ID / EN
Berita Populer

Udara Terlihat Bersih, Kok Ada Mikroplastik? Ini Penjelasan Ilmu Kimia


Published by: Universitas Pertamina Selasa, 25 Agustus 2026
Dibaca: 20 kali
Udara yang terlihat bersih belum tentu bebas dari partikel plastik. Penelitian Ecological Observation and Wetlands Conservation Foundation (ECOTON) bersama Masyarakat Jurnalis Lingkungan Indonesia (SIEJ) pada Mei–Juli 2025 melaporkan temuan mikroplastik di seluruh 18 kota dan kabupaten yang diteliti. Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan mencatat jumlah partikel tertinggi, disusul Bandung, Semarang, dan Kupang. Temuan ini membawa persoalan sampah plastik semakin dekat dengan keseharian masyarakat (Asia News Network).

Peneliti mengumpulkan partikel menggunakan cawan kaca yang ditempatkan pada ketinggian sekitar 1–1,5 meter, mendekati zona pernapasan manusia. Selama dua jam pengambilan sampel, cawan seluas sembilan sentimeter persegi di Jakarta Pusat menampung 37 partikel, sementara Jakarta Selatan 30 partikel. Angka tersebut menunjukkan partikel yang mengendap pada cawan selama pengamatan, bukan jumlah yang pasti terhirup seseorang. Asia News Network

Tak Hanya di Udara, Mikroplastik juga Ditemukan di Pakaian

Lantas, apa sebenarnya mikroplastik? Secara umum, mikroplastik merupakan partikel plastik berukuran kurang dari lima milimeter. Bentuknya bisa berupa pecahan, serat, atau lapisan tipis, dengan ukuran yang sebagian begitu kecil hingga sulit terlihat oleh mata. Karena itu, hilangnya sampah plastik dari pandangan tidak selalu berarti bahan tersebut sudah hilang dari lingkungan (NOAA).

Sumbernya pun tidak terbatas pada kantong dan botol plastik. Pakaian berbahan sintetis, seperti poliester dan nilon, dapat melepaskan serat kecil ketika dicuci. Keausan ban kendaraan juga dapat menghasilkan partikel yang mengandung polimer sintetis. Melalui aliran air dan pergerakan udara, partikel-partikel tersebut dapat berpindah dari sumbernya ke lingkungan lain (ECOTON). 

Besarnya potensi paparan turut menjadi perhatian peneliti Cornell University. Studi yang diterbitkan pada 2024 memperkirakan asupan mikroplastik melalui makanan di Indonesia sekitar 15 gram per orang per bulan, tertinggi di antara 109 negara yang dikaji. Namun, angka tersebut merupakan estimasi berbasis pemodelan dengan rentang data 1990–2018, bukan pengukuran langsung terhadap konsumsi setiap penduduk Indonesia saat ini. 

Mengenal Mikroplastik dari Sudut Pandang Ilmu Kimia

Di tengah banyaknya informasi mengenai mikroplastik, ilmu Kimia membantu menjawab pertanyaan mendasar: bagaimana memastikan sebuah partikel benar-benar plastik? Warna dan bentuk saja belum cukup untuk menentukan jenis bahan. Peneliti perlu mengenali komposisi kimianya agar partikel plastik tidak tertukar dengan bahan lain.

Salah satu teknik yang digunakan adalah spektroskopi inframerah atau FTIR. Melalui interaksi cahaya inframerah dengan sampel, teknik ini menghasilkan pola yang dapat dibaca sebagai “sidik jari” kimia suatu bahan. Pola tersebut membantu peneliti mengenali jenis polimer penyusun plastik, seperti polietilena atau polipropilena. Teknik ini telah digunakan dalam penelitian identifikasi mikroplastik di perairan Indonesia. Penelitian identifikasi polimer

Peduli pada Pencemaran, Mulai dari Kebiasaan

Temuan mikroplastik perlu disikapi serius tanpa langsung menyimpulkan bahwa setiap paparan pasti menyebabkan penyakit. Dampaknya terhadap kesehatan manusia masih memerlukan penelitian lebih lanjut, termasuk mengenai ukuran partikel, jumlah paparan, dan pengaruh jangka panjangnya. WHO menekankan adanya kesenjangan pengetahuan dalam penilaian risiko paparan melalui makanan, air, dan udara.

Meski begitu, pengurangan sumber pencemaran tetap dapat dilakukan, seperti mengurangi plastik sekali pakai yang tidak diperlukan, memilah sampah, dan menghindari pembakaran sampah terbuka merupakan langkah awal. Upaya tersebut perlu disertai pengelolaan limbah yang memadai dan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat. Sebab, persoalan plastik tidak selesai ketika sampahnya tak lagi terlihat (ECOTON). 

Persoalan mikroplastik memperlihatkan bagaimana ilmu Kimia berkaitan erat dengan kehidupan sehari-hari. Bagi calon mahasiswa yang ingin memahami komposisi bahan, menelusuri pencemar, dan ikut mengembangkan solusi lingkungan, Prodi Kimia Universitas Pertamina dapat menjadi pilihan untuk mendalami minat tersebut. Mengenali partikel yang sulit terlihat bisa menjadi langkah awal untuk menjawab persoalan yang dampaknya dirasakan masyarakat luas.

Referensi:
Boediwardhana, W. (2025, November 21). Microplastics detected in air across 18 major cities in Indonesia: Study. Asia News Network.


Kacapyr, S. (2024, May 22). Study maps human uptake of microplastics across 109 countries. Cornell Chronicle.

National Oceanic and Atmospheric Administration. (2024, July 8). What are microplastics?

Salsabila, S., Indrayanti, E., & Widiaratih, R. (2023). Karakteristik mikroplastik di perairan Pulau Tengah, Karimunjawa. Indonesian Journal of Oceanography, 4(4), 99–108. https://doi.org/10.14710/ijoce.v4i4.15420


Thumbnail
Bagikan:
Bagikan ke WhatsApp
Bagikan ke Facebook
Bagikan ke X
Bagikan ke Telegram
Bagikan ke LinkedIn

Tinggalkan Balasan
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalan UU ITE

© 2026 Universitas Pertamina.
All rights reserved