Investasi saham semakin diminati masyarakat Indonesia, terutama generasi muda. Kemudahan membuka rekening efek melalui aplikasi digital membuat aktivitas investasi kini dapat dimulai hanya dengan modal puluhan ribu rupiah. Tren ini tercermin dari data Bursa Efek Indonesia (BEI) yang mencatat jumlah investor pasar modal Indonesia telah melampaui 20 juta Single Investor Identification (SID), tepatnya mencapai 20.042.365 SID per 17 Desember 2025.
Jumlah tersebut meningkat 34,8 persen atau bertambah 5,17 juta SID dibandingkan posisi akhir 2024. Sementara itu, jumlah investor saham mencapai 8.461.938 SID, naik 32,6 persen dibandingkan akhir tahun sebelumnya. Pencapaian ini menunjukkan semakin tingginya minat masyarakat untuk berinvestasi sekaligus mencerminkan meningkatnya kepercayaan terhadap pasar modal Indonesia.
Di balik tren positif tersebut, muncul anggapan yang cukup populer di kalangan investor, yakni semakin tinggi risiko sebuah saham, semakin besar pula keuntungan yang akan diperoleh. Konsep high risk, high return memang menjadi salah satu prinsip dasar dalam investasi. Namun, apakah prinsip tersebut berarti saham dengan risiko paling tinggi selalu menghasilkan keuntungan terbesar?
Jawabannya tidak sesederhana itu.
Risiko Tinggi Bukan Jaminan Untung Besar
Dalam dunia investasi, return merupakan keuntungan yang diperoleh investor, sedangkan risiko investasi adalah kemungkinan hasil investasi berbeda dari yang diharapkan, termasuk potensi mengalami kerugian.
Prinsip high risk, high return sebenarnya menjelaskan adanya hubungan antara risiko dan potensi imbal hasil. Instrumen dengan tingkat ketidakpastian lebih tinggi memang menawarkan peluang keuntungan yang lebih besar dibandingkan instrumen yang relatif stabil. Namun, peluang tersebut selalu disertai kemungkinan kerugian yang sama besarnya.
Sebagai contoh, saham perusahaan yang baru berkembang (growth stocks) dapat mengalami kenaikan harga yang signifikan ketika bisnisnya tumbuh pesat. Di sisi lain, saham tersebut juga lebih rentan mengalami penurunan tajam apabila kinerja perusahaan tidak sesuai ekspektasi pasar.
Artinya, risiko yang tinggi hanya membuka peluang memperoleh return lebih besar, bukan menjamin keuntungan.
Mengapa Risiko Saham Berbeda-beda?
Tidak semua saham memiliki tingkat risiko yang sama. Beberapa faktor yang memengaruhinya antara lain:
Kondisi fundamental perusahaan, seperti laba, arus kas, dan tingkat utang.
Fluktuasi ekonomi, termasuk inflasi, suku bunga, dan nilai tukar.
Kondisi industri tempat perusahaan beroperasi.
Sentimen pasar dan perilaku investor.
Karena banyak faktor yang saling memengaruhi, harga saham dapat berubah setiap hari. Investor yang hanya mengikuti tren tanpa memahami karakteristik risiko berpotensi mengambil keputusan yang kurang tepat.
Peran Sains Aktuaria dalam Mengelola Risiko Investasi
Di sinilah ilmu Sains Aktuaria memiliki peran penting.
Selama ini, banyak orang mengenal aktuaris sebagai profesi yang berkaitan dengan industri asuransi. Padahal, kemampuan utama seorang aktuaris adalah mengukur ketidakpastian dan mengelola risiko menggunakan pendekatan matematika, statistika, ekonomi, serta analisis data.
Dalam konteks investasi saham, pendekatan aktuaria dapat digunakan untuk:
mengukur probabilitas keuntungan maupun kerugian suatu portofolio;
menganalisis volatilitas harga saham;
menghitung keseimbangan antara risiko dan return investasi;
membangun strategi diversifikasi agar risiko dapat ditekan tanpa menghilangkan potensi keuntungan.
Dengan kata lain, tujuan investasi bukan sekadar mencari return tertinggi, tetapi memperoleh return yang optimal sesuai tingkat risiko yang mampu ditanggung investor.
Manajemen Risiko Lebih Penting daripada Mengejar Return
Investor yang berpengalaman umumnya tidak hanya berfokus pada besarnya keuntungan, tetapi juga memperhatikan bagaimana mengelola risiko.
Beberapa prinsip manajemen risiko yang umum diterapkan antara lain:
melakukan diversifikasi ke beberapa instrumen atau sektor;
berinvestasi sesuai profil risiko pribadi;
memahami kondisi fundamental perusahaan sebelum membeli saham;
menetapkan target keuntungan dan batas kerugian (cut loss);
berinvestasi untuk tujuan jangka panjang, bukan sekadar mengikuti tren sesaat.
Pendekatan ini membantu investor mengambil keputusan secara lebih rasional dibandingkan hanya mengandalkan emosi atau informasi yang sedang viral.
Literasi Keuangan Menjadi Kunci
Pertumbuhan jumlah investor di Indonesia menunjukkan semakin banyak masyarakat yang mulai memanfaatkan pasar modal sebagai instrumen pengembangan aset. Namun, peningkatan jumlah investor juga perlu diimbangi dengan literasi keuangan yang memadai agar keputusan investasi tidak hanya didasarkan pada spekulasi.
Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia mencapai 66,46 persen, sementara indeks inklusi keuangan mencapai 80,51 persen. Selisih tersebut menunjukkan bahwa akses terhadap layanan keuangan belum sepenuhnya diimbangi dengan pemahaman yang memadai mengenai pengelolaan risiko dan pengambilan keputusan keuangan.
Di tengah kompleksitas pasar keuangan saat ini, kemampuan memahami hubungan antara risiko dan return menjadi semakin penting. Inilah yang menjadikan ilmu aktuaria relevan, karena tidak hanya mengajarkan cara menghitung peluang keuntungan, tetapi juga membantu mengelola ketidakpastian melalui pendekatan berbasis data dan analisis kuantitatif.
Pemahaman tersebut turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4: Quality Education (Pendidikan Berkualitas) melalui penguatan literasi keuangan, serta SDG 8: Decent Work and Economic Growth (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) dengan mendorong lahirnya sumber daya manusia yang memiliki kompetensi dalam analisis risiko dan pengambilan keputusan finansial yang bertanggung jawab.
Melalui Program Studi Sains Aktuaria Universitas Pertamina, mahasiswa dibekali kompetensi di bidang matematika, statistika, keuangan, analisis risiko, hingga pemodelan data yang banyak dibutuhkan di industri asuransi, investasi, perbankan, dana pensiun, hingga berbagai sektor yang mengandalkan pengambilan keputusan berbasis data.
Lulusan tidak hanya memahami cara menghitung risiko, tetapi juga mampu mengembangkan strategi untuk mengelolanya sehingga dapat mendukung pengambilan keputusan yang lebih akurat dan berkelanjutan.
Referensi:
IDX. (2025). Jumlah Investor Pasar Modal Indonesia Tembus 20 Juta. https://www.idx.co.id/id/berita/siaran-pers/2525
OJK. (2025). Booklet Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan. chrome-extension://efaidnbmnnnibpcajpcglclefindmkaj/https://ojk.go.id/id/Fungsi-Utama/Perilaku-Pelaku-Usaha-Jasa-Keuangan/SNLIK/Documents/Booklet%20Hasil%20Survei%20Nasional%20Literasi%20dan%20Inklusi%20Keuangan%20%28SNLIK%29%20Tahun%202025.pdf