ID / EN
Berita Populer

Panel Surya Punya Batas Usia, Bagaimana Nasibnya Setelah Tidak Terpakai? Temukan Jawabannya


Published by: Universitas Pertamina Selasa, 20 Oktober 2026
Dibaca: 10 kali
Pemanfaatan energi surya menjadi salah satu langkah penting dalam mendorong transisi menuju energi bersih. Melalui Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), sinar matahari dapat dikonversi menjadi listrik tanpa menghasilkan emisi langsung selama operasionalnya. Namun, perkembangan teknologi ini juga menghadirkan tantangan baru tentang bagaimana mengelola panel surya ketika sudah mencapai akhir masa pakainya.

Umumnya, panel surya dirancang untuk beroperasi sekitar 25–30 tahun. Seiring meningkatnya pemasangan PLTS, jumlah panel yang mencapai akhir masa pakainya juga diperkirakan terus bertambah. Jurnal Nature Energy (2020) memperkirakan akumulasi limbah panel surya global dapat mencapai sekitar 8 juta ton pada 2030 dan hampir 80 juta ton pada 2050.

Persoalannya bukan hanya jumlah limbah yang dihasilkan, tetapi juga bagaimana memulihkan material di dalamnya. Sebab, panel surya sebenarnya masih menyimpan berbagai sumber daya yang berpotensi dimanfaatkan kembali.

Material Bernilai yang Belum Optimal Dipulihkan

Dalam jurnal Research and Development Priorities for Silicon Photovoltaic Module Recycling to Support a Circular Economy, Garvin A. Heath dan sejumlah peneliti menjelaskan bahwa panel surya berbasis silikon kristalin (crystalline silicon) mengandung berbagai material, seperti kaca, aluminium, silikon, perak, tembaga, serta komponen polimer.

Proses daur ulang konvensional umumnya lebih mudah memulihkan kaca dan aluminium karena kedua material tersebut relatif mudah dipisahkan. Namun, material bernilai lainnya, seperti silikon dan perak, masih menghadapi tantangan dalam proses pemulihan.

Padahal, silikon merupakan komponen utama sel surya, sedangkan perak digunakan dalam rangkaian listrik pada sel. Keduanya memiliki nilai ekonomi dan berpotensi dimanfaatkan kembali sebagai bahan baku industri.

Kondisi ini menunjukkan bahwa keberhasilan daur ulang tidak cukup diukur dari banyaknya material yang berhasil dipisahkan berdasarkan berat. Pemulihan material bernilai dan kualitas hasil daur ulang juga perlu menjadi perhatian.

Mengapa Daur Ulang Panel Surya Tidak Mudah?

Menurut kajian tersebut, proses daur ulang panel surya berbasis silikon kristalin secara umum melibatkan tiga tahapan. Pertama, pembongkaran komponen seperti kerangka aluminium dan kotak sambungan listrik. Kedua, pelepasan lapisan enkapsulasi yang merekatkan komponen panel. Ketiga, pemisahan dan pemurnian silikon serta logam bernilai lainnya.

Tantangan terbesar muncul ketika material harus dipisahkan tanpa menurunkan kualitasnya. Silikon hasil pemulihan, misalnya, masih dapat mengandung berbagai pengotor dari proses manufaktur, penggunaan, maupun daur ulang. Untuk dimanfaatkan kembali sebagai bahan baku sel surya, material tersebut membutuhkan tingkat kemurnian yang sangat tinggi.

Karena itu, peneliti menekankan pentingnya pengembangan teknologi pemurnian silikon, karakterisasi material hasil daur ulang, serta evaluasi terhadap efektivitas prosesnya. Pengembangan teknologi juga perlu mempertimbangkan dua aspek, yaitu Life Cycle Assessment (LCA) untuk mengukur dampak lingkungan dan Techno-Economic Analysis (TEA) untuk menilai kelayakan ekonominya.

Ekonomi Sirkular dalam Transisi Energi

Tantangan tersebut memperlihatkan bahwa pengelolaan panel surya tidak hanya berkaitan dengan teknologi pengolahan limbah, tetapi juga dengan penerapan ekonomi sirkular. Pendekatan ini berupaya mempertahankan nilai guna produk dan material selama mungkin melalui pemulihan dan pemanfaatan kembali sumber daya.

Dalam konteks Indonesia, infografis Institute for Essential Services Reform (IESR) pada 2021 memperkirakan potensi limbah panel surya dapat mencapai sekitar 1,7 juta ton pada 2050. Proyeksi tersebut menunjukkan pentingnya mempersiapkan teknologi, fasilitas pengolahan, investasi, dan regulasi pengelolaan panel surya bekas.

Persoalan ini juga relevan dengan kajian Program Studi Magister Sains Keberlanjutan Universitas Pertamina, khususnya dalam memahami hubungan antara transisi energi, ekonomi sirkular, perubahan iklim, dan tata kelola lingkungan. Melalui pendekatan multidisiplin, tantangan pengelolaan limbah panel surya dapat dikaji tidak hanya dari aspek teknologi, tetapi juga dampak lingkungan dan kelayakan ekonominya.

Upaya tersebut sejalan dengan poin Sustainability Development Goals yaitu SDGs 7 tentang Energi Bersih dan Terjangkau, SDGs 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDGs 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, serta SDGs 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim. Hal ini juga mendukung Asta Cita ke-2 melalui penguatan kemandirian energi dan ekonomi hijau serta Asta Cita ke-5 melalui pengembangan hilirisasi dan industrialisasi.

Sejalan dengan semangat UPER Berdampak, pengembangan riset dan inovasi menjadi bagian penting dalam menjawab tantangan transisi energi. Sebab, energi bersih yang berkelanjutan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menghasilkan listrik rendah emisi, tetapi juga oleh kemampuan mengelola material dan teknologi yang digunakan hingga akhir masa pakainya.


Referensi:
Heath, G. A., Silverman, T. J., Kempe, M., et al. (2020). Research and development priorities for silicon photovoltaic module recycling to support a circular economy. Nature Energy, 5, 502–510. https://doi.org/10.1038/s41560-020-0645-2

Institute for Essential Services Reform (IESR). (n.d.). Pengelolaan limbah panel surya di Indonesia. https://iesr.or.id/infografis/pengelolaan-limbah-panel-surya-di-indonesia/

Badan Riset dan Inovasi Nasional. (2026, 20 Oktober). BRIN dan Swinburne University of Technology kembangkan riset daur ulang limbah panel surya. https://www.brin.go.id/news/130964/brin-dan-swinburne-kembangkan-riset-daur-ulang-limbah-panel-surya

Progresia, N. P. P. (2026, 26 Agustus). Risiko penumpukan limbah panel surya di tengah transisi energi, bagaimana mengatasinya? Green Network Asia. https://greennetwork.id/ikhtisar/risiko-penumpukan-limbah-panel-surya-di-tengah-transisi-energi-bagaimana-mengatasinya/

Thumbnail
Bagikan:
Bagikan ke WhatsApp
Bagikan ke Facebook
Bagikan ke X
Bagikan ke Telegram
Bagikan ke LinkedIn

Tinggalkan Balasan
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalan UU ITE

© 2026 Universitas Pertamina.
All rights reserved