ID / EN
Berita Populer

Banjir Solok Jadi Pengingat: Bagaimana Teknik Sipil Berperan Membangun Infrastruktur Tahan Bencana?


Published by: Universitas Pertamina Selasa, 29 September 2026
Dibaca: 4 kali

Banjir bandang yang menerjang Kabupaten Solok, Sumatera Barat, pada September 2026 kembali menunjukkan bahwa cuaca ekstrem dapat berdampak besar terhadap kehidupan masyarakat dan infrastruktur. Ketika hujan deras bertemu dengan kondisi lingkungan dan sistem pengelolaan air yang tidak mampu menampung limpasan, jalan, jembatan, permukiman, hingga fasilitas publik dapat ikut terdampak.

Peristiwa tersebut sekaligus mengingatkan bahwa menghadapi banjir bukan hanya persoalan bagaimana menangani bencana setelah terjadi. Ada pekerjaan yang jauh lebih panjang di baliknya, yakni bagaimana sebuah wilayah dirancang agar mampu mengantisipasi, menghadapi, dan pulih dari risiko bencana.

Ketika Hujan Ekstrem Menguji Infrastruktur

Banjir bandang di Kabupaten Solok terjadi pada 21 September 2026 di Nagari Batang Barus, Kecamatan Gunung Talang. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hujan berintensitas tinggi menyebabkan peningkatan aliran sungai. Kondisi tersebut diperparah longsor di sekitar aliran Sungai Batang Laso yang membawa material pasir, batu, lumpur, dan air ke kawasan sekitar Kantor Bupati Solok hingga badan Jalan Raya Solok–Padang.

Dalam perkembangan penanganan hingga akhir September, BNPB mencatat dua orang meninggal dunia, dua orang mengalami luka berat, dan 12 orang luka ringan. Bencana tersebut juga berdampak pada sejumlah rumah serta infrastruktur, termasuk jalan dan jembatan.

Kejadian di Solok bukan sekadar persoalan air yang meluap. Peristiwa tersebut memperlihatkan bagaimana kondisi alam dapat berinteraksi dengan infrastruktur yang digunakan masyarakat setiap hari.

Hal ini menjadi semakin relevan di tengah perubahan pola cuaca. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa hujan dengan intensitas sangat lebat hingga ekstrem, yaitu lebih dari 150 milimeter per hari, semakin menjadi perhatian dalam analisis perubahan iklim di Indonesia (CNN, 2026).

Artinya, pembangunan infrastruktur perlu mempertimbangkan kemungkinan kondisi cuaca yang semakin ekstrem. Infrastruktur yang dirancang berdasarkan kondisi normal saja dapat menghadapi tantangan ketika berhadapan dengan kondisi di luar perkiraan.

Banjir Kota Bukan Sekadar Masalah Drainase

Ketika membicarakan banjir perkotaan, drainase sering menjadi hal pertama yang muncul dalam pikiran. Padahal, persoalannya jauh lebih kompleks.

Sistem drainase memang berfungsi mengalirkan air hujan agar tidak menggenang. Namun, kapasitas drainase juga perlu disesuaikan dengan karakteristik wilayah, intensitas hujan, kondisi daerah tangkapan air, perubahan tata guna lahan, hingga hubungan antara saluran drainase dan sungai.

Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menjelaskan bahwa risiko banjir perkotaan dapat dipengaruhi oleh perubahan tata guna lahan, keterbatasan kapasitas saluran, serta perubahan iklim. Karena itu, pengelolaan banjir membutuhkan pendekatan yang terintegrasi dan adaptif.

Sederhananya, memperbesar saluran belum tentu menjadi solusi apabila persoalan di wilayah hulu, daerah resapan, tata ruang, maupun kapasitas sungai tidak ikut diperhatikan.

Di sinilah perencanaan infrastruktur menjadi penting. Seorang insinyur sipil perlu memahami bagaimana air bergerak, bagaimana tanah merespons air, seberapa besar kapasitas struktur dapat menahan beban, serta bagaimana sebuah infrastruktur akan berfungsi dalam jangka panjang.

Apa Peran Teknik Sipil dalam Menghadapi Banjir?

Teknik Sipil memiliki cakupan yang jauh lebih luas daripada sekadar membangun gedung atau jalan. Bidang ini juga berkaitan dengan bagaimana infrastruktur dirancang agar aman, fungsional, berkelanjutan, dan mampu merespons kondisi lingkungan.

Dalam konteks banjir, misalnya, ilmu hidrologi dapat digunakan untuk memahami karakteristik hujan dan aliran air. Sementara hidraulika membantu menganalisis bagaimana air bergerak melalui saluran maupun sungai.
Pengetahuan tersebut kemudian dapat digunakan dalam perencanaan sistem drainase, bangunan pengendali banjir, jembatan, jalan, hingga berbagai infrastruktur yang berhubungan dengan pengelolaan air.

Tidak berhenti di sana, kondisi tanah juga menjadi faktor penting. Infrastruktur yang dibangun di wilayah rawan longsor, misalnya, membutuhkan pemahaman mengenai karakteristik tanah dan stabilitas lereng agar struktur yang dibangun tidak justru meningkatkan risiko.

