ID / EN
Berita Populer

Apa yang Membuat Kebakaran Lahan Gambut Sulit Dipadamkan?


Published by: Universitas Pertamina Senin, 5 Oktober 2026
Dibaca: 14 kali
Kebakaran lahan gambut bukan sekadar persoalan api yang membakar vegetasi di permukaan tanah. Di balik asap yang terlihat, kebakaran dapat terus berlangsung di lapisan bawah tanah dan menyebar secara perlahan. Kondisi inilah yang membuat kebakaran lahan gambut lebih sulit dideteksi, dikendalikan, dan dipadamkan dibandingkan kebakaran pada lahan mineral.

Indonesia memiliki ekosistem gambut yang luas dan tersebar di berbagai wilayah, terutama Sumatera, Kalimantan, dan Papua. Data Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat luas lahan gambut nasional mencapai sekitar 13,4 juta hektare, sementara data Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) versi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan angka yang lebih besar, yakni sekitar 24,2 juta hektare. Luasnya ekosistem gambut tersebut menjadikan pengelolaannya penting, terutama karena karakteristik gambut yang menyimpan banyak material organik membuatnya memiliki fungsi ekologis sekaligus rentan terbakar ketika mengalami kekeringan (Pantau Gambut, 2026).

Mengapa Api di Lahan Gambut Sulit Dipadamkan?

Salah satu karakteristik utama gambut adalah kandungan bahan organiknya yang tinggi. Gambut terbentuk dari akumulasi sisa tumbuhan yang mengalami proses penguraian secara tidak sempurna dalam kondisi jenuh air selama ribuan tahun. Ketika kondisi gambut tetap basah, material organik tersebut relatif sulit terbakar. Sebaliknya, ketika gambut mengalami kekeringan, material organik di dalamnya dapat menjadi bahan bakar.

Persoalan menjadi semakin kompleks ketika tinggi muka air tanah turun akibat musim kemarau atau perubahan tata air. Lapisan gambut yang mengering dapat terbakar bukan hanya di permukaan, tetapi juga di bawah tanah.
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menjelaskan bahwa pada kebakaran bawah permukaan, api dapat menjalar melalui lapisan gambut. Pada gambut yang lebih matang, penjalaran api dapat membentuk pola seperti sumur, sedangkan pada gambut yang masih mentah, api dapat menjalar melalui lorong sehingga penyebarannya lebih cepat. Karena berada di bawah permukaan, api juga tidak selalu terlihat dari jauh.

Inilah salah satu alasan mengapa menyiram bagian permukaan yang terlihat terbakar belum tentu membuat kebakaran gambut benar-benar selesai. Air perlu mencapai bagian gambut yang terbakar hingga kondisi material kembali jenuh. Dalam prosedur pengendalian kebakaran gambut, proses pemadaman juga perlu dilanjutkan dengan mopping-up untuk memastikan tidak ada bara atau titik api yang kembali menyala.

Kondisi Cuaca Ikut Menentukan

Selain karakteristik gambut, faktor cuaca turut memengaruhi tingkat kesulitan penanganan kebakaran hutan dan lahan. BMKG menggunakan sejumlah indikator untuk memantau potensi karhutla, salah satunya Drought Code (DC). Indikator ini menggambarkan tingkat kekeringan bahan organik padat pada lapisan bawah permukaan tanah. Semakin tinggi nilainya, semakin kering kondisi bahan organik dan semakin besar potensi kebakaran bertahan.

Pada 2026, kondisi kering menjadi perhatian karena pengaruh El Niño. Dalam pemantauan BMKG pada September 2026, titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi masih banyak terdeteksi di sejumlah wilayah. Pada 13 September 2026, konsentrasi titik panas tertinggi tercatat di Kalimantan sebanyak 627 titik, disusul Papua dan Maluku sebanyak 200 titik, Sulawesi 104 titik, serta Sumatra 86 titik. BMKG juga menjelaskan bahwa kondisi atmosfer yang kering dapat membuat kebakaran bertahan lebih lama, terutama di lahan gambut karena api dapat menjalar ke lapisan bawah permukaan tanah.

Karena itu, penanganan kebakaran gambut tidak cukup hanya dilakukan setelah api muncul. Pencegahan melalui pemantauan kondisi cuaca, pengelolaan tata air, pemeliharaan kelembapan gambut, serta deteksi dini menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko.

