JAKARTA — Minyak jelantah tidak selalu harus berakhir sebagai limbah. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat bahwa konsumsi minyak goreng sawit nasional pada 2019 mencapai sekitar 16,2 juta kiloliter (KL), dengan potensi minyak jelantah yang dihasilkan diperkirakan mencapai 40–60 persen atau sekitar 6,46–9,72 juta KL. Namun, minyak jelantah yang berhasil dikumpulkan saat itu baru sekitar 3 juta KL. Data tersebut menunjukkan adanya potensi besar untuk mengolah minyak goreng bekas menjadi produk bernilai tambah, termasuk sebagai bahan baku biodiesel.
Sebagai sumber energi pemanfaatan minyak jelantah menjadi salah satu contoh penerapan ekonomi sirkular, yakni mengubah material yang sebelumnya dianggap sebagai limbah menjadi sumber daya yang kembali memiliki nilai guna. Bagi Indonesia yang tengah mendorong diversifikasi energi dan pengembangan energi yang lebih berkelanjutan, pemanfaatan limbah minyak goreng dapat menjadi bagian dari upaya memperluas sumber bahan baku energi alternatif.
Bagaimana Proses Mengubah Minyak Jelantah Menjadi Energi?
Secara umum, proses pengolahan minyak jelantah menjadi biodiesel terdiri atas beberapa tahapan. Tahap pertama adalah pengumpulan dan penyaringan untuk memisahkan sisa makanan, partikel padat, dan pengotor lain yang terdapat dalam minyak.
Tahap berikutnya adalah pemurnian atau pretreatment. Pada tahap ini, karakteristik minyak jelantah diperiksa dan dilakukan proses untuk mengurangi kandungan air serta pengotor yang dapat mengganggu reaksi kimia. Tahapan tersebut penting karena kualitas bahan baku sangat menentukan keberhasilan proses produksi biodiesel.
Setelah bahan baku memenuhi kondisi yang diperlukan, proses dapat dilanjutkan dengan reaksi esterifikasi dan/atau transesterifikasi. Dalam proses transesterifikasi, minyak atau trigliserida direaksikan dengan alkohol, seperti metanol, menggunakan katalis. Reaksi tersebut menghasilkan fatty acid methyl ester (FAME) sebagai komponen utama biodiesel dan gliserol sebagai produk samping.
Proses tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan minyak jelantah sebagai energi bukan sekadar kegiatan daur ulang sederhana. Diperlukan pemahaman mengenai karakteristik bahan, reaksi kimia, suhu, katalis, pemisahan produk, hingga pengujian kualitas bahan bakar.
Universitas Pertamina melalui Program Studi Teknik Kimia juga telah memperkenalkan proses pengolahan minyak jelantah menjadi biodiesel dalam kegiatan pembelajaran berbasis praktik. Dalam salah satu kegiatan Research Based-Learning, minyak jelantah dimurnikan menggunakan natrium hidroksida (NaOH) dan karbon aktif, kemudian diproses menggunakan NaOH dan metanol pada suhu sekitar 55–57°C untuk memicu reaksi transesterifikasi. Produk biodiesel selanjutnya dipisahkan dari gliserol dan diproses untuk mengurangi kandungan air.
Dari Limbah Rumah Tangga Menjadi Sumber Energi
Pengolahan minyak jelantah memiliki manfaat yang tidak hanya berkaitan dengan energi. Minyak yang dibuang secara sembarangan dapat mencemari lingkungan perairan. Kementerian ESDM menyebut pembuangan minyak jelantah dapat meningkatkan nilai Chemical Oxygen Demand (COD) dan Biological Oxygen Demand (BOD) di perairan serta mengganggu penetrasi cahaya dan kehidupan biota air.
Sistem pengumpulan minyak jelantah menjadi bagian penting dari rantai pemanfaatannya. Rumah tangga, restoran, pelaku usaha makanan, komunitas, hingga industri dapat berperan sebagai pemasok bahan baku. Selanjutnya, minyak tersebut dapat dikumpulkan, diproses, dan dikonversi menjadi produk bernilai tambah.
