ID / EN
Berita Populer

Bisakah Minyak Kelapa Menjadi Bahan Bakar Pesawat? Begini Kata Peneliti UPER


Published by: Universitas Pertamina Kamis, 20 Agustus 2026
Dibaca: 11 kali
Indonesia terus mencari jalan untuk mengurangi ketergantungan sektor transportasi terhadap bahan bakar fosil, termasuk di industri penerbangan. Langkah ini bukan sekadar wacana. Pada 2025, Indonesia telah mencatat penerbangan komersial perdana menggunakan Sustainable Aviation Fuel (SAF) berbahan baku minyak jelantah. Pemerintah pun menilai pengembangan SAF sebagai salah satu peluang penting untuk menghadirkan bahan bakar penerbangan yang lebih rendah emisi sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

Namun, satu pertanyaan menarik kemudian muncul: selain minyak jelantah dan sawit, bisakah minyak kelapa juga diolah menjadi bahan bakar pesawat?

Potensi itulah yang diteliti oleh peneliti yang juga dosen Program Studi Teknik Kimia Universitas Pertamina, Agung Nugroho dan Putu Diah Candra Dewi, bersama tim peneliti dari BRIN. Melalui penelitian mengenai pengembangan katalis, mereka mengeksplorasi peluang mengonversi minyak kelapa menjadi hidrokarbon dengan karakteristik yang berada dalam rentang bahan bakar jet atau bioavtur.

Dari Minyak Kelapa ke Bioavtur

Secara alami, minyak kelapa mengandung asam lemak, terutama dengan rantai karbon yang berpotensi dikonversi menjadi hidrokarbon yang sesuai untuk bahan bakar penerbangan. Namun, minyak kelapa tentu tidak bisa langsung dimasukkan ke tangki pesawat.

Di sinilah ilmu Teknik Kimia berperan.

Minyak nabati perlu melalui serangkaian proses reaksi untuk menghilangkan kandungan oksigen dan mengubah struktur senyawanya menjadi hidrokarbon yang lebih menyerupai komponen bahan bakar jet. Proses tersebut dikenal sebagai deoksigenasi, yang dapat berlangsung melalui jalur dekarboksilasi, dekarbonilasi, maupun hidro-deoksigenasi.

Tantangannya terletak pada katalis yang digunakan untuk mempercepat dan mengarahkan reaksi tersebut. Katalis berbasis logam mulia seperti palladium diketahui memiliki performa yang baik, tetapi harganya relatif mahal. Sementara itu, katalis berbasis sulfida berpotensi menghadirkan persoalan lain, seperti sulfur leaching yang dapat menyebabkan kontaminasi produk.

Karena itu, tim peneliti mencoba mengembangkan alternatif yang lebih ekonomis dan bebas sulfur.

Mengembangkan Katalis dari ZIF-67

Dalam penelitian tersebut, tim memanfaatkan ZIF-67, salah satu jenis metal-organic framework (MOF), sebagai bahan dasar untuk menghasilkan material katalis. Material ini kemudian dimodifikasi dengan nikel dan melalui proses tertentu hingga menghasilkan katalis berbasis nikel dan metal oxide yang diturunkan dari ZIF-67.

Sederhananya, struktur material tersebut dirancang agar memiliki karakteristik yang mendukung terjadinya reaksi deoksigenasi. Keberadaan nikel penting karena logam ini dikenal efektif dalam reaksi yang melibatkan hidrogen dan dapat menjadi alternatif yang lebih terjangkau dibandingkan logam mulia.

Hasil karakterisasi menunjukkan adanya spesies seperti Co₃O₄, NiO, dan Ni pada katalis yang dikembangkan. Katalis tersebut kemudian diuji untuk mengonversi minyak kelapa menjadi hidrokarbon pada rentang yang relevan dengan bahan bakar jet.

Berbagai kondisi juga dievaluasi, mulai dari jumlah nikel yang digunakan, temperatur dan waktu reaksi, tekanan hidrogen, hingga kemampuan katalis untuk digunakan kembali.

Bukan Sekadar Membuat “Avtur dari Kelapa”

Penelitian ini memang belum berarti pesawat akan segera terbang menggunakan minyak kelapa sebagai pengganti avtur konvensional. Namun, riset tersebut membuka ruang penting dalam pengembangan teknologi konversi bahan baku nabati menjadi bahan bakar bernilai tinggi.

