Mikroplastik mungkin berukuran sangat kecil, tetapi persoalan yang ditimbulkannya tidak bisa dianggap remeh. Mikroplastik merupakan partikel plastik berukuran sangat kecil, mulai dari kurang dari 5 milimeter hingga sekitar 1 mikrometer. Ukurannya yang kecil membuat partikel ini mudah tersebar di lingkungan (Kompas.id). Selain itu, material plastik dapat membawa berbagai senyawa kimia yang berpotensi menimbulkan dampak berbahaya bagi lingkungan dan makhluk hidup.
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyebut sampah plastik yang masuk ke laut dapat terurai menjadi mikroplastik dan mengancam ekosistem laut. Karena itu, pencegahan sampah dari daratan hingga upaya pemantauan pencemaran menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan laut.
Persoalan tersebut juga mendorong Dr. Nonni Soraya Sambudi, peneliti dari Program Studi Teknik Kimia Universitas Pertamina (UPER), bersama peneliti lainnya untuk mengembangkan metode yang dapat membantu mendeteksi mikroplastik. Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah pemanfaatan pelepah kelapa sawit sebagai material yang berpotensi digunakan untuk mendeteksi mikroplastik.
Pelepah Sawit Jadi Material Pendeteksi
Dalam penelitian yang dipublikasikan di International Journal of Technology pada 2025, pelepah sawit dimanfaatkan sebagai sumber karbon untuk menghasilkan carbon quantum dots (CQDs). Material berukuran sangat kecil ini memiliki sifat fluoresensi yang memungkinkan perubahan cahaya diamati ketika berinteraksi dengan material tertentu.
Pelepah sawit terlebih dahulu diolah menjadi biochar melalui proses pirolisis. Selanjutnya, biochar diproses dengan metode hidrotermal untuk menghasilkan CQDs. Hasil penelitian menunjukkan CQDs yang dibuat pada suhu 200°C memiliki intensitas fluoresensi paling tinggi dan menunjukkan potensi untuk digunakan dalam deteksi mikroplastik.
Cara kerjanya cukup menarik. Ketika mikroplastik ditambahkan ke dalam larutan CQDs, terjadi perubahan intensitas fluoresensi akibat interaksi antara permukaan mikroplastik dan CQDs. Perubahan tersebut kemudian dapat diamati sebagai sinyal untuk mendeteksi keberadaan mikroplastik. Penelitian ini menguji respons material terhadap polyethylene (PE) dan polyethylene terephthalate (PET).
Meski demikian, teknologi tersebut masih dalam tahap pengembangan. Peneliti menyebut masih diperlukan penelitian lanjutan untuk mengetahui batas deteksi, stabilitas material, serta responsnya terhadap berbagai jenis dan konsentrasi mikroplastik.
Dari Limbah Menjadi Inovasi
Yang membuat penelitian ini menarik bukan hanya potensinya untuk mendeteksi mikroplastik, tetapi juga pemanfaatan limbah biomassa sebagai material bernilai tambah.
Di sinilah Teknik Kimia memiliki peran penting. Pengolahan pelepah sawit menjadi material baru membutuhkan pemahaman mengenai proses konversi bahan, kondisi operasi, karakterisasi material, hingga pengujian kinerjanya.
Artinya, persoalan lingkungan dapat menjadi ruang bagi insinyur Teknik Kimia untuk menciptakan solusi baru. Tidak hanya mengolah bahan baku menjadi produk, tetapi juga mencari cara agar limbah dapat kembali masuk ke dalam rantai nilai.
Pendekatan seperti ini relevan dengan kebutuhan Indonesia untuk memperkuat pengelolaan sampah sekaligus mengembangkan teknologi berkelanjutan. Bappenas juga menempatkan plastik sebagai salah satu sektor penting dalam pengembangan ekonomi sirkular nasional.
Semangat tersebut sejalan dengan Asta Cita ke-8 tentang penyelarasan kehidupan yang harmonis dengan lingkungan dan alam, sekaligus mendukung SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab serta SDG 14 tentang Ekosistem Lautan.
Bagi calon mahasiswa yang tertarik mengembangkan solusi berbasis sains dan teknologi untuk menjawab persoalan lingkungan, Program Studi Teknik Kimia Universitas Pertamina dapat menjadi ruang untuk mempelajari proses, material, energi, hingga teknologi berkelanjutan.
Tertarik menjadi bagian dari inovasi untuk masa depan yang lebih berkelanjutan? Kenali lebih jauh Program Studi Teknik Kimia Universitas Pertamina dan informasi penerimaan mahasiswa baru melalui laman resmi PMB Universitas Pertamina.
Referensi:
Sambudi, N. S., Mulia, M. G., Khayrani, A. C., Isnaeni, Raviadaran, R., Aziz, F., Permana, D. D., Suwandi, R., & Lischer, K. (2025). Production of carbon quantum dots based on oil palm fronds for polyethylene and polyethylene terephthalate microplastics detection. International Journal of Technology, 16(1), 233–242. https://doi.org/10.14716/ijtech.v16i1.7376
Kompas.id. (2024). Ancaman Pencemaran Mikroplastik. https://www.kompas.id/artikel/ancaman-pencemaran-mikroplastik?open_from=Search_Result_Page
KKP. (2025). Laut Sebasah, Upaya Nyata Menyelamatkan Laut Indonesia. https://kkp.go.id/djpk/laut-sebasah-upaya-nyata-menyelamatkan-laut-indonesia-nR3R/detail.html