ID / EN
Berita Populer

Bisakah Lempuyang Gajah Berpotensi Menjadi Obat Herbal? Peneliti UPER Ungkap Penjelasannya!


Published by: Universitas Pertamina Rabu, 29 Juli 2026
Dibaca: 3 kali
Jahe, kunyit, dan temulawak mungkin sudah akrab di telinga masyarakat sebagai bahan jamu tradisional. Namun, pernahkah Anda mendengar lempuyang gajah? Meski belum sepopuler tanaman herbal lainnya, rimpang yang masih satu keluarga dengan jahe ini telah lama dimanfaatkan masyarakat untuk membantu mengatasi berbagai keluhan kesehatan. Kini, para peneliti mulai mengungkap potensi ilmiahnya melalui pendekatan sains modern.
Indonesia sendiri dikenal sebagai salah satu negara dengan kekayaan tanaman obat terbesar di dunia.

Kementerian Kesehatan menyebut Indonesia memiliki lebih dari 30.000 spesies tumbuhan, dan sekitar 9.600 di antaranya berpotensi dimanfaatkan sebagai tanaman obat. Sayangnya, hanya sebagian kecil yang telah diteliti secara mendalam dan dikembangkan menjadi produk kesehatan modern. 

Bahkan, data Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) menunjukkan bahwa dari ribuan tanaman obat tersebut, baru sekitar 20 produk fitofarmaka yang telah memperoleh izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Kondisi ini menunjukkan masih besarnya peluang riset untuk membuktikan manfaat tanaman lokal sekaligus meningkatkan nilai tambahnya bagi industri kesehatan nasional.

Di antara berbagai tanaman tersebut, lempuyang gajah menjadi salah satu yang mulai menarik perhatian para peneliti. Lantas, benarkah tanaman ini berpotensi menjadi obat herbal?

Apa Itu Lempuyang Gajah?

Lempuyang gajah (Zingiber zerumbet) merupakan tanaman rimpang dari famili Zingiberaceae, keluarga yang sama dengan jahe, kunyit, dan lengkuas. Tanaman ini tumbuh di wilayah tropis, termasuk Indonesia, serta memiliki aroma khas yang berasal dari kandungan minyak atsiri pada rimpangnya. Selama bertahun-tahun, masyarakat memanfaatkan rimpangnya sebagai bahan jamu tradisional untuk membantu mengatasi berbagai keluhan, mulai dari demam, diare, gangguan pencernaan, peradangan, infeksi bakteri, pegal, hingga keseleo.

Meski telah digunakan secara turun-temurun, penelitian ilmiah mengenai lempuyang gajah masih terus berkembang. Hal ini penting untuk memastikan kandungan senyawa aktifnya, memahami mekanisme kerjanya, sekaligus membuka peluang pemanfaatannya sebagai bahan baku produk herbal yang aman, berkualitas, dan memiliki manfaat yang teruji secara ilmiah.

Mengapa Lempuyang Gajah Berpotensi Menjadi Obat Herbal?

Potensi tersebut berasal dari berbagai senyawa bioaktif yang terkandung di dalam rimpangnya.

Potensi ini turut menarik perhatian para peneliti di Program Studi Kimia Universitas Pertamina. Melalui penelitian yang dipimpin oleh Dr. Nila T. Berghuis, S.Si., M.Si. bersama Eduardus Budi Nursanto, Ph.D., dan para kolaborator, tim peneliti mengkaji kandungan senyawa bioaktif pada lempuyang gajah sekaligus mengembangkan metode ekstraksi yang lebih efektif dan ramah lingkungan. Hasil penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal Science and Technology Indonesia.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa lempuyang gajah mengandung berbagai metabolit sekunder, seperti senyawa fenolik, flavonoid, terpenoid, dan alkaloid. Di antara berbagai senyawa tersebut, fenolik dan flavonoid menjadi perhatian karena dikenal memiliki aktivitas antioksidan alami. Antioksidan berperan membantu melindungi sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas yang berkaitan dengan berbagai penyakit degeneratif.

