Lahan gambut tidak hanya berperan penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan, tetapi juga menyimpan potensi ekonomi bagi masyarakat di sekitarnya. Perikanan air tawar, pengolahan hasil hutan bukan kayu, hingga pengembangan produk pangan dapat menjadi peluang usaha yang meningkatkan nilai ekonomi sumber daya lokal. Namun, bagaimana peluang tersebut dapat dikembangkan menjadi usaha yang menguntungkan tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan?
Gambut merupakan tanah organik yang terbentuk dari penumpukan sisa tumbuhan yang mengalami penguraian tidak sempurna dalam waktu panjang. Ekosistem ini berperan menyimpan karbon, mengatur tata air, dan menyediakan habitat bagi beragam flora dan fauna. Selain memiliki fungsi ekologis, lahan gambut juga menjadi bagian dari ruang hidup masyarakat yang menggantungkan penghidupan pada sumber daya alam di sekitarnya.
Berdasarkan publikasi Kementerian Pertanian, luas lahan gambut dangkal di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 5,24 juta hektare, atau 35,17 persen dari total luas lahan gambut. Gambut dangkal merupakan lahan dengan ketebalan gambut sekitar 50–100 sentimeter yang berpotensi dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian tertentu. Meski demikian, pemanfaatannya perlu disesuaikan dengan karakteristik lahan, pengelolaan air, dan kondisi lingkungan agar kegiatan ekonomi tetap berjalan tanpa mengabaikan kelestarian ekosistem.
Menggali Potensi Ekonomi Lahan Gambut
Potensi ekonomi lahan gambut dapat dikembangkan melalui pemanfaatan sumber daya lokal yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan dan kebutuhan pasar. Salah satunya adalah perikanan air tawar yang dapat mendukung pemenuhan kebutuhan pangan sekaligus membuka peluang perdagangan. Agar usaha dapat berjalan berkelanjutan, pengembangan perikanan perlu mempertimbangkan ketersediaan sumber daya air, kualitas lingkungan, dan biaya operasional.
Peluang lainnya berasal dari hasil hutan bukan kayu, seperti purun, yang dapat diolah menjadi tikar, tas, dan produk kerajinan. Pengolahan bahan baku menjadi produk siap jual merupakan salah satu cara menciptakan nilai tambah ekonomi. Melalui inovasi desain, peningkatan kualitas, pengemasan, dan pemasaran digital, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dapat mengembangkan daya tarik produk serta menjangkau pasar yang lebih luas.
Komoditas pangan seperti sagu juga berpotensi dikembangkan menjadi bahan pangan dan produk olahan. Namun, peluang tersebut tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan bahan baku. Pelaku usaha perlu mempertimbangkan biaya produksi, harga jual, permintaan konsumen, distribusi, dan persaingan pasar. Perhitungan ini membantu masyarakat menilai kelayakan usaha sebelum mengembangkan produksi dalam skala lebih besar.
Pemilihan komoditas juga harus disesuaikan dengan karakteristik lahan. Masganti et al. (2017) menjelaskan bahwa pemanfaatan gambut dangkal untuk pertanian memerlukan pemilihan tanaman dan pengelolaan air yang tepat. Artinya, tidak semua jenis usaha atau tanaman dapat diterapkan di setiap kawasan gambut.
Paludikultur, Alternatif Usaha yang Menjaga Gambut Tetap Basah
Salah satu pendekatan yang dapat dipertimbangkan dalam pemanfaatan lahan gambut adalah paludikultur, yaitu sistem budidaya yang memanfaatkan lahan gambut basah dengan menanam jenis tumbuhan yang sesuai dengan kondisi tersebut. Pendekatan ini berupaya mempertahankan kondisi basah gambut sekaligus memungkinkan pemanfaatan sumber daya secara produktif.
Paludikultur dalam sistem agroforestri juga menjadi salah satu pendekatan yang dibahas dalam publikasi ilmiah mengenai pemulihan dan pemanfaatan ekosistem gambut. Penerapannya perlu mengintegrasikan pemilihan jenis tumbuhan, pengelolaan air, dan kondisi ekologis setempat. Dengan perencanaan yang tepat, pendekatan ini berpotensi membuka peluang pemanfaatan komoditas lokal tanpa harus mengandalkan pengeringan gambut.
