ID / EN
Berita Kampus

Hilirisasi Industri di Tengah Risiko Global, Pakar Bahas Masa Depan Ketahanan Energi di UPER


Published by: Universitas Pertamina Kamis, 3 September 2026
Dibaca: 14 kali
Ketidakpastian geopolitik, gangguan rantai pasok, hingga perubahan iklim membuat ketahanan energi menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Di tengah kondisi tersebut, Indonesia juga terus mendorong hilirisasi industri untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya nasional. Transformasi ini membuka peluang ekonomi, tetapi sekaligus menghadirkan kebutuhan baru terhadap ketersediaan energi, infrastruktur, teknologi, serta kemampuan mengelola risiko.
Persoalan tersebut menjadi salah satu bahasan utama dalam The 5th International Conference on Contemporary Risk Study (ICONIC-RS) 2026 yang diselenggarakan Universitas Pertamina (UPER) pada Kamis, 27 Agustus 2026, di Hotel Sutasoma, Jakarta Selatan. Mengusung tema “Global Risk, Industrial Downstreaming, and the Future of Energy Security”, konferensi ini mempertemukan akademisi, peneliti, mahasiswa, dan praktisi industri secara luring dan daring untuk melihat bagaimana berbagai risiko global memengaruhi masa depan sektor energi dan industri.
Melalui enam subtema, ICONIC-RS 2026 membahas beragam aspek yang berkaitan dengan ketahanan energi dan industri, mulai dari risiko lingkungan dan keberlanjutan sektor energi, environmental, social, and governance (ESG), manajemen risiko dan tata kelola perusahaan, risiko geopolitik dan kebijakan hilirisasi, keberlanjutan finansial dan sumber daya manusia, hingga perubahan iklim dan keterlibatan masyarakat.
Perspektif kebijakan, bisnis, dan manajemen risiko dihadirkan melalui sesi keynote yang menghadirkan Prof. Dr. Tirta Nugraha Mursitama, Ph.D., Senior Advisor Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia; Ardy Muwain, Managing Director Danantara Indonesia; serta Ibnu Suhartanto, S.T., M.B.A., Senior Vice President Operational Risk Management PT Pertamina (Persero).
Dalam keynote speech, Prof. Dr. Tirta Nugraha Mursitama, Ph.D. menekankan bahwa ketahanan energi di tengah ketidakpastian global tidak dapat dibangun dengan melihat risiko secara terpisah. Diperlukan pendekatan yang lebih menyeluruh, penguatan tata kelola, serta kolaborasi lintas sektor agar sistem energi mampu menghadapi perubahan dan gangguan yang semakin kompleks.
“Ketahanan energi membutuhkan kemampuan untuk mengidentifikasi risiko secara lebih menyeluruh, memperkuat tata kelola, serta membangun kolaborasi antara pemerintah, industri, dan akademisi agar mampu menghadapi ketidakpastian global,” jelasnya.
Tantangan tersebut juga berkaitan erat dengan agenda hilirisasi yang tengah didorong Indonesia. Hilirisasi tidak hanya berkaitan dengan peningkatan nilai tambah sumber daya alam, tetapi juga membutuhkan sistem energi dan industri yang mampu menopang proses produksi secara berkelanjutan serta menghadapi berbagai potensi gangguan.
Hal tersebut turut disoroti Dr. Arif Haendra dari PT Inalum dalam sesi pleno. Menurutnya, hilirisasi memiliki peran strategis dalam memperkuat industri nasional sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia.
“Hilirisasi industri menjadi langkah strategis untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya nasional sekaligus memperkuat daya saing dan ketahanan energi Indonesia,” ujarnya.
Pembahasan dalam ICONIC-RS 2026 tidak hanya melihat tantangan dari perspektif nasional. Sesi pleno turut menghadirkan Prof. Chun-Hung Lee dari National Dong Hwa University, Taiwan; Serene Johnson, Executive Director Asian Clean Fuels Association, Singapura; serta Assoc. Prof. Dr. Zuraidah Binti Ali dari Universiti Tenaga Nasional, Malaysia, yang berpartisipasi secara daring. Kehadiran akademisi dan praktisi dari berbagai negara memperluas perspektif mengenai risiko energi yang dihadapi kawasan Asia sekaligus membuka ruang pertukaran pengalaman lintas negara.
Berbagai perspektif tersebut kemudian dipertemukan melalui presentasi riset, diskusi lintas bidang, dan breakout session. Forum ini menjadi ruang untuk menghubungkan pengetahuan akademik dengan kebutuhan industri dalam merespons risiko yang mencakup ketersediaan pasokan energi, geopolitik, rantai pasok, perkembangan teknologi, hingga ketahanan sistem.
Dari rangkaian pembahasan tersebut, ketahanan energi tidak lagi sekadar persoalan memastikan ketersediaan energi, tetapi juga membangun sistem yang mampu beradaptasi terhadap perubahan. Penguatan tata kelola, pengelolaan risiko, pengembangan teknologi, hilirisasi yang berkelanjutan, serta kolaborasi antara pemerintah, industri, dan akademisi menjadi bagian penting dalam menghadapi tantangan tersebut.
Melalui ICONIC-RS 2026, Universitas Pertamina memperkuat perannya sebagai ruang pertemuan antara riset, kebijakan, dan kebutuhan industri dalam merespons persoalan strategis sektor energi. Kehadiran pembicara nasional dan internasional sekaligus membuka peluang bagi peneliti dan akademisi untuk memperluas jejaring, bertukar pengetahuan, dan mengembangkan riset yang relevan dengan dinamika industri energi.
Sebagai bagian dari UPER Berdampak, penyelenggaraan ICONIC-RS 2026 turut mendukung SDG 7: Energi Bersih dan Terjangkau, khususnya melalui penguatan kajian dan kolaborasi mengenai ketahanan, keberlanjutan, serta pengelolaan risiko di sektor energi. Forum ini juga sejalan dengan Asta Cita ke-2, yang menekankan kemandirian bangsa melalui swasembada energi, serta Asta Cita ke-3 dalam mendorong hilirisasi dan industrialisasi untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri. 
Melalui riset, kolaborasi, dan pertukaran pengetahuan, Universitas Pertamina terus mengambil bagian dalam menyiapkan fondasi keilmuan bagi sistem energi dan industri Indonesia yang tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan hari ini, tetapi juga lebih tangguh menghadapi risiko dan perubahan di masa depan. [MP]
Thumbnail Thumbnail Thumbnail Thumbnail
Bagikan:
Bagikan ke WhatsApp
Bagikan ke Facebook
Bagikan ke X
Bagikan ke Telegram
Bagikan ke LinkedIn

Tinggalkan Balasan
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalan UU ITE

© 2026 Universitas Pertamina.
All rights reserved