Semakin tinggi kandungan senyawa aktif yang berhasil diperoleh dari tanaman, semakin besar pula peluangnya untuk dikembangkan menjadi bahan baku produk herbal, pangan fungsional, maupun produk kesehatan lainnya. Namun, memperoleh senyawa tersebut tidak sesederhana mengolah tanaman menjadi jamu. Diperlukan proses ilmiah agar senyawa bioaktif dapat diambil secara optimal tanpa mengurangi kualitasnya.

Lantas, bagaimana para peneliti dapat memperoleh senyawa-senyawa tersebut secara lebih maksimal?

Rahasia di Balik Potensi Lempuyang Gajah

Jawabannya terletak pada teknologi ekstraksi.

Proses ekstraksi merupakan tahapan untuk mengambil senyawa aktif dari suatu tanaman sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku produk herbal maupun produk kesehatan lainnya. Kualitas ekstraksi sangat menentukan banyaknya senyawa bioaktif yang berhasil diperoleh. Apabila metode yang digunakan kurang tepat, sebagian senyawa penting dapat tertinggal di dalam jaringan tanaman atau bahkan mengalami penurunan kualitas.

Selama ini, proses ekstraksi umumnya masih menggunakan pelarut organik yang membutuhkan waktu relatif lama dan kurang ramah terhadap lingkungan. Karena itu, tim peneliti mengembangkan pendekatan baru dengan memanfaatkan pelarut hijau (Natural Deep Eutectic Solvent atau NADES) yang dipadukan dengan bantuan gelombang ultrasonik dan gelombang mikro. Pendekatan tersebut dirancang agar senyawa aktif pada lempuyang gajah dapat terlepas dari jaringan tanaman secara lebih efisien sekaligus mengurangi penggunaan pelarut organik.

Secara sederhana, gelombang ultrasonik membantu membuka dinding sel tanaman sehingga senyawa aktif lebih mudah keluar. Setelah itu, gelombang mikro mempercepat proses ekstraksi sehingga waktu yang dibutuhkan menjadi lebih singkat. Sementara itu, penggunaan pelarut hijau membuat proses ekstraksi menjadi lebih ramah lingkungan karena meminimalkan penggunaan bahan kimia yang berpotensi mencemari lingkungan.

Melalui pendekatan tersebut, tim peneliti berhasil memperoleh kandungan senyawa fenolik dan flavonoid yang lebih tinggi dibandingkan metode ekstraksi konvensional. Penelitian ini juga mengidentifikasi beberapa senyawa penting, seperti gallic acid, ferulic acid, dan p-coumaric acid, yang dikenal memiliki aktivitas antioksidan. Temuan ini semakin memperkuat potensi lempuyang gajah sebagai bahan baku produk herbal yang dapat terus dikembangkan melalui penelitian lanjutan.

Meski demikian, hasil penelitian ini bukan berarti lempuyang gajah dapat langsung digunakan sebagai obat. Pengembangan menjadi produk herbal yang aman, berkhasiat, dan terstandar masih memerlukan berbagai tahapan penelitian lanjutan, mulai dari uji keamanan, uji efektivitas, hingga proses standardisasi sesuai regulasi yang berlaku.

Program Studi Kimia UPER Dorong Inovasi Berbasis Kekayaan Hayati Indonesia

Penelitian mengenai optimalisasi ekstraksi lempuyang gajah menunjukkan bahwa ilmu kimia memiliki peran penting dalam menjembatani kekayaan hayati Indonesia dengan kebutuhan industri modern. Tidak hanya mempelajari struktur dan sifat suatu senyawa, ilmu kimia juga berkontribusi dalam merancang proses yang lebih efektif, aman, dan berkelanjutan agar potensi tanaman lokal dapat dimanfaatkan secara optimal.