Tidak Hanya Memadamkan, tetapi Mencegah

Salah satu pendekatan penting dalam pengelolaan gambut adalah menjaga agar ekosistem tetap basah. KLHK menyebutkan bahwa upaya rewetting atau pembasahan kembali gambut dapat membantu menjaga kestabilan tinggi muka air tanah sekaligus mengurangi risiko dekomposisi bahan organik dan kebakaran.

Artinya, persoalan kebakaran gambut tidak dapat dipandang hanya sebagai persoalan pemadaman api. Ada aspek hidrologi, kualitas udara, perubahan iklim, tata guna lahan, teknologi pemantauan, hingga pengelolaan sumber daya yang perlu dipertimbangkan secara bersamaan.

Di sinilah ilmu Teknik Lingkungan memiliki peran penting. Pengelolaan lingkungan membutuhkan pendekatan berbasis sains dan teknologi untuk memahami sumber risiko, mencegah pencemaran, mengendalikan dampak, sekaligus merancang sistem pengelolaan yang berkelanjutan.

Belajar Mengatasi Persoalan Lingkungan dari Perspektif Teknik

Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Pertamina (UPER) membekali mahasiswa dengan kemampuan dalam perancangan teknologi, rekayasa proses, serta pengelolaan sistem untuk mencegah dan mengendalikan berbagai risiko lingkungan. Pembelajaran juga mencakup pengelolaan sumber daya, pencemaran, teknologi lingkungan, hingga pembangunan berkelanjutan.

Pendekatan tersebut relevan dengan berbagai persoalan seperti kebakaran lahan gambut. Mahasiswa tidak hanya diajak memahami apa yang terjadi pada lingkungan, tetapi juga mempelajari bagaimana persoalan tersebut dapat dianalisis dan ditangani melalui pendekatan rekayasa.

Kurikulum Teknik Lingkungan UPER juga mengintegrasikan student-centered learning dan project-integrated learning, termasuk proyek terintegrasi berbasis lingkungan. Pendekatan ini memberikan ruang bagi mahasiswa untuk menghubungkan pengetahuan akademik dengan persoalan nyata serta mengembangkan kemampuan merumuskan solusi secara terintegrasi.

Upaya tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 13: Climate Action melalui penguatan kapasitas dalam menghadapi perubahan iklim dan SDG 15: Life on Land melalui upaya perlindungan ekosistem daratan. Dari sisi pembangunan nasional, pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan juga sejalan dengan Asta Cita ke-8, yaitu memperkuat penyelarasan kehidupan yang harmonis dengan lingkungan, alam, dan budaya.

Melalui semangat UPER Berdampak, pengetahuan dan teknologi tidak berhenti di ruang kelas, tetapi diarahkan untuk menjawab persoalan nyata yang dihadapi masyarakat dan lingkungan. Persoalan kebakaran gambut menunjukkan bahwa Indonesia membutuhkan generasi yang mampu menggabungkan pemahaman sains, teknologi, dan pengelolaan lingkungan untuk menghadirkan solusi yang berkelanjutan.

Bagi calon mahasiswa yang tertarik pada isu lingkungan, perubahan iklim, pengelolaan sumber daya, dan teknologi untuk menyelesaikan persoalan ekologis, Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Pertamina dapat menjadi ruang untuk mengembangkan kompetensi tersebut. Jadi, sudah siap belajar, berkarya, dan menjadi bagian dari solusi lingkungan masa depan? Daftarkan dirimu dan bergabung bersama Universitas Pertamina.

Referensi:
Pantau Gambut. (2026). Puzzle Peta yang Saling Tabrak. https://pantaugambut.id/kabar/puzzle-peta-yang-saling-tabrak 

BMKG. (2026). Prakiraan Cuaca Indonesia Sepekan Periode 15–21 September 2026: Atmosfer Kering Mendominasi, Karhutla dan Asap Meluas, Tetap Waspada Hujan Lokal dan Angin Kencang di Sebagian Wilayah Indonesia. https://www.bmkg.go.id/cuaca/potensi-hujan-sepekan/prakiraan-cuaca-indonesia-sepekan-periode-15-21-september-2026-atmosfer-kering-mendominasi-karhutla-dan-asap-meluas-tetap-waspada-hujan-lokal-dan-angin-kencang-di-sebagian-wilayah-indonesia 

Thumbnail
Bagikan:
Bagikan ke WhatsApp
Bagikan ke Facebook
Bagikan ke X
Bagikan ke Telegram
Bagikan ke LinkedIn

Tinggalkan Balasan
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalan UU ITE

© 2026 Universitas Pertamina.
All rights reserved