Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pertamina, A. Rinto Pudyantoro, menilai industri hulu minyak dan gas bumi (migas) masih memiliki peran strategis sebagai penggerak ekonomi daerah, terutama melalui efek berganda (multiplier effect) yang luas. Hal tersebut ia sampaikan dalam rangkaian acara Media Convex IPA 2026.
Menurut Rinto, kontribusi sektor hulu migas tidak hanya terlihat dari sisi energi, tetapi juga dari dampaknya terhadap aktivitas ekonomi lokal. Data SKK Migas mencatat investasi sektor ini mencapai US$13,7 miliar pada 2023, sekaligus menyerap ratusan ribu tenaga kerja baik secara langsung maupun tidak langsung.
“Industri hulu migas memiliki karakteristik padat modal yang mendorong kebutuhan tenaga kerja serta jasa penunjang. Dari sinilah muncul efek berganda yang memperkuat ekonomi lokal,” ujarnya.
Ia menjelaskan, efek tersebut tercermin dari perputaran ekonomi yang melibatkan berbagai sektor, mulai dari konstruksi, transportasi, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Laporan SKK Migas juga menunjukkan bahwa nilai pengadaan barang dan jasa di sektor hulu migas mencapai lebih dari US$5 miliar per tahun, dengan keterlibatan signifikan perusahaan nasional dan daerah.
Lebih lanjut, Rinto mengungkapkan bahwa setiap investasi di sektor hulu migas mampu memberikan dampak ekonomi hingga dua hingga tiga kali lipat terhadap produk domestik bruto (PDB) regional. Hal ini menunjukkan besarnya daya ungkit sektor migas terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa ketergantungan yang tinggi terhadap migas juga menyimpan tantangan. Fluktuasi harga energi global dan dinamika produksi dapat berdampak langsung pada stabilitas ekonomi daerah penghasil.
“Karena itu, penting untuk memanfaatkan momentum dari sektor ini tidak hanya untuk pertumbuhan jangka pendek, tetapi juga sebagai fondasi diversifikasi ekonomi daerah,” jelasnya.
Selain kontribusi terhadap ekonomi lokal, sektor migas juga memberikan dampak signifikan terhadap penerimaan negara. Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mencatat penerimaan negara dari sektor migas mencapai sekitar Rp300 triliun dalam beberapa tahun terakhir, termasuk dana bagi hasil (DBH) yang dialokasikan untuk pembangunan daerah.
Di sisi lain, program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) di sektor migas turut berkontribusi dalam pembangunan infrastruktur, pendidikan, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat di wilayah operasi.
Rinto menekankan bahwa optimalisasi sektor hulu migas perlu tetap sejalan dengan agenda pembangunan berkelanjutan. Menurutnya, peran sektor ini dapat mendukung penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi yang inklusif, sekaligus memperkuat pembangunan industri dan infrastruktur di daerah.
“Selama dikelola secara optimal dan berkelanjutan, migas tidak hanya menjadi sumber energi nasional, tetapi juga instrumen penting untuk memperkuat kemandirian ekonomi daerah,” pungkasnya.
Sejalan dengan hal tersebut, peran industri hulu migas juga berkaitan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya dalam mendorong pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi (SDG 8) serta pembangunan industri dan infrastruktur (SDG 9).