Komitmen tersebut menjadi salah satu fokus Program Studi Kimia Universitas Pertamina, yang membekali mahasiswa dengan kompetensi di bidang kimia analitik, kimia organik, teknologi ekstraksi, karakterisasi material, hingga analisis senyawa menggunakan instrumen modern seperti FTIR dan HPLC. Melalui pembelajaran berbasis riset serta kolaborasi dengan berbagai mitra industri dan lembaga penelitian, mahasiswa tidak hanya mempelajari teori di ruang kelas, tetapi juga didorong untuk menghasilkan inovasi yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan dunia industri.

Riset mengenai lempuyang gajah menjadi salah satu contoh bagaimana penelitian di Program Studi Kimia Universitas Pertamina tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi diarahkan untuk menghasilkan inovasi yang berpotensi memperkuat pemanfaatan kekayaan hayati Indonesia. Pengembangan teknologi ekstraksi yang lebih efektif dan ramah lingkungan membuka peluang bagi peningkatan kualitas bahan baku herbal sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia. 

Upaya tersebut menjadi bagian dari semangat Universitas Pertamina untuk menghadirkan UPER Berdampak, yaitu melalui pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat serta mendukung kebutuhan industri. 

Semangat tersebut sejalan dengan Asta Cita ke-5, yaitu melanjutkan hilirisasi dan industrialisasi untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri. Melalui inovasi berbasis sains dan teknologi, hasil riset perguruan tinggi dapat menjadi fondasi dalam mendorong lahirnya produk-produk berbasis bahan alam yang memiliki daya saing, mendukung kemandirian industri nasional, serta memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

Penelitian ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 3: Good Health and Well-being melalui pengembangan tanaman obat berbasis sains, SDG 9: Industry, Innovation and Infrastructure melalui inovasi teknologi ekstraksi berbasis green chemistry, serta SDG 12: Responsible Consumption and Production melalui penerapan pelarut ramah lingkungan dalam proses ekstraksi. Melalui berbagai riset aplikatif seperti ini, Universitas Pertamina terus menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan inovasi yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Bagi calon mahasiswa yang ingin memahami bagaimana ilmu kimia dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan obat herbal, material maju, energi, hingga teknologi ramah lingkungan, Program Studi Kimia Universitas Pertamina menawarkan pengalaman belajar yang mengintegrasikan teori, praktikum, dan penelitian bersama dosen serta mitra industri. Dengan kurikulum yang berorientasi pada inovasi dan kebutuhan industri, mahasiswa didorong untuk menghasilkan solusi berbasis sains yang mampu menjawab tantangan masa depan. 

Jika Anda ingin menjadi bagian dari generasi yang mengembangkan potensi sumber daya alam Indonesia melalui riset dan inovasi, kunjungi laman Penerimaan Mahasiswa Baru Universitas Pertamina untuk mengetahui informasi lebih lanjut mengenai Program Studi Kimia dan jalur pendaftaran.

Referensi:
Berghuis, N. T., Nursanto, E. B., Nanda, E. V., Maryana, E., Tjokrokusuma, D., & Kurniawati, F. (2025). Extraction Optimization of Phenolic Compounds from Rimpang Lempuyang Gajah (Z. Zerumbet): Green Solvent (NADES-UAE)(Ultrasound-Assisted Extraction) and MAE (Microwave Assisted Extraction). Science and Technology Indonesia, 10(4), 1179-1187.  
Kemenkes. (2025). Keanekaragaman Hayati Aset Berharga Indonesia. https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/keanekaragaman-hayati-aset-berharga-indonesia/ 
Kemenko PMK. (2026). Kemenko PMK Dorong Integrasi Data Fitofarmaka untuk Percepat Kemandirian Farmasi Nasional. https://www.kemenkopmk.go.id/kemenko-pmk-dorong-integrasi-data-fitofarmaka-untuk-percepat-kemandirian-farmasi-nasional 
Thumbnail
Bagikan:
Bagikan ke WhatsApp
Bagikan ke Facebook
Bagikan ke X
Bagikan ke Telegram
Bagikan ke LinkedIn

Tinggalkan Balasan
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalan UU ITE

© 2026 Universitas Pertamina.
All rights reserved