Karena itu, menghadirkan infrastruktur tahan bencana membutuhkan pendekatan lintas keilmuan. Perhitungan struktur, kondisi tanah, hidrologi, tata ruang, lingkungan, hingga kebutuhan masyarakat perlu dipertimbangkan secara bersama.

Infrastruktur tahan bencana pada akhirnya bukan hanya tentang membangun lebih kuat, tetapi membangun dengan memahami risiko.

Belajar Menjawab Tantangan Infrastruktur di Teknik Sipil UPER

Persoalan tersebut menjadi salah satu konteks nyata yang dapat dipelajari melalui Program Studi Teknik Sipil Universitas Pertamina (UPER).

Di UPER, mahasiswa Teknik Sipil dibekali pemahaman mengenai perencanaan, perancangan, pelaksanaan, hingga pemeliharaan infrastruktur. Pembelajaran juga mencakup berbagai bidang yang berkaitan dengan tantangan pembangunan modern, termasuk hidrologi dan drainase, hidraulika, bangunan air, mekanika tanah, hingga pembangunan berkelanjutan.

Program Studi Teknik Sipil UPER juga memiliki perhatian pada manajemen bencana dan infrastruktur tanggap bencana, sehingga mahasiswa dapat melihat pembangunan infrastruktur tidak hanya dari sisi teknis, tetapi juga dari perspektif risiko dan keberlanjutan.

Pendekatan tersebut menjadi semakin penting karena tantangan insinyur masa depan tidak lagi sebatas bagaimana membangun infrastruktur baru. Mereka juga perlu mampu menjawab pertanyaan yang lebih besar: bagaimana memastikan infrastruktur tetap berfungsi ketika menghadapi perubahan iklim, pertumbuhan kota, peningkatan kebutuhan masyarakat, dan potensi bencana?

Melalui pembelajaran berbasis proyek dan persoalan nyata, mahasiswa dapat mengembangkan kemampuan untuk melihat permasalahan secara lebih menyeluruh. Bukan hanya menghitung, tetapi juga menganalisis, merancang, dan mencari solusi yang dapat diterapkan.

Membangun Infrastruktur yang Lebih Tangguh

Banjir Solok menjadi salah satu pengingat bahwa pembangunan infrastruktur dan ketahanan terhadap bencana tidak dapat dipisahkan. Ketika perubahan iklim meningkatkan tantangan terhadap lingkungan, kebutuhan terhadap infrastruktur yang adaptif juga semakin besar.

Kota-kota di Indonesia membutuhkan sistem drainase yang direncanakan dengan baik, jaringan jalan dan jembatan yang memperhitungkan risiko, bangunan yang aman, serta pengelolaan air yang terintegrasi. Semua itu membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya menguasai aspek teknis, tetapi juga memahami keberlanjutan dan dampak pembangunan terhadap masyarakat.

Upaya tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 9: Industry, Innovation and Infrastructure melalui pembangunan infrastruktur yang tangguh dan berkelanjutan, SDG 11: Sustainable Cities and Communities untuk menciptakan kawasan perkotaan yang aman dan berketahanan, serta SDG 13: Climate Action dalam menghadapi dampak perubahan iklim.

Semangat tersebut juga sejalan dengan Asta Cita, terutama melalui penguatan kualitas sumber daya manusia dan pembangunan yang memperhatikan keberlanjutan lingkungan. Di tingkat perguruan tinggi, nilai tersebut diwujudkan melalui semangat UPER Berdampak, yakni mendorong ilmu pengetahuan dan pendidikan agar tidak berhenti di ruang kelas, tetapi dapat menjawab persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.

Bagi calon mahasiswa yang tertarik dengan dunia infrastruktur, lingkungan, konstruksi, dan tantangan kebencanaan, Teknik Sipil UPER dapat menjadi ruang untuk mempelajari bagaimana sebuah infrastruktur dirancang agar bukan hanya berdiri, tetapi juga mampu bertahan.

Karena masa depan kota tidak hanya membutuhkan lebih banyak bangunan, tetapi membutuhkan infrastruktur yang lebih cerdas, tangguh, dan berkelanjutan. Tertarik menjadi bagian dari generasi insinyur tersebut? Daftarkan dirimu di laman resmi Penerimaan Mahasiswa Baru Universitas Pertamina dan mulai perjalananmu bersama Teknik Sipil UPER.

Referensi:
CNN. (2026). Dampak Krisis Iklim, Hujan di Indonesia Makin Ekstrem. https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20260206081828-641-1325198/dampak-krisis-iklim-hujan-di-indonesia-makin-ekstrem

BPSDM Kementerian PU. (2026). PERKUAT KETAHANAN BANJIR PERKOTAAN, BPSDM PU TUNTASKAN PELATIHAN PERENCANAAN DRAINASE. https://bpsdm.pu.go.id/v2/bacaberita/perkuat-ketahanan-banjir-perkotaan-bpsdm-pu-tuntaskan-pelatihan-perencanaan-drainase 

Thumbnail
Bagikan:
Bagikan ke WhatsApp
Bagikan ke Facebook
Bagikan ke X
Bagikan ke Telegram
Bagikan ke LinkedIn

Tinggalkan Balasan
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalan UU ITE

© 2026 Universitas Pertamina.
All rights reserved