ID / EN
Berita Populer

Bagaimana Panas Bumi Menghasilkan Energi? Kenali Bedanya dengan Minyak Bumi


Published by: Universitas Pertamina Senin, 19 Oktober 2026
Dibaca: 15 kali
Minyak bumi dan panas bumi sama-sama berasal dari bawah permukaan bumi. Namun, keduanya memiliki proses pembentukan dan cara pemanfaatan yang berbeda. Minyak bumi terbentuk dari material organik yang mengalami perubahan akibat proses geologi selama jutaan tahun. Sementara itu, panas bumi memanfaatkan energi panas alami dari dalam bumi yang tersimpan pada batuan dan fluida di bawah permukaan.

Minyak bumi dan panas bumi sama-sama berasal dari bawah permukaan bumi. Namun, keduanya memiliki proses pembentukan dan cara pemanfaatan yang berbeda. Minyak bumi terbentuk dari material organik yang mengalami perubahan akibat proses geologi selama jutaan tahun. Sementara itu, panas bumi memanfaatkan energi panas alami dari dalam bumi yang tersimpan pada batuan dan fluida di bawah permukaan.

Potensi panas bumi Indonesia mencapai sekitar 23,2 gigawatt (GW). Namun, berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada Agustus 2026, kapasitas terpasang pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) baru mencapai 2,78 GW atau sekitar 11,6 persen dari total potensinya. Besarnya potensi tersebut membuka peluang pengembangan panas bumi sebagai salah satu sumber energi nasional.

Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, diperlukan teknologi yang mampu mengakses dan mengelola sumber daya di bawah permukaan. Di sinilah keterkaitan antara panas bumi dan ilmu Teknik Perminyakan terlihat. Pengeboran, pemahaman karakteristik batuan, serta pengelolaan fluida dan reservoir merupakan aspek penting dalam pengembangan kedua sumber energi tersebut. Dengan demikian, kompetensi yang selama ini identik dengan industri minyak dan gas bumi juga memiliki peran dalam mendukung pemanfaatan energi panas bumi.

Energi Fosil dan Energi Terbarukan, Apa Perbedaannya?

Minyak bumi termasuk energi fosil yang terbentuk dari sisa organisme purba. Karena proses pembentukannya membutuhkan waktu sangat panjang, ketersediaannya bersifat terbatas. Minyak bumi dimanfaatkan sebagai bahan bakar maupun bahan baku industri, tetapi pembakarannya menghasilkan emisi gas rumah kaca.

Berbeda dengan minyak bumi, panas bumi atau geothermal memanfaatkan panas yang tersimpan di dalam bumi. Panas tersebut dapat digunakan untuk menghasilkan listrik maupun memenuhi kebutuhan panas secara langsung. Panas bumi tergolong energi terbarukan, meskipun pemanfaatannya tetap memerlukan pengelolaan reservoir yang tepat agar sumber daya dapat digunakan secara berkelanjutan.

Bagaimana Panas Bumi Menghasilkan Listrik?

Pada wilayah dengan kondisi geologi yang sesuai, air dapat meresap melalui rekahan batuan dan terpanaskan oleh batuan bersuhu tinggi. Fluida panas tersebut terakumulasi di reservoir panas bumi.

Untuk memanfaatkannya, para ahli terlebih dahulu melakukan eksplorasi guna mempelajari kondisi geologi dan potensi bawah permukaan. Setelah lokasi dinilai layak, sumur dibor untuk mengakses reservoir. Fluida panas atau uap kemudian dialirkan ke permukaan melalui sumur produksi.

Pada sistem flash steam, air panas bertekanan tinggi mengalami penurunan tekanan sehingga sebagian berubah menjadi uap. Uap tersebut digunakan untuk memutar turbin yang terhubung dengan generator. Sementara itu, sistem binary cyclememanfaatkan panas fluida geothermal untuk memanaskan fluida sekunder yang kemudian menggerakkan turbin.

Setelah panasnya dimanfaatkan, fluida dapat dikembalikan ke bawah permukaan melalui sumur injeksi. Reinjeksi menjadi bagian dari pengelolaan fluida dan tekanan reservoir.

Pengeboran Minyak dan Panas Bumi: Sama atau Berbeda?

