ID / EN
Berita Populer

Apakah Semua Gunung Api Bisa Jadi Sumber Listrik? Kenali Syarat Pemanfaatannya


Published by: Universitas Pertamina Jumat, 16 Oktober 2026
Dibaca: 24 kali
Indonesia dikenal sebagai negara dengan potensi energi panas bumi (geothermal) yang melimpah karena berada di kawasan Cincin Api Pasifik atau Ring of Fire. Berdasarkan publikasi Pambudi dan Ulfa (2024) dalam jurnal Renewable and Sustainable Energy Reviews, potensi energi panas bumi Indonesia diperkirakan mencapai 29,5 gigawatt (GW), merujuk pada laporan Indonesia Energy Transition Outlook 2022. Potensi tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan sumber daya panas bumi terbesar di dunia. Namun, besarnya potensi tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan untuk menghasilkan energi listrik.

Meski demikian, tidak semua gunung api dapat dimanfaatkan sebagai sumber listrik. Keberadaan gunung api aktif maupun bekas aktivitas vulkanik memang dapat mengindikasikan adanya sumber panas di bawah permukaan bumi. Akan tetapi, pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) membutuhkan kondisi geologi tertentu agar energi panas tersebut dapat diekstraksi secara optimal dan berkelanjutan.

Tidak Cukup Hanya Memiliki Aktivitas Vulkanik

Pembangkit listrik tenaga panas bumi bekerja dengan memanfaatkan panas dari dalam bumi untuk menghasilkan uap atau fluida panas yang digunakan menggerakkan turbin dan generator. Proses ini membutuhkan tiga komponen utama, yaitu sumber panas (heat source), reservoir, dan fluida panas bumi.

Sumber panas umumnya berasal dari intrusi magma atau batuan bersuhu tinggi di bawah permukaan. Reservoir merupakan lapisan batuan yang memiliki pori atau rekahan untuk menyimpan dan mengalirkan fluida. Sementara itu, fluida berupa air berperan menyerap panas dan membawanya menuju sumur produksi. Sistem ini juga memerlukan batuan penudung (cap rock) yang relatif kedap untuk mempertahankan akumulasi fluida panas di dalam reservoir.

Empat Syarat Gunung Api Berpotensi Menghasilkan Listrik

Terdapat beberapa aspek penting yang menentukan kelayakan suatu kawasan gunung api untuk dikembangkan menjadi sumber energi listrik. 

1. Memiliki sumber panas yang memadai

Temperatur bawah permukaan harus cukup tinggi untuk menghasilkan fluida panas atau uap dalam jumlah yang dapat dimanfaatkan. Kedekatan dengan aktivitas magma dapat menjadi salah satu indikasi, tetapi distribusi dan temperatur panas tetap perlu dibuktikan melalui survei eksplorasi.

2. Memiliki reservoir yang produktif

Batuan reservoir harus mempunyai porositas dan permeabilitas yang memadai agar mampu menyimpan serta mengalirkan fluida panas. Batuan yang terlalu padat atau tidak memiliki rekahan yang saling terhubung dapat menghambat produksi energi.

3. Tersedia fluida dan lapisan penudung

Air merupakan komponen penting dalam sistem panas bumi karena berfungsi sebagai media pembawa panas. Selain itu, lapisan batuan penudung diperlukan untuk menjaga akumulasi fluida dan tekanan di dalam reservoir.

4. Layak secara teknis, ekonomi, dan lingkungan

Potensi panas bumi harus didukung hasil eksplorasi yang menunjukkan sumber daya dapat diproduksi secara berkelanjutan. Aspek pembiayaan, infrastruktur, risiko geologi, keselamatan kerja, serta perlindungan lingkungan dan masyarakat juga menjadi pertimbangan sebelum pembangunan PLTP dilakukan.

Peran Geofisika dalam Menemukan Potensi Panas Bumi

Untuk mengetahui apakah suatu kawasan gunung api memiliki potensi panas bumi, diperlukan serangkaian penyelidikan bawah permukaan. Salah satu bidang ilmu yang berperan penting dalam proses tersebut adalah geofisika.