Indonesia sendiri telah menunjukkan perkembangan dalam pengembangan bioavtur. Kementerian ESDM mencatat keberhasilan uji terbang Bioavtur J2.4 pada 2021, sementara pada 2025 Indonesia kembali mencatat tonggak baru melalui produksi dan penerbangan menggunakan SAF berbahan baku minyak jelantah yang telah memenuhi standar kualitas yang dipersyaratkan untuk bahan bakar penerbangan.

Riset mengenai minyak kelapa pun menunjukkan bahwa inovasi energi tidak hanya berbicara tentang menemukan sumber bahan baku baru. Tantangan yang sama pentingnya adalah bagaimana merancang proses, reaksi, dan katalis agar konversinya semakin efektif, efisien, dan berkelanjutan.

Di titik inilah keilmuan Teknik Kimia menjadi relevan. Mulai dari rekayasa reaksi, pengembangan katalis, pengolahan sumber daya, hingga desain proses industri, semuanya menjadi bagian dari upaya menghadirkan solusi bagi tantangan energi masa depan.

Penelitian yang dilakukan oleh dosen Teknik Kimia Universitas Pertamina bersama BRIN ini menjadi salah satu contoh bagaimana riset di bidang rekayasa dapat berkontribusi pada pengembangan rantai pasok energi yang lebih berkelanjutan—dari pemanfaatan sumber daya lokal hingga pengembangan teknologi untuk menghasilkan produk energi bernilai tinggi.

Sejalan dengan SDGs 7 tentang Energi Bersih dan Terjangkau, SDGs 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, serta SDGs 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim, penelitian ini menunjukkan bahwa pengembangan energi berkelanjutan tidak hanya bergantung pada ketersediaan sumber daya terbarukan, tetapi juga pada kemampuan untuk mengolahnya menjadi produk bernilai tambah melalui inovasi teknologi. 

Dalam konteks ini, pemanfaatan minyak kelapa sebagai bahan baku potensial bioavtur sejalan dengan Asta Cita ke-5, yaitu melanjutkan hilirisasi dan industrialisasi untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri. Alih-alih hanya menjadi komoditas mentah, sumber daya lokal memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah tinggi melalui penguasaan proses, pengembangan katalis, dan inovasi teknologi.

Melalui kolaborasi antara akademisi Universitas Pertamina dan peneliti BRIN, riset ini menjadi salah satu contoh bagaimana pengembangan ilmu pengetahuan dapat mendukung lahirnya inovasi yang relevan dengan kebutuhan masa depan. Bukan hanya tentang mencari alternatif bahan bakar pesawat, tetapi juga tentang membangun kemampuan untuk mengembangkan teknologi pengolahan sumber daya dan menciptakan nilai tambah dari potensi yang dimiliki Indonesia.

Melalui semangat UPER Berdampak, Universitas Pertamina terus mendorong riset dan inovasi yang tidak berhenti di laboratorium, tetapi diarahkan untuk menjawab tantangan nyata di sektor energi dan industri. 
Bagi calon mahasiswa yang tertarik memahami bagaimana ilmu kimia dapat diolah menjadi solusi nyata mulai dari pengembangan katalis hingga inovasi energi masa depan, Program Studi Teknik Kimia Universitas Pertamina menjadi ruang untuk belajar, bereksperimen, dan mengambil bagian dalam pengembangan teknologi yang dapat memberi dampak. Daftarkan dirimu sekarang juga, di laman resmi Penerimaan Mahasiswa Baru Universitas Pertamina.

Referensi:
Nugroho, A., Dewi, P. D. C., Hidayati, L. N., Kristiani, A., Aulia, F., Bakti, A. N., ... & Dahnum, D. (2026). Catalytic deoxygenation of coconut oil to bio-jet fuel range hydrocarbon over nickel on ZIF-67-derived metal oxide. Fuel, 407, 137430. 

Aprobi. 2025. Keberhasilan Uji Terbang Pesawat Berbahan Bakar Bioavtur, Langkah Strategis Pemanfaatan Energi Terbarukan di Sektor Transportasi Udara. https://www.aprobi.or.id/id/bioavtur-saf-indonesia-jadi-pahlawan-dunia/ 

Thumbnail
Bagikan:
Bagikan ke WhatsApp
Bagikan ke Facebook
Bagikan ke X
Bagikan ke Telegram
Bagikan ke LinkedIn

Tinggalkan Balasan
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalan UU ITE

© 2026 Universitas Pertamina.
All rights reserved