Jakarta tidak hanya menjadi lokasi kunjungan bagi mahasiswa internasional yang mengikuti UPER Sustainability Summer Bootcamp 2026. Melalui pengalaman langsung menggunakan transportasi publik hingga menelusuri kawasan bersejarah, ibu kota menjadi ruang belajar untuk memahami bagaimana mobilitas, kehidupan sosial, budaya, dan pembangunan kota saling berkaitan dalam isu keberlanjutan.
Universitas Pertamina (UPER) menghadirkan pengalaman tersebut melalui kegiatan “Jakarta Sustainability Field Exposure” yang diikuti mahasiswa internasional dari Jepang, Mongolia, dan Prancis pada Selasa, 14 Juli 2026. Dalam kegiatan ini, peserta diajak melihat Jakarta sebagai living laboratory untuk memahami keberlanjutan melalui persoalan dan dinamika yang ditemui langsung di lapangan.
Didampingi mahasiswa UPER sebagai buddies, panitia dari Sustainability Center Universitas Pertamina, serta International Office, peserta mengeksplorasi sistem mobilitas perkotaan dan kawasan bersejarah Jakarta. Perjalanan dimulai dari Stasiun MRT ASEAN dan Halte CSW, dilanjutkan menuju Stasiun Bundaran HI sebelum peserta menggunakan TransJakarta untuk menuju Kota Tua.
Pengalaman berpindah menggunakan berbagai moda transportasi tersebut menjadi bagian dari pembelajaran mengenai keterhubungan antarmoda dan perannya dalam mendukung mobilitas masyarakat perkotaan. Peserta juga mengamati bagaimana sistem transportasi tidak hanya berkaitan dengan perpindahan manusia, tetapi turut membentuk akses terhadap berbagai kawasan, aktivitas ekonomi, serta kehidupan sosial masyarakat.
Amida, peserta asal Mongolia, mengaku mendapatkan perspektif baru mengenai keberlanjutan melalui pengalamannya selama mengeksplorasi Jakarta. Menurutnya, keberlanjutan tidak hanya dapat dilihat dari aspek lingkungan, tetapi juga dari cara sebuah kota berkembang dan digunakan oleh masyarakatnya.
“Indonesia memiliki cara yang menarik dalam mengelola kehidupan perkotaan. Saya melihat keterkaitan antara transportasi publik, kawasan bersejarah, dan aktivitas masyarakat. Pengalaman ini menunjukkan bahwa keberlanjutan juga mencakup bagaimana kota berkembang dan digunakan oleh masyarakat,” ujar Amida.
Pembelajaran kemudian berlanjut di Kota Tua Jakarta. Di kawasan tersebut, peserta diajak melihat bagaimana pelestarian cultural heritage dapat berjalan beriringan dengan perkembangan kota dan aktivitas masyarakat. Kawasan bersejarah tersebut menjadi contoh bahwa identitas budaya dan sejarah memiliki peran dalam membangun kota yang berkelanjutan.
M. Hasyim Hudoyo, mahasiswa UPER yang menjadi buddy peserta, menjelaskan bahwa setiap lokasi dalam kegiatan ini dipilih sebagai bagian dari proses pembelajaran. Peserta tidak sekadar diajak mengunjungi sejumlah titik di Jakarta, tetapi didorong untuk mengamati hubungan antara ruang kota, transportasi, budaya, dan kehidupan masyarakat.
“Kami mendampingi peserta menggunakan MRT dan TransJakarta hingga mengeksplorasi Kota Tua. Setiap lokasi memiliki konteks pembelajaran untuk memahami keterkaitan transportasi publik, ruang kota, budaya, dan aktivitas masyarakat,” ujar Hasyim.
Melalui interaksi langsung dengan kondisi perkotaan, mahasiswa internasional juga memiliki kesempatan untuk membandingkan Jakarta dengan kota maupun negara asal mereka. Perbedaan sistem transportasi, karakter kawasan, hingga kondisi sosial dan lingkungan menjadi bahan diskusi untuk melihat bahwa tantangan keberlanjutan dapat muncul dalam konteks yang berbeda-beda.
Pendekatan pembelajaran berbasis pengalaman langsung tersebut sejalan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-11, yaitu mewujudkan kota dan permukiman yang inklusif, aman, tangguh, dan berkelanjutan. Bagi UPER, pembelajaran keberlanjutan perlu membawa mahasiswa untuk memahami persoalan secara kontekstual sekaligus melihat berbagai kemungkinan solusi dari kondisi nyata di masyarakat.
Kegiatan Jakarta Sustainability Field Exposure juga menjadi bagian dari komitmen UPER Berdampak dalam menghadirkan pembelajaran yang terhubung dengan persoalan nyata. Selain itu, kegiatan ini turut mendukung Asta Cita ke-4 yang menitikberatkan pada penguatan pembangunan sumber daya manusia melalui pendidikan, sains, teknologi, serta penguatan peran riset dan inovasi dalam pembangunan nasional.
Melalui pengalaman belajar di Jakarta, peserta UPER Sustainability Summer Bootcamp 2026 tidak hanya membawa pulang pengalaman mengenal ibu kota Indonesia. Mereka juga memperoleh perspektif bahwa membangun kota berkelanjutan membutuhkan keterhubungan berbagai aspek, mulai dari sistem mobilitas, lingkungan, ruang publik, hingga pelestarian budaya dan keterlibatan masyarakat.
Dengan menjadikan Jakarta sebagai living laboratory, UPER membuka ruang bagi mahasiswa dari berbagai negara untuk belajar bahwa keberlanjutan bukan sekadar konsep yang dibahas di dalam kelas, melainkan persoalan nyata yang dapat diamati, dipertanyakan, dan dipahami langsung dari kehidupan sehari-hari. [MP]