Pengeboran minyak dan panas bumi sama-sama dilakukan untuk mengakses sumber daya bawah permukaan, tetapi memiliki tujuan berbeda. Dalam industri migas, pengeboran ditujukan untuk menemukan dan memproduksi hidrokarbon yang tersimpan di batuan reservoir. Sementara itu, pengeboran panas bumi dilakukan untuk mengakses fluida panas atau sistem bawah permukaan yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi.

Keduanya memerlukan pemahaman mengenai kondisi batuan, desain sumur, tekanan, aliran fluida, serta keselamatan dan integritas sumur. Namun, temperatur tinggi dan karakteristik fluida panas bumi dapat menghadirkan tantangan teknis tersendiri.

Kesamaan prinsip tersebut memperlihatkan keterkaitan keilmuan Teknik Perminyakan dengan pengembangan panas bumi. Pengetahuan mengenai pengeboran, reservoir, dan produksi fluida dapat menjadi bekal untuk memahami berbagai sumber energi, dengan penyesuaian terhadap karakteristik masing-masing sistem.

Dari Sumur Minyak ke Energi Panas Bumi

Pemanfaatan panas bumi tidak selalu harus dimulai dengan pengeboran sumur baru. Penelitian Sui dan rekan-rekan (2019) dalam Journal of Petroleum Exploration and Production Technology mengkaji potensi penggunaan sumur minyak dan gas yang telah ditinggalkan untuk mengambil energi panas dari bawah permukaan.

Dalam kajian tersebut, salah satu pendekatan yang dibahas adalah pemasangan sistem penukar panas di dalam sumur lama. Fluida kerja dialirkan ke bagian bawah sumur untuk menyerap panas dari batuan di sekitarnya, kemudian dibawa kembali ke permukaan melalui pipa bagian dalam. Panas yang diperoleh dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan energi.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa kinerja sistem dipengaruhi oleh sejumlah faktor, seperti temperatur bawah permukaan, laju sirkulasi fluida, desain sumur, dan kemampuan isolasi pipa dalam mempertahankan panas. Artinya, pemanfaatan sumur lama tidak hanya bergantung pada keberadaan sumur, tetapi juga pada rancangan teknis dan kondisi geologinya.

Kajian tersebut memperlihatkan peluang penerapan keilmuan Teknik Perminyakan dalam pengembangan energi panas bumi. Meski demikian, setiap sumur perlu dievaluasi terlebih dahulu dari sisi kondisi teknis, keamanan, dan kelayakan ekonomi sebelum dapat dimanfaatkan kembali.

Teknik Perminyakan dan Energi Masa Depan

Di Program Studi Teknik Perminyakan Universitas Pertamina, mahasiswa mempelajari bidang seperti Teknik Pengeboran, Teknik Reservoir, serta Produksi dan Manajemen Migas. Pengetahuan mengenai kondisi bawah permukaan, pengeboran, dan aliran fluida relevan untuk memahami tantangan pengembangan panas bumi. 

Pengembangan panas bumi sejalan dengan SDG 7: Energi Bersih dan Terjangkau serta Asta Cita ke-2, yang mendorong kemandirian energi nasional dan pengembangan ekonomi hijau. Selaras dengan itu, semangat UPER Berdampak mendorong pemanfaatan ilmu pengetahuan, riset, dan inovasi untuk menjawab tantangan sektor energi.

Bagi generasi muda yang tertarik pada industri energi, memahami hubungan antara minyak bumi, panas bumi, dan teknologi bawah permukaan dapat menjadi langkah awal mengenali peluang energi masa depan. Kenali Program Studi Teknik Perminyakan Universitas Pertamina dan pelajari bagaimana ilmu pengeboran serta rekayasa reservoir dapat berperan dalam mendukung masa depan energi Indonesia.
Referensi:

Institute for Essential Services Reform (IESR). 2024. Mengenal Energi Fosil, Energi Baru, dan Energi Terbarukan: Apa Perbedaannya? 

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Energi Panas Bumi Ramah terhadap Lingkungan Sekitar.

Sui, W., et al. 2019. Review and Investigations on Geothermal Energy Extraction from Abandoned Petroleum Wells.Journal of Petroleum Exploration and Production Technology, 9, 1135–1147. https://doi.org/10.1007/s13202-018-0535-3




Thumbnail
Bagikan:
Bagikan ke WhatsApp
Bagikan ke Facebook
Bagikan ke X
Bagikan ke Telegram
Bagikan ke LinkedIn

Tinggalkan Balasan
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalan UU ITE

© 2026 Universitas Pertamina.
All rights reserved