ID / EN
Berita Populer

Penumpang KRL Terus Bertambah, Bagaimana Stasiun Menyiapkan Infrastrukturnya?


Published by: Universitas Pertamina Selasa, 18 Agustus 2026
Dibaca: 16 kali
Setiap pagi dan sore, ribuan orang berdesakan di peron stasiun Commuter Line Jabodetabek. Pemandangan tersebut menjadi gambaran meningkatnya ketergantungan masyarakat perkotaan terhadap transportasi berbasis rel sepanjang 2025 saja, KAI Commuter mencatat sekitar 400,9 juta perjalanan secara nasional, dan pada semester pertama 2026 angkanya sudah menembus 178 juta perjalanan di wilayah Jabodetabek. 

Namun, ketika jumlah penumpang terus bertambah, tantangannya bukan sekadar menyediakan lebih banyak perjalanan kereta, melainkan memastikan infrastruktur stasiun mampu mengikuti kebutuhan masyarakat.

Bukan Sekadar Menambah Kereta

Perencanaan transportasi perkotaan perlu memahami bagaimana masyarakat bergerak menuju dan dari stasiun. Dalam ilmu transportasi, hal ini dikenal sebagai bangkitan dan tarikan perjalanan. Bangkitan menggambarkan jumlah perjalanan yang berasal dari suatu kawasan, sedangkan tarikan menunjukkan jumlah perjalanan yang menuju suatu kawasan.

Pemahaman tersebut penting karena setiap stasiun dapat memiliki karakteristik pengguna dan kebutuhan yang berbeda. Hal ini terlihat dalam penelitian Adita Utami, S.T., M.T., dosen Program Studi Teknik Sipil Universitas Pertamina, bersama Naufal Nabil Siregar dan Asep Yayat Nurhidayat, yang dipublikasikan di Jurnal Penelitian Transportasi Darat tahun 2025 mengenai model bangkitan dan tarikan penumpang Commuter Line Serpong–Tanah Abang di Stasiun Rawa Buntu dan Stasiun Sudimara.

Penelitian tersebut menemukan bahwa faktor yang memengaruhi pergerakan penumpang di kedua stasiun tidak sepenuhnya sama. Pada Stasiun Rawa Buntu, bangkitan perjalanan dipengaruhi pendapatan per bulan, jarak tempuh, dan waktu tempuh menuju stasiun. Sementara di Stasiun Sudimara, bangkitan dipengaruhi pendapatan per bulan dan moda yang digunakan menuju stasiun.

Stasiun Bukan Hanya Tempat Naik Kereta

Pergerakan penumpang juga dipengaruhi oleh kondisi fasilitas di sekitar stasiun. Penelitian Adita Utami, S.T., M.T., dkk. menunjukkan bahwa tarikan perjalanan di Rawa Buntu dipengaruhi fasilitas halte di sekitar stasiun, kondisi parkir yang aman dan nyaman, serta ketersediaan minimarket. Sementara di Sudimara, ketersediaan lahan parkir serta kondisi parkir yang aman dan nyaman menjadi faktor yang berpengaruh.

Artinya, daya tarik sebuah stasiun tidak hanya ditentukan oleh kereta yang berhenti di dalamnya. Akses, parkir, halte, dan fasilitas pendukung juga menjadi bagian dari sistem transportasi yang menentukan pengalaman perjalanan masyarakat.

Dari Data Perjalanan ke Infrastruktur Stasiun

Konsep bangkitan dan tarikan pada akhirnya bukan sekadar perhitungan statistik. Model tersebut membantu perencana memperkirakan kebutuhan transportasi dan menentukan fasilitas infrastruktur stasiun yang perlu dikembangkan.

Ketika jarak dan waktu tempuh menjadi faktor penting, misalnya, perhatian perlu diberikan pada akses menuju stasiun. Ketika parkir dan halte menjadi faktor penting, fasilitas di sekitar stasiun juga perlu diperhitungkan. Peneliti menekankan bahwa perbedaan faktor di kedua stasiun ini penting diperhatikan dalam perencanaan transportasi perkotaan, karena infrastruktur perlu disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat dan kondisi sarana-prasarana di masing-masing kawasan.

