ID / EN
Berita Populer

Transisi Energi Indonesia: Bagaimana Masa Depan Minyak dan Gas di Tengah Target Net Zero


Published by: Universitas Pertamina Selasa, 22 September 2026
Dibaca: 10 kali


Transisi energi menjadi tantangan penting bagi Indonesia dalam menjaga ketahanan energi sekaligus mengurangi emisi gas rumah kaca. Di tengah pengembangan energi terbarukan, minyak dan gas bumi masih berperan dalam memenuhi kebutuhan energi industri, transportasi, dan masyarakat. Kondisi ini membuat transformasi sektor migas menjadi bagian penting dalam pembahasan masa depan energi nasional.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat, rata-rata lifting minyak bumi Indonesia pada 2025 mencapai 605,3 ribu barel per hari, setara 100,05 persen dari target APBN. Untuk 2026, pemerintah menetapkan target lifting minyak sebesar 610 ribu barel per hari. Data tersebut memperlihatkan bahwa pengelolaan dan peningkatan produksi minyak masih menjadi agenda sektor energi Indonesia di tengah proses transisi menuju energi rendah karbon. 

Lantas, bagaimana industri minyak dan gas dapat beradaptasi dengan target Net Zero Emission (NZE)? Jawabannya tidak hanya berkaitan dengan pengembangan sumber energi alternatif, tetapi juga dengan penerapan teknologi, efisiensi operasi, dan pengelolaan emisi dalam kegiatan industri.

Minyak dan Gas Masih Berperan dalam Transisi Energi

Minyak dan gas bumi memiliki fungsi berbeda dalam sistem energi. Minyak digunakan untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar transportasi dan sebagai bahan baku industri petrokimia. Sementara itu, gas bumi dimanfaatkan untuk kebutuhan industri, pembangkitan listrik, serta berbagai penggunaan domestik lainnya.

Besarnya kebutuhan tersebut terlihat dari data Kementerian ESDM. Sepanjang 2025, sekitar 69 persen dari total pasokan gas bumi, atau 3.908 BBTUD, dimanfaatkan untuk kebutuhan dalam negeri. Pemanfaatannya mencakup hilirisasi, ketenagalistrikan, dan kebutuhan domestik lainnya. 

Angka ini menunjukkan bahwa gas bumi masih menjadi bagian dari pemenuhan kebutuhan energi nasional. Namun, perannya dalam masa transisi tetap perlu mempertimbangkan upaya pengurangan emisi dan pengembangan energi terbarukan.

Pemerintah juga menghadapi tantangan untuk menjaga produksi minyak dari lapangan yang telah beroperasi sekaligus mengembangkan potensi sumber daya baru. Karena itu, masa depan industri migas tidak hanya bergantung pada ketersediaan cadangan, tetapi juga pada kemampuan menerapkan teknologi untuk meningkatkan efisiensi dan mengoptimalkan produksi.

Teknologi Menjadi Bagian dari Transformasi Industri Migas

Salah satu pendekatan yang digunakan untuk mengoptimalkan produksi minyak adalah Enhanced Oil Recovery (EOR), yaitu metode untuk meningkatkan perolehan minyak dari reservoir yang tidak dapat diproduksi secara optimal melalui metode konvensional. Teknologi pengeboran horizontal dan pemodelan reservoir juga dapat membantu perusahaan merencanakan kegiatan produksi berdasarkan kondisi geologi dan karakteristik lapangan.

Kementerian ESDM menyebut penerapan EOR, fracking, dan pengeboran horizontal sebagai teknologi yang dapat dipertimbangkan untuk meningkatkan produksi dari lapangan migas. Penerapannya tetap memerlukan evaluasi teknis dan keekonomian agar sesuai dengan karakteristik masing-masing lapangan. 

Selain mengoptimalkan produksi, industri juga perlu memperhatikan emisi yang dihasilkan selama kegiatan operasional. Pemantauan kebocoran metana, efisiensi penggunaan energi, dan perbaikan fasilitas produksi merupakan beberapa langkah yang dapat mendukung pengelolaan emisi.

Teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) dan Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) juga dikembangkan untuk menangkap karbon dioksida dan menyimpannya secara permanen atau memanfaatkannya melalui proses tertentu. Kementerian ESDM menyebut teknologi ini sebagai salah satu pendekatan yang dapat mendukung pengurangan emisi, khususnya pada industri yang relatif sulit menekan emisinya. 

Meski demikian, teknologi tersebut bukan solusi tunggal untuk mencapai NZE. Penerapannya membutuhkan kajian kelayakan, investasi, infrastruktur, dan pengawasan lingkungan. Pengurangan emisi juga perlu berjalan bersama pengembangan energi terbarukan dan peningkatan efisiensi energi.

Mengapa Teknik Perminyakan Tetap Relevan?

Perubahan tersebut turut membentuk kebutuhan kompetensi di industri energi. Keahlian teknik perminyakan tidak hanya berkaitan dengan eksplorasi, pengeboran, dan produksi minyak dan gas, tetapi juga dengan analisis data bawah permukaan, optimalisasi reservoir, keselamatan operasi, serta evaluasi penerapan teknologi.

Pemahaman mengenai karakteristik batuan dan reservoir, misalnya, dibutuhkan untuk menentukan strategi pengembangan lapangan. Sementara itu, kemampuan menganalisis data produksi membantu mengidentifikasi potensi peningkatan efisiensi dan mengevaluasi kinerja sumur.

Dalam konteks transisi energi, pengetahuan teknik perminyakan juga relevan untuk memahami aspek teknis penyimpanan karbon bawah permukaan dan pengelolaan risiko pada fasilitas migas. Pengembangan kompetensi tersebut dapat mendukung adaptasi tenaga profesional terhadap perubahan kebutuhan industri.

Bagi calon mahasiswa yang tertarik pada rekayasa bawah permukaan dan pengelolaan sumber daya energi, Program Studi Teknik Perminyakan Universitas Pertamina (UPER) dapat menjadi pilihan untuk mempelajari dasar-dasar keilmuan perminyakan. Bidang ini berkaitan dengan tantangan industri energi yang membutuhkan pemahaman teknis, kemampuan analitis, serta perhatian terhadap keselamatan dan keberlanjutan.

Menyiapkan Talenta untuk Masa Depan Energi Indonesia

Transisi energi membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, industri, perguruan tinggi, dan masyarakat. Pendidikan serta riset berperan dalam menyiapkan sumber daya manusia yang mampu memahami perkembangan teknologi dan menjawab tantangan pengelolaan energi secara bertanggung jawab.

Upaya tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 7 tentang Energi Bersih dan Terjangkau, SDG 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, serta SDG 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim.

Penguatan sumber daya manusia, sains, teknologi, dan pendidikan juga berkaitan dengan arah Asta Cita, khususnya pembangunan kualitas manusia serta penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Melalui semangat UPER Berdampak, Universitas Pertamina mendorong pendidikan yang relevan dengan kebutuhan industri dan tantangan pembangunan berkelanjutan.

Bagi calon mahasiswa yang ingin mendalami rekayasa minyak dan gas serta memahami perkembangan teknologi di sektor energi, Program Studi Teknik Perminyakan Universitas Pertamina dapat menjadi langkah awal untuk mempersiapkan kompetensi di bidang tersebut. Informasi mengenai program studi dan penerimaan mahasiswa baru dapat diakses melalui laman resmi PMB Universitas Pertamina.

Referensi:
Kementerian ESDM. 2026. Capaian Positif Tahun 2025, Negara Hadir Penuhi Kebutuhan Energi Masyarakat. https://www.esdm.go.id/en/media-center/news-archives/capaian-positif-tahun-2025-negara-hadir-penuhi-kebutuhan-energi-masyarakat 
Kementerian ESDM. 2026. Pemerintah Andalkan Teknologi Lanjutan Tingkatkan Lifting Migas. https://www.esdm.go.id/id/media-center/arsip-berita/pemerintah-andalkan-teknologi-lanjutan-tingkatkan-lifting-migas 


Thumbnail
Bagikan:
Bagikan ke WhatsApp
Bagikan ke Facebook
Bagikan ke X
Bagikan ke Telegram
Bagikan ke LinkedIn

Tinggalkan Balasan
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalan UU ITE

© 2026 Universitas Pertamina.
All rights reserved