Peran Teknik Kimia dalam Pengembangan Energi Berkelanjutan
Pengolahan minyak jelantah menjadi biodiesel merupakan salah satu contoh bagaimana ilmu Teknik Kimia berperan dalam menjawab tantangan energi dan lingkungan. Bidang ini tidak hanya mempelajari reaksi kimia, tetapi juga bagaimana suatu proses dirancang, dioptimalkan, dikendalikan, dan dikembangkan agar dapat diterapkan secara aman serta efisien dalam skala industri.
Program Studi Teknik Kimia Universitas Pertamina membekali mahasiswa dengan kemampuan analisis, desain, dan optimasi proses yang dapat diterapkan pada berbagai sektor, termasuk energi, petrokimia, pangan, farmasi, dan lingkungan. Kurikulumnya juga mencakup bidang seperti neraca massa dan energi, kimia organik, termodinamika, hingga pengembangan proses.
Lebih lanjut, salah satu peminatan Teknik Kimia Universitas Pertamina, yaitu Teknik Sistem Proses Kimia Berkelanjutan dan Rekayasa Energi, berfokus pada desain dan optimasi proses, integrasi proses, keselamatan proses, manajemen risiko industri, serta teknologi proses untuk menghasilkan sumber energi atau bahan bakar. Kompetensi tersebut relevan dengan kebutuhan industri yang semakin membutuhkan teknologi pengolahan energi yang efisien dan berkelanjutan.
Sejalan dengan Asta Cita dan SDGs
Pemanfaatan minyak jelantah sebagai bahan baku biodiesel juga sejalan dengan arah pembangunan nasional yang mendorong transisi energi, ekonomi hijau, dan pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan. Kementerian PPN/Bappenas menempatkan ekonomi hijau sebagai bagian dari transformasi ekonomi nasional dan mengaitkannya dengan pelaksanaan Asta Cita serta target pembangunan jangka panjang Indonesia.
Pada tingkat global, pemanfaatan limbah menjadi sumber energi berkaitan erat dengan SDG 7 tentang energi bersih dan terjangkau serta SDG 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab. Pengembangan teknologi pengolahan limbah juga dapat mendukung inovasi industri dan upaya penanganan perubahan iklim melalui pemanfaatan sumber daya secara lebih efisien.
Bagi generasi muda yang tertarik pada teknologi energi, pengolahan limbah, dan inovasi proses industri, Teknik Kimia menjadi salah satu bidang yang memiliki peran strategis dalam menghadirkan solusi tersebut. Universitas Pertamina membuka kesempatan bagi calon mahasiswa untuk mempelajari ilmu dan teknologi yang berkaitan dengan energi serta pengembangan proses berkelanjutan. Informasi mengenai
Program Studi Teknik Kimia dan penerimaan mahasiswa baru dapat diakses melalui halaman resmi
Pendaftaran Universitas Pertamina.
Sumber:
- Kementerian ESDM — Minyak Jelantah: Sebuah Potensi Bisnis Energi yang Menjanjikan
https://www.esdm.go.id/id/media-center/news-archives/potential-energy-business-from-used-cooking-oil
- Kementerian ESDM — Ini Kiat Sukses Bidik Peluang Bisnis Energi dari Minyak Jelantah
https://esdm.go.id/id/media-center/arsip-berita/ini-kiat-sukses-bidik-peluang-bisnis-energi-dari-minyak-jelantah
- Universitas Pertamina — Teknik Kimia UPer Ajak Siswa SMA Ubah Minyak Jelantah Jadi Energi Terbarukan
https://universitaspertamina.ac.id/index.php/berita/detail/teknik-kimia-uper-ajak-siswa-sma-ubah-minyak-jelantah-jadi-energi-terbarukan
- Universitas Pertamina — Kurikulum Program Studi Teknik Kimia
https://universitaspertamina.ac.id/prodi/teknik-kimia/kurikulum
Foto: Istimewa