Fenomena perempuan yang memilih menikah di usia lebih matang semakin banyak dijumpai di Indonesia. Jika dahulu menikah pada usia muda dianggap sebagai hal yang lumrah, kini semakin banyak perempuan yang memilih menyelesaikan pendidikan, membangun karier, hingga mencapai kemandirian finansial sebelum memutuskan untuk berumah tangga.
Data Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dalam Laporan Kependudukan Indonesia 2024 yang dilansir dari Kompas Data menunjukkan tren yang menarik. Persentase perempuan berusia 20–24 tahun yang menikah sebelum usia 18 tahun terus mengalami penurunan, dari 12,14 persen pada 2015 menjadi 6,92 persen pada 2023.
Jika pada periode 2015–2020 angkanya masih berada di atas 10 persen, sejak 2021 tren tersebut terus menurun hingga berada di bawah 10 persen. Kondisi ini mengindikasikan semakin banyak perempuan Indonesia memilih menikah di usia yang lebih matang dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
Bagi sebagian orang, keputusan menikah mungkin dipandang sebagai urusan pribadi. Namun, dari perspektif ilmu ekonomi, keputusan tersebut merupakan bagian dari perilaku ekonomi (economic behavior). Sama seperti keputusan melanjutkan pendidikan, memilih pekerjaan, atau berinvestasi, keputusan menikah juga dipengaruhi oleh pertimbangan manfaat, biaya, peluang yang dikorbankan (opportunity cost), hingga prospek kesejahteraan di masa depan.
Karena itu, meningkatnya usia menikah menjadi salah satu fenomena yang menarik dikaji dalam ilmu ekonomi. Melalui pendekatan berbasis data, ekonom dapat menjelaskan bagaimana pendidikan, kondisi ekonomi, dan lingkungan sosial memengaruhi keputusan individu sekaligus dampaknya terhadap pembangunan suatu negara.
Perspektif tersebut ditunjukkan oleh pakar ekonomi Universitas Pertamina, Achmad Kautsar, M.Si., melalui kajian berjudul “Can Women Delay Marriage by Becoming More Educated? Case in Indonesia” dengan menganalisis 9.274 responden perempuan. Kajian tersebut berupaya melihat bagaimana faktor pendidikan dan kondisi sosial ekonomi memengaruhi keputusan perempuan Indonesia untuk menunda pernikahan.
Hasil analisis menunjukkan bahwa perempuan dengan pendidikan menengah hingga perguruan tinggi memiliki peluang 9 persen lebih besar untuk menikah pada usia 25 tahun atau lebih dibandingkan perempuan dengan tingkat pendidikan yang lebih rendah. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan berperan penting dalam membentuk cara perempuan mengambil keputusan mengenai masa depannya.
Pendidikan adalah Investasi, Bukan Sekadar Gelar
Dalam ilmu ekonomi, pendidikan dipandang sebagai bentuk investasi human capital atau modal manusia. Semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin besar peluang untuk memperoleh keterampilan, produktivitas, serta pendapatan yang lebih baik di masa depan.
Inilah sebabnya perempuan yang memilih melanjutkan pendidikan sering kali juga mempertimbangkan waktu terbaik untuk menikah. Mereka tidak sekadar mengejar gelar akademik, tetapi juga berupaya meningkatkan kualitas diri agar memiliki daya saing di dunia kerja dan kehidupan ekonomi yang lebih stabil.
Dari sudut pandang ekonomi, keputusan tersebut juga berkaitan dengan biaya peluang (opportunity cost). Menikah pada usia yang terlalu dini berpotensi mengurangi kesempatan untuk menyelesaikan pendidikan, membangun pengalaman kerja, maupun meningkatkan kapasitas ekonomi. Sebaliknya, menunda pernikahan memberi ruang bagi perempuan untuk memperkuat modal manusia yang nantinya juga akan memberikan manfaat bagi keluarga dan masyarakat.
Keputusan Menikah Semakin Dipengaruhi Pertimbangan Rasional
Kajian ini juga menunjukkan bahwa pendidikan bukan satu-satunya faktor yang memengaruhi keputusan menikah. Lingkungan tempat tinggal, kondisi ekonomi, hingga proses pengambilan keputusan dalam keluarga turut berperan.
