ID / EN
Berita Kampus

Ubah Lumpur Lapindo Jadi Filter Air, Inovasi Sivitas Universitas Pertamina Kantongi HKI


Published by: Universitas Pertamina Selasa, 9 Juni 2026
Dibaca: 147 kali
Material yang selama ini identik dengan bencana lingkungan ternyata menyimpan potensi lain yang bermanfaat. Melalui inovasi bernama LAMBO JERNIH (Lapindo Mud Adsorben), sivitas Universitas Pertamina berhasil mengembangkan teknologi filtrasi air berbasis Lumpur Lapindo yang dapat membantu menurunkan kandungan besi (Fe) dan mangan (Mn) dalam air. 
Inovasi ini menjadi salah satu wujud komitmen Universitas Pertamina sebagai kampus berdampak yang mendorong lahirnya solusi berbasis riset untuk menjawab tantangan lingkungan sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Inovasi tersebut dikembangkan oleh Muhammad Afrizal Ichwanul Ulum bersama Dr. Eng. Ari Rahman, S.T., M.Eng., Muhammad Karunia Vivaldi, Muhammad Hasyim Hudoyo, Zakiyah Fadhilah Putri, dan Puti Nur Sakinah. Atas karya tersebut, tim berhasil memperoleh Surat Pencatatan Ciptaan dari Kementerian Hukum Republik Indonesia dengan nomor pencatatan 001218491 pada 4 Mei 2026.

Pengembangan LAMBO JERNIH berangkat dari upaya mencari solusi yang tidak hanya membantu meningkatkan kualitas air, tetapi juga memanfaatkan material lokal yang selama ini belum banyak dimanfaatkan secara optimal. Lumpur Lapindo dipilih karena memiliki karakteristik mineral yang berpotensi dikembangkan sebagai material adsorben atau penyerap dalam proses pengolahan air.

Dalam proses pembuatannya, Lumpur Lapindo terlebih dahulu diaktivasi menggunakan larutan NaOH untuk membuka pori-pori material sehingga meningkatkan kemampuan adsorpsinya. Material kemudian melalui proses kalsinasi atau pemanasan bersuhu tinggi untuk menghilangkan zat pengotor dan memperkuat karakteristiknya sebagai media filtrasi.

Lumpur yang telah teraktivasi selanjutnya dikombinasikan dengan karbon aktif, serbuk keramik, dan kerikil dalam sistem filtrasi berlapis. Susunan material tersebut membentuk media penyaring yang dirancang untuk membantu memperbaiki kualitas air secara sederhana dan efisien.

Hasil pengujian laboratorium menunjukkan bahwa LAMBO JERNIH mampu membantu menurunkan kandungan besi (Fe) dan mangan (Mn) dalam air. Menariknya, sistem ini dapat beroperasi tanpa listrik maupun penambahan bahan kimia selama proses filtrasi, sehingga berpotensi menjadi alternatif teknologi pengolahan air yang lebih sederhana, mudah dirawat, dan terjangkau untuk diterapkan di masyarakat.

Menurut Muhammad Afrizal Ichwanul Ulum, inovasi ini lahir dari keinginan untuk menghadirkan solusi lingkungan yang memberikan manfaat ganda, yakni membantu pengolahan air sekaligus meningkatkan nilai guna material yang selama ini dianggap sebagai limbah.

“Kami ingin menunjukkan bahwa Lumpur Lapindo tidak hanya dipandang sebagai limbah, tetapi juga memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi material adsorben yang bermanfaat dalam pengolahan air,” ujarnya.

Perolehan HKI atas LAMBO JERNIH turut mendapat dukungan dari Direktorat Inovasi dan Kewirausahaan Universitas Pertamina melalui Fungsi Pengembangan Produk dan Kekayaan Intelektual dalam program Raise UP. Program tersebut menjadi bagian dari komitmen universitas dalam mendorong hilirisasi riset, memperkuat budaya inovasi, serta meningkatkan perlindungan kekayaan intelektual hasil karya sivitas akademika.

Lebih dari sekadar capaian HKI, LAMBO JERNIH menunjukkan bagaimana riset di Universitas Pertamina mampu menghasilkan solusi yang relevan terhadap tantangan lingkungan dan kebutuhan masyarakat. Melalui pemanfaatan Lumpur Lapindo menjadi material penyaring air bernilai guna, Universitas Pertamina terus memperkuat perannya sebagai kampus berdampak yang menghadirkan inovasi berbasis riset untuk mendukung pembangunan berkelanjutan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Kontribusi tersebut juga selaras dengan pelaksanaan Asta Cita Presiden Republik Indonesia, khususnya Asta Cita ke-2 yang menekankan terwujudnya kemandirian bangsa melalui swasembada air dan pengembangan ekonomi hijau, serta Asta Cita ke-5 mengenai percepatan hilirisasi dan industrialisasi untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri. 

Pengembangan LAMBO JERNIH menunjukkan bagaimana hasil riset perguruan tinggi dapat meningkatkan nilai guna material lokal yang sebelumnya dipandang sebagai limbah menjadi teknologi yang berpotensi mendukung penyediaan air bersih sekaligus memperkuat inovasi nasional.

Inovasi ini juga sejalan dengan komitmen Universitas Pertamina dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 6 tentang Air Bersih dan Sanitasi Layak melalui pengembangan teknologi pengolahan air yang ramah lingkungan, serta SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab melalui pemanfaatan limbah menjadi material bernilai guna dan berkelanjutan.

Melalui inovasi seperti LAMBO JERNIH, Universitas Pertamina terus menunjukkan bahwa perguruan tinggi tidak hanya menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga berperan aktif dalam menghasilkan solusi yang berdampak bagi masyarakat. Dengan menghubungkan riset, inovasi, dan kebutuhan pembangunan nasional, Universitas Pertamina berkomitmen menghadirkan karya yang memberikan manfaat nyata bagi lingkungan, industri, dan masa depan Indonesia yang berkelanjutan. [MV]
Thumbnail Thumbnail
Bagikan:
Bagikan ke WhatsApp
Bagikan ke Facebook
Bagikan ke X
Bagikan ke Telegram
Bagikan ke LinkedIn

Tinggalkan Balasan
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalan UU ITE

© 2026 Universitas Pertamina.
All rights reserved