ID / EN
Berita Populer

Sering Dianggap Berbahaya, Ternyata Sampah Ini Bisa Bikin Ayam Tumbuh Lebih Sehat


Published by: Universitas Pertamina Rabu, 1 Juli 2026
Dibaca: 21 kali
Di tempat pembuangan sampah, ada satu cairan berwarna gelap yang hampir selalu dianggap sebagai limbah berbahaya: air lindi (leachate). Cairan yang terbentuk dari rembesan sampah organik ini identik dengan bau menyengat, pencemaran tanah, hingga kandungan logam berat yang berpotensi membahayakan lingkungan.

Namun, bagaimana jika limbah yang selama ini dihindari justru bisa diubah menjadi produk yang bermanfaat?

Inilah yang ditunjukkan dalam sebuah penelitian yang melibatkan peneliti dari Program Studi Kimia Universitas Pertamina. Melalui pendekatan kimia dan pengolahan limbah, limbah cair organik berhasil dimanfaatkan menjadi produk protein imun (protim) yang membantu meningkatkan pertumbuhan ayam pedaging.

Mengenal Leachate yang Dianggap Berbahaya Bagi Lingkungan

Leachate atau air lindi terbentuk ketika air hujan atau cairan dari sampah organik meresap melalui tumpukan sampah. Dalam proses tersebut, berbagai senyawa ikut larut dan menghasilkan cairan dengan komposisi yang beragam.

Air lindi dapat mengandung senyawa organik, seperti hidrokarbon, asam lemak, dan fenol, serta unsur hara berupa nitrogen, fosfor, dan kalium. Apabila berasal dari tempat pembuangan dengan sampah yang tercampur, air lindi juga berpotensi mengandung logam berat, seperti besi, mangan, seng, kadmium, hingga merkuri.

Kandungan yang beragam inilah yang membuat air lindi tidak dapat langsung dimanfaatkan. Tanpa pengolahan yang tepat, senyawa toksik dan logam berat di dalamnya dapat membahayakan manusia, hewan, serta lingkungan.

Bagaimana Rekaya Kimia Dapat Membuat Limbah Menjadi Produk Bernilai?

Kuncinya terletak pada pemilihan bahan dan cara mengolahnya. Cairan yang digunakan tidak berasal dari tumpukan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), melainkan dari sampah organik, seperti sayur, buah, dan sisa makanan yang telah dipisahkan dari sampah anorganik. Sampah tersebut kemudian dicacah dan dipres hingga menghasilkan cairan yang dapat diolah lebih lanjut.

Melalui proses formulasi, cairan organik tersebut dipadukan dengan ekstrak tanaman keluarga Zingiberaceae atau temu-temuan, minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO), lemak sapi, dan air kelapa tua. Kombinasi ini menghasilkan protein imun atau protim, produk yang dikembangkan untuk membantu meningkatkan daya tahan tubuh hewan ternak.

Pemilihan bahan-bahan tersebut bukan tanpa alasan. CPO, misalnya, mengandung beta-karoten dan vitamin E yang berperan sebagai antioksidan. Kandungan ini membantu melindungi sel dari radikal bebas sekaligus mendukung metabolisme ayam selama masa pertumbuhan. Sementara itu, tanaman temu-temuan mengandung senyawa fitokimia yang memiliki aktivitas biologis dan dapat membantu menjaga kondisi tubuh ternak.

Air kelapa turut melengkapi formulasi sebagai sumber mineral dan elektrolit, sedangkan lemak hewani menyediakan asam lemak yang dibutuhkan sebagai sumber energi dan mendukung pembentukan jaringan tubuh. Dengan menggabungkan bahan-bahan yang memiliki fungsi berbeda, cairan dari sampah organik yang semula dianggap tidak berguna dapat diolah menjadi salah satu bahan pembentuk produk yang memiliki nilai guna.

Benarkah Ayam Tumbuh Lebih Baik?

Untuk melihat pengaruhnya, protim diberikan sebagai tambahan dalam air minum ayam broiler. Pertumbuhan ayam tersebut kemudian dibandingkan dengan ayam yang dipelihara tanpa tambahan protim. Hasilnya, perbedaan mulai terlihat pada pertumbuhan dan kondisi fisik ayam.