Dari perspektif ekonomi, potensi tersebut perlu diikuti dengan perencanaan usaha yang matang. Masyarakat memerlukan informasi mengenai biaya produksi, teknik pengolahan hasil, akses permodalan, jalur distribusi, dan kepastian pasar. Pendampingan teknis serta kerja sama dengan pelaku usaha juga dapat membantu menghubungkan hasil produksi dengan kebutuhan konsumen.
Dengan demikian, keberhasilan usaha berbasis gambut tidak hanya bergantung pada kemampuan menghasilkan produk, tetapi juga pada kemampuan mengelola sumber daya dan membangun kegiatan ekonomi yang layak dalam jangka panjang.
Mengapa Kelestarian Gambut Penting bagi Ekonomi?
United Nations Environment Program (UNEP) menyatakan pengeringan gambut secara berlebihan dapat meningkatkan risiko kebakaran dan mempercepat pelepasan karbon yang tersimpan di dalam tanah. Dampaknya tidak hanya berupa kerusakan lingkungan, tetapi juga dapat mengganggu kesehatan masyarakat, kegiatan produksi, distribusi barang, dan sumber penghidupan warga. Ketika ekosistem rusak, masyarakat dan pelaku usaha berpotensi menghadapi kerugian yang memengaruhi keberlangsungan kegiatan ekonomi.
Karena itu, keberhasilan usaha berbasis gambut perlu dinilai tidak hanya dari pendapatan yang diperoleh, tetapi juga dari kemampuan menjaga sumber daya alam yang menopang kegiatan tersebut. Penguatan UMKM, inovasi produk lokal, pengelolaan biaya, dan perluasan akses pasar dapat berjalan beriringan dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan.
Pendekatan ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi serta SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Keduanya menekankan pentingnya kegiatan ekonomi yang produktif sekaligus memperhatikan keberlanjutan sumber daya alam.
Upaya mengembangkan ekonomi berbasis lahan gambut juga selaras dengan Asta Cita ke-2, yang mendorong kemandirian bangsa melalui penguatan ekonomi hijau, serta Asta Cita ke-5, yang menekankan hilirisasi dan peningkatan nilai tambah. Dalam konteks ini, pengolahan komoditas lokal menjadi produk bernilai jual, penguatan UMKM, dan pengembangan usaha yang memperhatikan daya dukung lingkungan dapat menjadi langkah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga kelestarian ekosistem gambut.
Sejalan dengan semangat UPER Berdampak, perguruan tinggi memiliki peran dalam mengembangkan pengetahuan dan gagasan yang relevan dengan tantangan masyarakat. Melalui perspektif ilmu ekonomi, mahasiswa dapat mempelajari analisis pasar, kelayakan usaha, strategi pengembangan UMKM, dan penciptaan nilai tambah untuk mendukung kegiatan ekonomi yang berkelanjutan.
Melalui Program Studi Ekonomi Universitas Pertamina, mahasiswa dapat mendalami berbagai perspektif ekonomi untuk memahami hubungan antara kegiatan usaha, pengelolaan sumber daya, dan keberlanjutan. Tertarik untuk mempelajari bagaimana ilmu ekonomi dapat membantu mengembangkan peluang usaha sekaligus menjawab tantangan lingkungan. Kenali lebih jauh Program Studi Ekonomi Universitas Pertamina melalui website resmi UPER.
Referensi:
Pantaugambut.id (2025) Menunjang Perekonomian Masyarakat Sekitar https://pantaugambut.id/pelajari/menunjang-perekonomian-masyarakat-sekitar
Made Hesti Lestari Tata. (2025). Implementasi Teknik Paludikultur dalam Sistem Agroforestri untuk Restorasi Ekosistem Gambut. . National Research and Innovation Agency. DOI: https://doi.org/10.55981/brin.2370
Masganti, Anwar, K., & Susanti, M. A. (2017). Potensi dan pemanfaatan lahan gambut dangkal untuk pertanian. Jurnal Sumberdaya Lahan, 11(1), 43–52.