Melalui metode geofisika, kondisi bawah permukaan bumi dapat dipelajari tanpa harus melakukan pengeboran di seluruh area penelitian. Metode magnetotellurik (MT), misalnya, digunakan untuk memetakan variasi resistivitas batuan yang membantu mengidentifikasi struktur sistem panas bumi, termasuk zona reservoir dan batuan penudung. Metode gravitasi dan magnetik juga dapat digunakan untuk memahami struktur geologi serta karakteristik batuan di bawah permukaan.

Hasil survei geofisika kemudian dikombinasikan dengan data geologi dan geokimia untuk membangun model konseptual sistem panas bumi. Model tersebut menjadi dasar dalam menentukan lokasi pengeboran eksplorasi sekaligus memperkirakan potensi sumber daya yang dapat dimanfaatkan.

Dalam kajiannya, Pambudi dan Ulfa (2024) juga menyoroti bahwa pengembangan panas bumi menghadapi berbagai tantangan, mulai dari ketidakpastian sumber daya, tingginya kebutuhan pembiayaan eksplorasi, perubahan kebijakan, hingga risiko sosial dan lingkungan. Oleh karena itu, penguasaan teknologi eksplorasi dan pemahaman karakteristik bawah permukaan menjadi faktor penting untuk mengurangi ketidakpastian dalam pengembangan proyek geothermal.

Teknik Geofisika, Kompetensi Strategis untuk Masa Depan Energi

Pengembangan energi panas bumi membutuhkan dukungan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi dalam memahami karakteristik bumi dan teknologi eksplorasi. Hal ini sejalan dengan kajian Pambudi dan Ulfa (2024) yang menekankan pentingnya pendidikan, termasuk pendidikan tinggi, dalam mendukung keberlanjutan pengembangan geothermal di Indonesia.

Melalui Program Studi Teknik Geofisika Universitas Pertamina (UPER), mahasiswa mempelajari prinsip-prinsip kebumian, karakteristik fisik batuan, metode eksplorasi geofisika, serta pemanfaatan teknologi untuk mengidentifikasi potensi sumber daya alam. Kompetensi tersebut relevan dengan berbagai sektor, termasuk eksplorasi panas bumi, minyak dan gas bumi, pertambangan, serta mitigasi bencana geologi.

Pengembangan panas bumi juga sejalan dengan arah Asta Cita pemerintah dalam memperkuat ketahanan energi dan mendorong kemandirian bangsa melalui pengembangan energi baru dan terbarukan. Upaya ini turut mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan 7 tentang Energi Bersih dan Terjangkau serta Tujuan 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim. Dengan dukungan riset, inovasi teknologi, dan sumber daya manusia yang kompeten, potensi panas bumi Indonesia dapat dioptimalkan sebagai bagian dari transisi menuju sistem energi yang lebih berkelanjutan.

Tertarik berkontribusi dalam pengembangan energi masa depan Indonesia? Kenali lebih jauh Program Studi Teknik Geofisika Universitas Pertamina dan persiapkan diri menjadi bagian dari generasi ahli kebumian yang berperan dalam eksplorasi sumber daya energi. Informasi lengkap mengenai program studi dan penerimaan mahasiswa baru dapat diakses melalui halaman Pendaftaran Universitas Pertamina.

Sumber:
- Kementerian ESDM – Data Potensi Panas Bumi Indonesia 2026. 
https://www.esdm.go.id/en/media-center/news-archives/kejar-potensi-panas-bumi-nomor-satu-dunia-bahlil-minta-pengembang-tak-tahan-konsesi
- Badan Geologi – Panduan Pemanfaatan Panas Bumi (2025).
https://geologi.esdm.go.id/index.php/media-center/guidelines-for-direct-geothermal-utilization
- ESDM – Handbook of Energy and Economic Statistics of Indonesia 2025
https://www.esdm.go.id/en/publikasi/handbook-of-energy-economic-statistics-of-indonesia-HEESI
- Pambudi & Ulfa (2024) – Renewable and Sustainable Energy Reviews. 
https://doi.org/10.1016/j.rser.2023.114008

Foto: theconversation.com

Thumbnail
Bagikan:
Bagikan ke WhatsApp
Bagikan ke Facebook
Bagikan ke X
Bagikan ke Telegram
Bagikan ke LinkedIn

Tinggalkan Balasan
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalan UU ITE

© 2026 Universitas Pertamina.
All rights reserved