Pada usia panen 35 hari, ayam yang memperoleh protein imun memiliki bobot:
  • 2.732 gram
  • 2.670 gram
  • 2.458 gram
Sementara kelompok tanpa protein imun hanya mencapai:
  • 1.749 gram
  • 2.238 gram
  • 2.338 gram

Selain bobot yang lebih tinggi, peneliti juga mengamati ayam yang memperoleh protein imun memiliki konsumsi pakan yang lebih efisien serta pertumbuhan bulu yang relatif lebih sedikit sehingga energi lebih banyak diarahkan untuk pembentukan massa tubuh.

Pengolahan Limbah yang Mendukung Ekonomi Sirkular

Temuan ini menunjukkan bahwa limbah tidak selalu harus berakhir sebagai sumber pencemaran. Melalui pendekatan kimia, bahan yang semula dianggap tidak bernilai dapat diubah menjadi produk baru yang memiliki manfaat ekonomi sekaligus mendukung pengurangan limbah organik.

Konsep seperti ini sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular, yaitu memanfaatkan kembali sumber daya agar memiliki nilai tambah, mengurangi volume limbah yang dibuang ke lingkungan, dan membuka peluang inovasi berbasis sains.

Meski demikian, peneliti juga menegaskan bahwa keamanan tetap menjadi aspek utama. Air lindi yang digunakan harus berasal dari limbah organik yang telah dipilah dengan baik dan melalui proses pengolahan yang memadai. Pengujian kandungan logam berat maupun uji toksisitas tetap diperlukan sebelum produk dapat diaplikasikan secara lebih luas.

Inilah Pentingnya Belajar Kimia

Banyak orang mengenal kimia hanya sebagai pelajaran tentang rumus dan reaksi di laboratorium. Padahal, ilmu kimia memiliki peran yang jauh lebih luas dalam menjawab berbagai persoalan nyata, mulai dari pengolahan limbah, pengembangan pangan, kesehatan, energi, hingga keberlanjutan lingkungan.

Riset ini menjadi salah satu contoh bagaimana pemahaman terhadap sifat-sifat senyawa kimia mampu mengubah limbah yang sebelumnya dipandang sebagai masalah menjadi inovasi yang berpotensi memberikan manfaat bagi sektor peternakan dan lingkungan.

Melalui riset-riset seperti ini, Program Studi Kimia Universitas Pertamina menunjukkan bahwa ilmu kimia tidak hanya berfokus pada reaksi di laboratorium, tetapi juga berperan dalam menciptakan solusi inovatif bagi berbagai tantangan nyata, mulai dari pengelolaan limbah, pengembangan material, kesehatan, hingga ketahanan pangan. Dengan menggabungkan pemahaman tentang senyawa kimia, analisis laboratorium, dan pendekatan keberlanjutan, mahasiswa didorong untuk menghasilkan inovasi yang mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat dan industri.

Inovasi pemanfaatan limbah cair organik menjadi produk bernilai tambah ini juga sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 9: Industry, Innovation and Infrastructure melalui pengembangan teknologi berbasis riset, SDG 12: Responsible Consumption and Production melalui optimalisasi limbah menjadi sumber daya yang bermanfaat, serta SDG 2: Zero Hunger dengan mendukung produktivitas sektor peternakan secara lebih efisien dan berkelanjutan.

Tertarik mempelajari bagaimana ilmu kimia dapat melahirkan berbagai inovasi yang berdampak bagi kehidupan? Bergabunglah bersama Program Studi Kimia Universitas Pertamina dan jadilah bagian dari generasi ilmuwan yang berkontribusi dalam menciptakan solusi untuk masa depan yang lebih berkelanjutan. Informasi lengkap mengenai pendaftaran mahasiswa baru dapat diakses melalui laman Penerimaan Mahasiswa Baru Universitas Pertamina.

Referensi: 
Bahri, S., Berghuis, N. T., Ambarwati, Y., Sari, R., & Nurfaradina, Z. A. (2025). Utilization of Organic Waste into Immunity Protein Products and Its Application in Broiler Chicken Growth. Stannum: Jurnal Sains dan Terapan Kimia, 7(1), 25-36. 

Thumbnail
Bagikan:
Bagikan ke WhatsApp
Bagikan ke Facebook
Bagikan ke X
Bagikan ke Telegram
Bagikan ke LinkedIn

Tinggalkan Balasan
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalan UU ITE

© 2026 Universitas Pertamina.
All rights reserved