Perempuan yang tinggal di wilayah perkotaan memiliki peluang lebih besar untuk menikah setelah usia 25 tahun dibandingkan perempuan di wilayah perdesaan. Selain itu, komunikasi dan diskusi bersama orang tua juga berpengaruh terhadap keputusan perempuan dalam menentukan waktu menikah.
Dari sisi ekonomi, perempuan dengan kondisi ekonomi yang terbatas cenderung berusaha meningkatkan kapasitas ekonomi mereka terlebih dahulu sebelum membangun rumah tangga. Temuan ini menunjukkan bahwa keputusan menikah semakin didasarkan pada pertimbangan rasional mengenai kesiapan finansial, prospek pekerjaan, dan kualitas hidup jangka panjang.
Mengapa Fenomena Ini Penting Dipelajari Mahasiswa Ekonomi?
Bagi mahasiswa ekonomi, meningkatnya usia menikah bukan sekadar perubahan gaya hidup masyarakat. Fenomena ini dapat dianalisis untuk memahami hubungan antara investasi pendidikan, partisipasi perempuan dalam pasar kerja, produktivitas tenaga kerja, hingga pembangunan ekonomi nasional.
Melalui pendekatan ekonomi pembangunan, mahasiswa mempelajari bagaimana keputusan individu dapat memengaruhi indikator makro, seperti kualitas sumber daya manusia, kemiskinan, produktivitas, hingga pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu, ekonomi tidak hanya berbicara mengenai inflasi, investasi, atau pasar keuangan, tetapi juga menjelaskan berbagai fenomena sosial yang terjadi di tengah masyarakat menggunakan data dan metode ilmiah.
Pendekatan seperti inilah yang diterapkan dalam pembelajaran di Program Studi Ekonomi Universitas Pertamina. Mahasiswa tidak hanya dibekali pemahaman teori ekonomi, tetapi juga kemampuan menganalisis data, mengevaluasi kebijakan publik, melakukan riset, serta memberikan solusi terhadap berbagai tantangan pembangunan yang dihadapi Indonesia.
Melalui riset-riset yang relevan dengan persoalan nyata masyarakat, Universitas Pertamina terus menghadirkan Pengetahuan Berdampak yang dapat menjadi dasar penyusunan kebijakan dan pengambilan keputusan berbasis bukti. Kontribusi tersebut sejalan dengan komitmen universitas dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Quality Education), SDG 5 (Gender Equality), dan SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) melalui peningkatan kualitas pendidikan, pemberdayaan perempuan, serta pembangunan sumber daya manusia yang berdaya saing.
Upaya ini juga mendukung pelaksanaan Asta Cita Pembangunan Nasional, terutama dalam memperkuat pembangunan manusia Indonesia yang unggul melalui pendidikan, riset, inovasi, serta penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Bagi calon mahasiswa yang tertarik memahami berbagai fenomena sosial melalui pendekatan ekonomi sekaligus ingin menghasilkan solusi berbasis data bagi pembangunan Indonesia, Program Studi Ekonomi Universitas Pertamina menawarkan lingkungan belajar yang didukung dosen aktif meneliti berbagai isu strategis, kurikulum yang relevan dengan kebutuhan industri, serta pengalaman belajar berbasis riset. Informasi mengenai penerimaan mahasiswa baru dapat diakses melalui laman resmi Penerimaan Mahasiswa Baru Universitas Pertamina.
Referensi:
Kompas Data. (2024). Presentase Perempuan Usia 20-24 Tahun yang Sudah Menikah pada Usia Kurang dari 18 Tahun. https://data.kompas.id/data-detail/kompas_statistic/6927d5cfc97bbc4e90c46b07
Kautsar, A., Hutabarat, K. H., & Noviani, A. D. (2025, May). Can Women Delay Marriage by Becoming More Educated? Case in Indonesia. In 12th Gadjah Mada International Conference on Economics and Business (GAMAICEB 2024) (pp. 63-72). Atlantis Press.