ID / EN
Berita Populer

Mengenal Lahan Gambut: Manfaat, Ancaman, dan Pentingnya Edukasi Sejak Dini


Published by: Universitas Pertamina Kamis, 1 Oktober 2026
Dibaca: 30 kali
Lahan gambut merupakan salah satu ekosistem penting yang berperan dalam menjaga keseimbangan lingkungan dan mengurangi dampak perubahan iklim. Menurut United Nations Environment Programme (UNEP), meskipun hanya mencakup sekitar 3–4 persen daratan dunia, lahan gambut menyimpan hampir sepertiga karbon tanah global. Kemampuan tersebut menjadikan gambut sebagai salah satu penyimpan karbon alami terbesar di dunia.

Namun, keberadaan lahan gambut semakin terancam akibat pembukaan lahan, pengeringan, dan kebakaran. Kerusakan ekosistem ini tidak hanya mengancam keanekaragaman hayati, tetapi juga dapat melepaskan karbon yang telah tersimpan selama ribuan tahun ke atmosfer. Lantas, apa sebenarnya lahan gambut, mengapa keberadaannya penting, dan bagaimana cara menumbuhkan kepedulian masyarakat terhadap kelestariannya?

Apa Itu Lahan Gambut dan Mengapa Penting bagi Kehidupan?

Gambut merupakan jenis tanah organik yang terbentuk dari penumpukan sisa-sisa tumbuhan, seperti daun, akar, dan batang, yang tidak terurai secara sempurna. Proses pembentukannya berlangsung selama ribuan tahun karena kondisi tanah yang jenuh air dan rendah oksigen memperlambat penguraian bahan organik. Di Indonesia, lahan gambut banyak ditemukan di Sumatra, Kalimantan, dan Papua. Salah satu keistimewaannya adalah kemampuan menyimpan karbon dalam jumlah besar, sekaligus mengatur tata air, mempertahankan kelembapan lingkungan, dan menyediakan habitat bagi berbagai jenis tumbuhan serta satwa.

Namun, fungsi ekologis tersebut dapat terganggu akibat pengeringan, perubahan penggunaan lahan, dan kebakaran. Gambut yang kehilangan kandungan air menjadi lebih rentan terbakar, bahkan api dapat merambat di bawah permukaan tanah sehingga sulit dipadamkan. Kebakaran gambut juga menghasilkan asap yang membahayakan kesehatan masyarakat dan meningkatkan emisi gas rumah kaca. Penelitian Miettinen et al. (2016) menunjukkan adanya perubahan tutupan lahan gambut di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, yang mencerminkan tekanan terhadap keberlanjutan ekosistem tersebut.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pelestarian gambut tidak cukup hanya melalui pengelolaan lingkungan, tetapi juga membutuhkan peningkatan pengetahuan dan kesadaran masyarakat sejak dini. Penelitian van de Wetering et al. (2022) yang menganalisis 169 studi dengan lebih dari 176.000 partisipan menunjukkan bahwa pendidikan lingkungan berkontribusi positif terhadap peningkatan pengetahuan, sikap, niat, dan perilaku ramah lingkungan pada anak-anak serta remaja, dengan pengaruh terbesar pada aspek pengetahuan. Temuan ini memperkuat pentingnya memperkenalkan ekosistem gambut sejak usia sekolah melalui media pembelajaran yang sederhana, menarik, dan sesuai dengan karakteristik anak. Dengan demikian, konsep ilmiah seperti penyimpanan karbon, penguraian bahan organik, dan perubahan iklim dapat lebih mudah dipahami sekaligus menjadi dasar untuk menumbuhkan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.

Mengenalkan Gambut Sejak Dini melalui Media Pembelajaran Interaktif

Pentingnya pendidikan lingkungan sejak dini menjadi perhatian Universitas Pertamina (UPER) melalui program GEMAR (Gambut untuk Ekosistem Mandiri dan Ramah Lingkungan) di Desa Muara Dua, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah. Desa ini memiliki sekitar 824 hektar lahan gambut dari total wilayah seluas 2.060 hektar, atau sekitar 40 persen dari keseluruhan wilayahnya. Melalui program tersebut, Universitas Pertamina mengembangkan buku ajar interaktif bagi siswa sekolah dasar untuk memperkenalkan proses terbentuknya gambut, manfaat ekologis, ancaman kerusakan, serta pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.

Buku ajar yang disusun oleh tim yang diketuai Ita Musfirowati Hanika, Dosen Program Studi Komunikasi Universitas Pertamina, menggabungkan materi edukatif dengan berbagai aktivitas pembelajaran, seperti soal pilihan ganda, teka-teki silang, pertanyaan reflektif, eksperimen sederhana mengenai daya serap air, dan proyek penanaman pohon. Pendekatan ini bertujuan menyederhanakan konsep lingkungan yang kompleks agar lebih mudah dipahami anak-anak sekaligus mendorong keterlibatan aktif dalam proses pembelajaran. Melalui media pembelajaran yang interaktif dan sesuai dengan karakteristik siswa, program GEMAR diharapkan dapat menumbuhkan pengetahuan, kesadaran, dan kepedulian anak-anak terhadap kelestarian ekosistem gambut di lingkungan sekitar mereka.

Pengembangan buku ajar melalui program GEMAR menunjukkan kontribusi ilmu komunikasi dalam meningkatkan literasi lingkungan melalui penyampaian informasi ilmiah yang dikemas dengan bahasa, visual, dan aktivitas sesuai karakteristik anak-anak. Program ini juga diintegrasikan dengan mata kuliah Manajemen Pemasaran Sosial dan Komunikasi Perubahan Iklim dan Lingkungan di Universitas Pertamina, sehingga mahasiswa dapat menerapkan teori komunikasi dalam kegiatan edukasi berbasis komunitas sekaligus mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim dan SDG 15 tentang Ekosistem Daratan.

Tertarik mempelajari bagaimana komunikasi dapat berperan dalam meningkatkan kesadaran lingkungan dan mendorong perubahan sosial? Melalui Program Studi Komunikasi Universitas Pertamina, mahasiswa tidak hanya mempelajari strategi komunikasi, tetapi juga penerapannya dalam menjawab berbagai tantangan masyarakat, termasuk isu lingkungan dan keberlanjutan. Kenali lebih jauh Program Studi Komunikasi Universitas Pertamina dan berbagai peluang pengembangan kompetensinya melalui website resmi UPER. (IH)

Referensi
Miettinen, J., Shi, C., & Liew, S. C. (2016). Land cover distribution in the peatlands of Peninsular Malaysia, Sumatra and Borneo in 2015 with changes since 1990. Global Ecology and Conservation, 6, 67–78.

United Nations Environment Programme. (2022). Global peatlands assessment: The state of the world's peatlands—Evidence for action toward the conservation, restoration, and sustainable management of peatlands. United Nations Environment Programme.

van de Wetering, J., Leijten, P., Spitzer, J., & Thomaes, S. (2022). Does environmental education benefit environmental outcomes in children and adolescents? A meta-analysis. Journal of Environmental Psychology, 81, 101782. https://doi.org/10.1016/j.jenvp.2022.10178

Thumbnail
Bagikan:
Bagikan ke WhatsApp
Bagikan ke Facebook
Bagikan ke X
Bagikan ke Telegram
Bagikan ke LinkedIn

Tinggalkan Balasan
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalan UU ITE

© 2026 Universitas Pertamina.
All rights reserved