Karena itu, pembangunan transportasi tidak cukup hanya berfokus pada stasiun sebagai bangunan, tetapi perlu melihat kawasan di sekitarnya sebagai bagian dari satu sistem yang terintegrasi.

Menyiapkan Perencanaan Infrastruktur Masa Depan

Persoalan seperti kepadatan stasiun, akses menuju transportasi publik, hingga kebutuhan fasilitas pendukung membutuhkan kemampuan untuk memahami pola pergerakan sekaligus menerjemahkannya menjadi solusi infrastruktur.

Di sinilah Teknik Sipil memiliki peran. Program Studi Teknik Sipil Universitas Pertamina membekali mahasiswa dengan pengetahuan mengenai infrastruktur dan sistem transportasi, termasuk melalui mata kuliah Rekayasa Lalu Lintas dan Sistem Transportasi yang berkaitan dengan analisis pergerakan dan perencanaan transportasi.

Pembelajaran tersebut menjadi semakin relevan ketika mahasiswa dihadapkan pada persoalan nyata seperti bagaimana merancang infrastruktur yang tidak hanya mampu menampung pengguna, tetapi juga mudah diakses, aman, nyaman, dan sesuai dengan karakteristik kawasan.

Pertumbuhan pengguna Commuter Line menunjukkan bahwa kota membutuhkan infrastruktur yang terus beradaptasi, dan penelitian Adita Utami, S.T., M.T., dkk. memberikan satu pelajaran penting: setiap stasiun memiliki karakteristik pergerakan yang berbeda sehingga membutuhkan pendekatan perencanaan yang sesuai dengan kebutuhannya.

Pembahasan mengenai perencanaan transportasi dan pengembangan infrastruktur ini juga sejalan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur serta SDG 11 tentang Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan. Melalui perencanaan transportasi berbasis data, pembangunan stasiun dan fasilitas pendukung dapat dirancang untuk menciptakan sistem mobilitas yang lebih terintegrasi, aman, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat perkotaan. Upaya tersebut juga selaras dengan Asta Cita ke-4, yaitu memperkuat pembangunan sumber daya manusia, sains, teknologi, dan pendidikan. 

Sejalan dengan semangat UPER Berdampak, riset ini menunjukkan kontribusi sivitas akademika Universitas Pertamina dalam menghadirkan pengetahuan yang relevan bagi masyarakat. Melalui penelitian mengenai pola pergerakan penumpang dan kebutuhan infrastruktur stasiun, hasil riset tidak hanya memperkaya kajian akademik, tetapi juga berpotensi menjadi masukan bagi perencanaan sistem transportasi yang lebih tepat sasaran dan berkelanjutan.

Tertarik menjadi bagian dari solusi infrastruktur transportasi Indonesia? Daftarkan diri Anda di Program Studi Teknik Sipil Universitas Pertamina dan pelajari lebih lanjut kurikulum serta peluang pengembangannya di Universitas Pertamina.

Referensi:
Antara. 2026. Commuter Line Layani 178 Juta Perjalanan, Mengantar Tulang Punggung Keluarga Menjemput Rezeki. https://www.antaranews.com/berita/5675771/commuter-line-layani-178-juta-perjalanan-mengantar-tulang-punggung-keluarga-menjemput-rezeki

CNA. 2026. KRL Jabodetabek masih jadi primadona transum, jalur mana yang paling padat?. https://www.cna.id/indonesia/krl-jabodetabek-penumpang-terbanyak-maret-2026-45756

Jurnal Penelitian Transportasi Darat. 2025. Model Bangkitan dan Tarikan Penumpang Kereta Api Commuter Line Serpong – Tanah Abang : Studi Kasus Stasiun Rawa Buntu dan Stasiun Sudimara. DOI: 10.25104/jptd.v27i1.2224




Thumbnail
Bagikan:
Bagikan ke WhatsApp
Bagikan ke Facebook
Bagikan ke X
Bagikan ke Telegram
Bagikan ke LinkedIn

Tinggalkan Balasan
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalan UU ITE

© 2026 Universitas Pertamina.
All rights reserved