan data, optimalisasi aset, hingga efisiensi operasional di berbagai lini bisnis energi.
Kegiatan yang berlangsung secara hybrid pada Selasa, 5 Mei 2026 di Ruang 2101 Gedung Griya Legita Universitas Pertamina dan secara daring melalui Zoom Meeting ini diikuti sekitar 180 peserta dari Program Studi Geologi, Geofisika, Ilmu Komputer, dan Teknik Perminyakan.
Kuliah umum menghadirkan Ir. Helmi Indrajaya, S.T., M.T., M.Sc., M.MT., Senior Expert I Centre of Excellence Pertamina Digital Hub PT Pertamina (Persero), bersama Dr. Joko Nugroho PHW sebagai narasumber. Sementara itu, Intan Oktafiani dari Program Studi Ilmu Komputer Universitas Pertamina turut memandu jalannya diskusi sebagai moderator.
Dalam sesi pemaparan, narasumber menjelaskan bagaimana transformasi digital berbasis AI mulai diterapkan di berbagai lini bisnis industri energi. Tidak hanya membahas konsep, peserta juga diperkenalkan pada implementasi nyata teknologi digital di lingkungan PT Pertamina (Persero) melalui berbagai proyek unggulan seperti Digital Factory, Chance-X, dan Smart Port.
Berbagai inovasi tersebut dikembangkan untuk meningkatkan efisiensi operasional, memperkuat pengambilan keputusan berbasis data, serta mengoptimalkan pengelolaan aset perusahaan. Melalui transformasi digital ini, Pertamina menargetkan peningkatan EBITDA hingga USD 300 juta pada tahun 2027 dengan efisiensi operasional mencapai 10–20 persen di seluruh rantai bisnis energi, mulai dari sektor hulu hingga hilir.
Ir. Helmi Indrajaya menegaskan bahwa perkembangan teknologi harus diimbangi dengan kesiapan sumber daya manusia yang adaptif dan mampu memanfaatkan AI secara bertanggung jawab.
“Jangan takut menggunakan AI, takutlah dengan orang yang menggunakan AI. Karena itu, teknologi harus dimanfaatkan secara bijak dan bertanggung jawab agar dapat memberikan dampak positif bagi industri maupun masyarakat,” ujarnya.
Diskusi berlangsung interaktif dengan antusiasme peserta yang tinggi, terutama terkait perkembangan AI, peluang karier di sektor energi digital, hingga tantangan transformasi industri di masa depan. Kegiatan ini juga memperlihatkan bahwa kolaborasi antara bidang energi dan teknologi menjadi kompetensi penting yang semakin dibutuhkan industri.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa memperoleh pemahaman mengenai perkembangan teknologi digital di sektor energi sekaligus pentingnya kompetensi data dan Artificial Intelligence (AI) dalam menghadapi kebutuhan industri masa depan.
Kehadiran praktisi industri dalam forum akademik ini turut memperkuat keterhubungan antara dunia pendidikan dan industri, sekaligus mendorong lahirnya talenta muda yang adaptif terhadap transformasi teknologi dan mampu berkontribusi dalam pengembangan industri energi nasional.
Kegiatan ini juga sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui penguatan literasi teknologi, inovasi digital, dan pemanfaatan AI untuk mendukung transformasi industri energi yang lebih efisien, modern, dan berkelanjutan. [MV]