Di tengah agenda transisi energi nasional, kebutuhan akan sumber daya manusia (SDM) hulu migas yang kompeten dan berbudaya keselamatan tinggi tetap menjadi isu strategis. Meski arah kebijakan energi nasional bergerak menuju pengembangan energi baru dan terbarukan, sektor hulu migas masih memegang peran penting dalam menjaga ketahanan energi nasional.
Urgensi penyiapan SDM tersebut tercermin dari data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral yang menunjukkan produksi minyak dan gas nasional masih berada pada level signifikan. Kondisi ini menandakan bahwa keberlangsungan sektor hulu migas tetap membutuhkan tenaga kerja yang tidak hanya menguasai teori, tetapi juga memahami praktik lapangan serta standar keselamatan kerja secara ketat.
Merespons tantangan tersebut, Program Studi Teknik Perminyakan Universitas Pertamina memperkuat pembelajaran berbasis praktik industri. Salah satu upaya yang dilakukan adalah melalui pelaksanaan Field Trip to Indonesia Drilling Training Center (IDTC) Batch I yang sebelumnya telah dilaksanakan pada 30 November hingga 1 Desember 2025 di IDTC Kaplongan, Indramayu.
Kegiatan ini melibatkan 35 mahasiswa dan dirancang untuk menjembatani kesenjangan antara pembelajaran teoritis di ruang kelas dengan realitas operasional di industri pengeboran migas. Melalui kunjungan ke fasilitas milik Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI), mahasiswa memperoleh pemahaman mengenai alur kerja pengeboran, penerapan standar keselamatan kerja, serta tuntutan profesionalisme di sektor migas.
Selain observasi langsung rig pengeboran, mahasiswa juga mengikuti safety briefing, pemaparan materi Basic Drilling and Operation, serta pengenalan ruang simulasi. Rangkaian kegiatan tersebut memberikan gambaran mengenai kompleksitas operasi pengeboran migas yang menuntut ketelitian, disiplin, dan kepatuhan terhadap prosedur keselamatan.
Dalam kegiatan tersebut, Doddy Wibisono, Directional Drilling Specialist Pertamina Drilling, menegaskan bahwa kesiapan SDM migas tidak hanya ditentukan oleh penguasaan teori, tetapi juga oleh disiplin dan budaya keselamatan kerja di lapangan.
“Operasi pengeboran menuntut disiplin, akurasi, dan kepatuhan terhadap standar keselamatan kerja. Kompetensi ini perlu dibangun sejak bangku kuliah agar lulusan siap menghadapi risiko dan kompleksitas industri migas,” tuturnya.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, mahasiswa memperoleh paparan langsung terhadap praktik operasi pengeboran migas, termasuk aspek teknis dan penerapan standar keselamatan kerja. Pembelajaran berbasis praktik ini menjadi bagian dari upaya memperkaya pemahaman mahasiswa terhadap dinamika industri migas yang memiliki tingkat kompleksitas dan risiko tinggi.
Pelaksanaan Field Trip to IDTC Batch I mencerminkan upaya Program Studi Teknik Perminyakan Universitas Pertamina dalam mengaitkan pembelajaran akademik dengan kebutuhan industri. Di tengah agenda transisi energi, penguatan pengalaman praktik lapangan dipandang penting untuk memberikan gambaran nyata dunia kerja sektor energi kepada mahasiswa. [MP]